0



Seorang ayah yang sangat peduli dengan kehormatan dan kesucian putri-putrinya juga kaum muslimah umumnya, menulis untaian nasihat yang sarat dengan makna, nasihat dari seorang ayah yang tulus yang tidak menginginkan keburukan terjadi pada setiap putri muslimah, inilah nasihatnya . . .
Putriku tercinta! Aku seorang yang telah berusia hampir 50 tahun. Ilang sudah masa remaja, impian dan khayalan. Aku telah banyak mengunjungi banyak negeri, dan berjumpa dengan banyak orang. Aku juga telah merasakan pahit getirnya dunia. Oleh karena u dengarlah nasihat-nasihatku yang benar lagi jelas, berdasarkan pengalamanku, yang engkau belum pernah mendengarnya dari orang lain.
Kami telah menulis dan mengajak kepada kebaikan moral, menghapus kejahatan dan mengekang hawa nafsu, sampai pena tumpul dan mulut letih, dan kami tidak menghasilkan apa-apa. Kemunkaran tidak dapat kami berantas, bahkan semakin bertambah, kerusakan telah mewabah, para wanita keluar dengan pakaian merangsang, terbuka baian lengan, betis dan lehernya.
Kami belum menemukan cara untuk memperbaiki, kami belum tahu jalannya. Sesungguhnya jalan kebaikna itu ada di depanmu, putriku! Kuncinya berada di tanganmu. Benar bahwa lelakilah yang memulai langkah pertama dalam lorong dosa, tetapi bila engkau tidak setuju, laki-laki itu tidak akan berani, dan andaikata bukan karena lemah gemulaimu, laki-laki tidak akan bertambah parah.
Engkaulah yang membuka pintu, kau katakan kepada si pencuri itu, “Silakan masuk…” ketika dia telah mencuri, engkau berteriak, “Maling…! Tolong…tolong…saya kemalingan.” Demi Allah, dalam khayalan seorang pemuda tak melihat gadis kecuali gadis itu telah dia telanjangi pakaiannya.
Demi Allah…begitulah, jangan engkau percaya apa yang dikatakan laki-laki, bahwa dia tidak akan melihat gadis kecuali akhlak dan budi bahasanya. Dia akan berbicara kepadamu sebagai seorang sahabat. Demi Allah…dia telah berbohong! Senyuman yang diberikan pemuda kepadamu, kehalusan budi bahasa dan perhatian, semua itu tidak lain hanyalah merupakan perangkap rayuan! Setelah itu apa yang terjadi?
Apa, wahai putriku? Coba kau pikirkan! Kalian berdua sesaat berada dalam kenikmatan, kemudian engkau ditinggalkan, dan engkau selamanya tetap akan merasakan penderitaan akibat kenikmatan itu. Pemuda tersebut akan mencari mangsa yang lain untuk diterkam kehormatannya, dan engkaulah yan menanggung beban kehamilan dalam perutmu. Jiwamu menangis, keningmu tercoreng, selama hidupmu engkau akan tetap berkubang dalam kehinaan dan aib, masyarakat tidak akan mengampunimu selamanya.
Bila engkau bertemu dengan pemuda, kau palingkan muka, dan menghindarinya. Apabila pengganggumu erbuat lancang lewat perkataan atau tangan yang usil, kau lepaskan sepatu dari kakimu lalu kau lemparkan ke kepalanya, bila semua ini engkau lakukan, maka semua orang di jalan akan membelamu.
Setelah itu anak-anak nakal itu takkan mengganggu gadis-gadis lagi. Apabila anak laki-laki itu menginginkan kebaikan maka dia akan mendatangi orang tuamu untuk melamar. Cita-cita wanita tertinggi adalah perkawinan. Wanita, bagaimanapun juga status sosial, kekayaan, popularitas dan prestasinya, sesuatu yang sangat didamba-dambakannya adalah menjadi seorang istri yang baik serta ibu rumah tangga yang terhormat.
Tak ada seorang pun yang mau menikahi pelacur, sekalipun dia lelaki hidung belang, apabila akan menikah tidak akan memilih wanita jalang (nakal), akan tetapi dia akan memilih wanita yang baik karena dia tidak rela bila ibu rumah tangga dan ibu putra-putrinya adalah seorang wanita amoral. Sesunggauhnya krisis perkawinan terjadi disebabkan kalian kaum wanita! Krisis perkawinan terjadi karena disebabkan perbuatan wanita-wanita asusila, sehingga para pemuda tidak membutuhkan istri, akibatnya banyak para gadis yang berusia cukup untuk menikah tidak mendapatkan suami. Mengapa wanita-wanita yang baik tidak juga sadar? Mengapa kalian tidak berusaha memberantas malapetaka ini? Kalianlah yang lebih patut dan lebih mampu daripada kaum laki-laki untuk melakukan usaha itu karena kalian telah mengerti bahasa wanita dan cara menyadarkan mereka, dan oleh karena yang menjadi korban kerusakan ini adalah kalian, para wanita mulia dan beragama.
Maka hendaklah kalian mengajak mereka agar bertakwa kepada Allah, bila mereka tidak mau bertakwa, peringatkanlah mereka akan akibat yang buruk dari perzinaan seperti terjangkitnya suatu penyakit. Bila mereka masih membangkang maka beritahukan akan kenyataan yang ada, katakan kepada mereka, “Kalian adalah gadis-gadis remaja putri yang cantik, oleh karena itu banyak pemuda mendatangi kalian dan berebut di sekitar kalian, akan tetapi apakah keremajaan dan kecantikan itu akan kekal? Semua makhluk di dunia ini tidak ada yan kekal. Bagaimana kelanjutannya, bila kalian sudah menjadi nenek dengan punggung bungkuk dan wajah keriput? Saat itu, siapakah yang akan memperhatikan? Siapa yang akan bersimpati?”
Taukah kalian, siapa yang akan memperhatikan menghormati dan mencintai seorang nenek? Mereka adalah anak dan para cucunya, saat itulah nenek tersebut menjadi seorang ratu di tengah rakyatnya. Duduk di atas singgasana dengan memakai mahkota, tetapi bagaimana denan nenek lainnya, yang masih belum bersuami itu? Apakah kelezatan itu sebanding dengan penderitaan di atas? Apakah akibat itu akan kita tukar engan kelezatan sementara?
Dan berilah nasihat-nasihat yang serupa, saya yakin kalian tidak perlu petunjuk orang lain serta tidak kehabisan cara untuk menasihati saudari-saudari yang sesat dan patut dikasihani. Bila kalian tidak dapat mengatasi mereka, berusahalah untuk menjaga wanita-wanita baik, gadis-gadis yang sedang tumbuh, agar mereka tidak menempuh jalan yang salah.
Saya tidak minta kalian untuk mengubah secara drastis mengembalikan wanita kini menjadi kepribadian muslimah yang benar, akan tetapi kembalilah ke jalan yang benar setapak demi setapak sebagaimana kalian menerima kerusakan sedikit demi sedikit.
Perbaikan tersebut tidak dapat diatasi hanya dalam waktu sehari atau dalam waktu singkat, melainkan dengan kembali ke jalan yang benar dari jalan yang semula kita lewati menuju kejelekan walaupun jalan itu sekarang telah jauh, tidak menjadi soal, orang tidak mau menempuh jalan panjang yang hanya satu-satunya ini tidak akan pernah sampai. Kita mulai dengan memberantas pergaulan bebas, kalaupun seorang wanita membuka wajahnya tidak berarti dia boleh bergaul dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Istri tanpa tutup wajah bukan berarti dia boleh menyambut kawan suamidi rumahnya, atau menyalaminya bila bertemu di kereta, bertemu di jalan, atau seorang gadis menjabat tangan kawan pria di sekolah, berbincang-bincang, berjalan seiring, belajar bersama untuk ujian, dia lupa baha Allah menjadikannya sebagai wanita dan kawannya sebagai pria, satu sama lain bisa salng terangsang. Baik wanita, pria, atau seluruh penduduk dunia tidak akan mampu mengubah ciptaan Allah, menyamakan dua jenis atau menghapus rangsangan seks dari dalam jiwa mereka.
Mereka ang menggembor-gemborkan emansipasi dan pergaulan bebas atas kemajuan adalah pembohong dilihat dari dua sebab:
Pertama, karena itu semua mereka lakukan untuk kepuasan pada diri mereka, memberikan kenikmatan-kenikmatan melihat anggota badan yang terbuka dan kenikmatan-kenikmatan lain yang mereka bayangkan. Akan tetapi mereka tidak berani berterus terang, oleh karena itu mereka bertopeng dengan kalimat yang mengagumkan yang sama sekali tidak ada artinya, kemajuan, modernisasi, kehidupan kampus, dan ungkapan-ungkapan yang lain yang kosong tanpa makna bagaikan gendang.
Kedua, mereka bohong oleh karena mereka bermakmum pada Eropa, menjadikan Eropa bagaikan kiblat, dan mereka tidak dapat memahami kebenaran kecuali apa-apa yang datang dari sana, dari Paris, London, Berlin dan New York. Sekalipun berupa dansa, porni, pergaulan bebas di sekolah, buka aurat di lapangan dan telanjang di pantai atau di kolam renang. Kebatilan menurut mereka adalah sesuatu yang datangnya dari timur, sekolah-sekolah Islam dan masjid-masjid, walaupun berupa kehormatan, kemuliaan, kesuciaan dan petunjuk. Kata mereka, pergaulan bebas itu dapat mengurangi nafsu birahi, mendidik watak dan dapat menekan libido seksual, ntuk menjawab ini saya limpahkan pada mereka yang telah mencoba pergaulan bebas di sekolah-sekolah, seperti Rusia yang tidak beragama, tidak pernah mendengar para ulama dan pendeta. Bukankah mereka telah meninggalkan percobaan ini setelah melihat bahwa hal ini amat merusak? Saa tidak berbicara dengan para pemuda, saya tidak ingin mereka mendengar, saya tahu, mungkin mereka akan menyanggah dan mencemooh saya karena telah menghalangi mereka untuk memperoleh kenikmatan-kenikmatan dan kelezatan, akan tetapi saya berbicara kepada kalian, putri-putriku, wahai putriku yang beriman dan beragama! Putriku yang terhormat dan terpelihara ketahuilah bahwa yang menjadi korban semua ini bukan orang lain kecuali engkau.
Oleh karena itu jangan berikan diri kalian sebagai korban iblis, jangan dengarkan ucapan mereka yang merayumu dengan pergaulan yang alasannya hak asasi, modernisme, emansipasi dan kehidupan kampus. Sungguh kebanyakan orang yang terkutuk ini tidak beristri dan tidak memiliki anak, mereka sama sekali tidak peduli dengan kalian selain untuk pemuas kelezatan sementara. Sedangkan saya adalah seorang ayah dari empat gadis. Bila saya membela kalian, berarti saya membela putri-putriku sendiri. Saya ingin kalian bahagia seperti saya inginkan untuk putri-putriku. Sesungguhnya tidak ada yang mereka inginkan selain memerkosa kehormatan wanita, kemuliaan yang tercela tidak akan bisa kembali, begitu juga martabat yang hilang tidak akan dapat diketemukan kembali.
Bila anak putri jatuh, tak seorang pun di antara mereka mau menyingsing lengan untuk membangunkannya dari lembah kehinaan, yang engkau dapati mereka hanya memperebutkan kecantikan si gadis, apabila telah berubah dan hilang, mereka pun lalu pergi menelantarkan, persisnya seperti anjing meninggalkan bangkai yang tidak tersisa daging sedikit pun.
Inilah nasihatku padamu, putriku. Inilah kebenaran. Selain ini jangan percaya. Sadarlah bahwa ditanganmulah, bukan di tangan kami kaum laki-laki, kunci perbaikan. Bila mau perbaikilah diri kalian, dengan demikian umat pun akan menjadi baik. Wallahul musta’an.
*Disarikan dari buku Ya Ibnati oleh Ali Thanthawi terakhir diperbaharui. (Thursday, 14 Decembe

Dikirim pada 24 Januari 2011 di curhat





A. PENGERTIAN DAKWAH

Secara etimologi kata dakwah sebagai bentuk masdar dari kata yang artinya adalah memanggil, mengundang, mengajak, menyeru, mendorong dan memohon.[1]

Dengan demikian secara etimologi penertian dakwah itu merupakan suatu proses penyampaian (tabligh) pesan-pesan tertentu yang berupa ajakan atau seruan dengan tujuan agar orang lain memenuhi ajakan tersebut.

Secara terminologi, menurut Muhammad Nasir, dakwah adalah usaha menyerukan dan menyampaikan kepada perorangan manusia dan seluruh umat tentang pandangan dan tujuan hidup manusia di dunia ini yang meliputi amar ma’ruf nahi munkar, dengan berbagai macam media dan cara yang diperoleh akhlak dan membimbing pengalamannya dalam perikehidupan perseorangan, berumah tangga, bermasyarakat dan bernegara.[2]

Dakwah (amar ma’ruf nahi munkar) merupakan kewajiban bagi umat islam, hal ini tercantum dalam al-Quran :
Dan hendaklah ada diantaramu segolongan umat yang mengajak pada kebaikan dan memerintah yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran. Mereka adalah orang-orang yang bahagia. (QS.Ali Imran: 110)[3]

Hal ini sesuai dengan hadis nabi; “Barangsiapa yang melihat kemunkaran, maka ubahlah dengan tangannya (bila mampu). Bila tak mampu, maka ubahlah (berantaslah) dengan lidahnya, yaitu memberinya peringatan yang baik, boleh keras juga boleh lemah, asal melihat mana yang bermanfaat untuk agama). Apabila masih tidak mampu, maka cukup (benci) di hati. Dan itulah iman yang paling lemah.” (H.R.Muslim)[4]



B. FILM

Film adalah gambar hidup, juga sering disebut movie (semula pelesetan untuk ‘berpindah gambar’). Film secara kolektif, sering disebut sinema. Gambar hidup adalah bentuk seni, bentuk populer dari hiburan, dan juga bisnis.

Film dihasilkan dengan rekaman dari orang dan benda (termasuk fantasi dan figur palsu) dengan kamera, dan/atau oleh animasi.[5]

Terdapat unsur-unsur dalam sebuah film,diantaranya:
1. Title / judul
2. Crident title, meliputi: produser, karyawan, artis, ucapan terima kasih, dll
3. Tema film
4. Intrik, yaitu usaha pemeranan film untuk mencapai tujuan
5. Klimaks, yaitu benturan antar kepentingan
6. Plot (alur cerita)
7. Suspen atau keterangan, masalah yang masih terkatung-katung
8. Milon / setting / latar belakang terjadinya peristiwa, masa / waktu, bagian kota, perlengkapan, aksesoris, dan fesyen yang disesuaikan
9. Sinopsis, yaitu untuk memberi ringkasan atau gambaran dengan cepat kepada orang yang berkepentingan
10. Trailer, yaitu bagian film yang menarik
11. Character, yaitu karakteristik pelaku-pelakunya.

Jika sebuah film akan dibuat, maka ada struktur yang penting untuk dicermati, yaitu:
1. Pembagian cerita (scene)
2. Pembagian adegan (squene)
3. Jenis pengambilan gambar (shoot)
4. Pemilihan adegan pembuka (opening)
5. Alur cerita dan contuinity
6. Intrigue meliputi jealousy, pengkhianatan, rahasia bocor, tipu muslihat,dll
7. Anti klimaks, penyelesaian masalah
8. Ending, pemilihan adegan penutup.

Terdapat jenis-jenis film yang diklasifikasikan sebagai berikut;
1. Drama, adalah suatu kejadian atau peristiwa hidup yang hebat, mengandung konflik pergolakan, clash atau benturan antara dua orang atau lebih. Sifat drama: romance, tragedy dan komedi
2. Realisme, adalah film yang mengandung relevansi dengan kehidupan keseharian
3. Film sejarah, melukiskan kehidupan tokoh tersohor dan peristiwanya
4. Film perang, menggambarkan peperangan atau situasi di dalamnya atau setelahnya
5. Film futuristik, menggambarkan masa depan secara khayali
6. Film anak, mengupas kehidupan anak-anak
7. Cartoon, cerita bergambar yang mulanya lahir di media cetak. Yang diolah sebagai cerita bergambar, bukan saja sebagai story board melainkan gambar yang sanggup bergerak dengan teknik animation atau single stroke operation
8. Adventure, film pertarungan, tergolong film klasik
9. Crime story, pada umumnya mengandung sifat-sifat heroik.
10.Film seks, menampilkan erotisme
11.Film mister / horor, mengupas terjadinya fenomena supranatural yang menimbulkan rasa wonder, heran, takjub dan takut.[6]


C. FILM ADALAH MEDIA DAKWAH YANG EFEKTIF

Pada masa kehidupan Nabi Muhammad saw, media yang paling banyak digunakan adalah media audiatif; yakni menyampaikan dakwah dengan lisan. Namun tidak boleh dilupakan bahwa sikap dan perilaku Nabi juga merupakan media dakwah secara visual yaitu dapat dilihat dan ditiru oleh objek dakwah. Sejarah dakwah kemudian mencatat bukan hanya perkembangan materi dan objek dakwah, melainkan juga mencari media-media dakwah yang efektif. Ada berupa media visual, audiatif, audio visual, bukukoran, koran,radio, televisi, drama dan sebagainya.[7] Termasuk juga internet dan film.

Film hadir dalam bentuk penglihatan dan pendengaran. Melalui pendengaran dan penglihatan inilah, film memberikan pengalaman-pengalaman baru kepada para penonton. Pengalaman itu menyampaikan berbagai nuansa perasaan dan pemikiran kepada penonton. Selanjutnya, film sebagai media komunikasi dapat berfungsi pula sebagai media dakwah, yaitu media untuk mengajak kepada kebenaran dan kembali menginjakkan kaki di jalan Allah. Film juga tidak terkesan menggurui. Film mempunyai kelebihan bermain pada sisi emosional, ia mempunyai pengaruh yang lebih tajam untuk memainkan emosi pemirsa. Berbeda dengan buku yang memerlukan daya fikir aktif, penonton film cukup bersikap pasif. Hal ini dikarenakan film adalah sajian siap untuk dinikmati.

Film dengan latar kebudayaan dan misi teologi Islam sangat diharapkan. Sekalipun tentunya, bukan hanya sekedar representasi kehidupan muslim, akan tetapi bisa jadi film-film yang mengajak dunia untuk memahami, menghormati, menepis citra buruk dan selanjutnya, mengundang simpatik, mendorong untuk mengambil tindakan berbuat baik, lebih-lebih mengikuti jejak teologinya.

Bagi dunia muslim khususnya, yang memiliki karakteristik budaya tersendiri yang dalam beberapa aspek berbeda dengan budaya lain—untuk memperkenalkan diri sebagai sebuah entitas budaya kepada dunia lain di luar dunia muslim—film akan menjadi semakin penting sebagai media yang dapat menyampaikan gambaran mengenai budaya muslim, paling tidak untuk menghindari benturan dengan budaya dan peradaban lain. Dan film dapat dijadikan sebagai duta.[8]
[1] Siti muriah, Metodologi Dakwah Kontemporer, Cet.I, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000), h.1
[2] Ibid., h.3
[3] Departemen Agama, Al-Quran
[4] Abu Zakariya Yahya bin Syarif An-Nawawi, Terjemah Riyadhush Sholihin, Jilid.I, (Surabaya: Al-Hidayah, 1997), h.269
[5] www.wikipedia.com
[6] Aep Kusnawan et. al., Komunikas dan Penyiaran Islam, (Bandung: Benang Merah, tt), h.100-101
[7] Wafyah dan Awaludin Pimay, Sejarah Dakwah, Cet.I, (Semarang: RaSAIL, 2005), h.13
[8] Aep Kusnawan et. al., Op.Cit., 96

Dikirim pada 24 Januari 2011 di Dakwah-Komunikasi



Manajemen (management) secara harfiyah artinya mengatur atau mengelola. Encyclopedia Americana mengartikan manajemen sebagai“The art of coordinating the elements of factors of production towards the achievement of the purposes of an organization“. Pencapaian sasaran organisasi terjadi melalui peng-gunaan manusia (men), bahan produksi (materials), dan mesin (machines). Hakikat manajemen adalah “proses koordinasi berbagai sumberdaya” organisasi (men, materials, machines) dalam upaya mencapai sasaran organisasi. Pers adalah lembaga penerbitan media massa cetak, seperti suratkabar, tabloid, majalah, dan buku. Dalam bahasa Inggris, pers (press) berarti mesin pencetak, mencetak, orang-orang yang terlibat dalam kepenulisan atau produksi berita, menekan, dan sebagainya.
Dalam Leksikon Komunikasi, pers punya banyak arti, seperti usaha percetakan atau penerbitan; usaha pengumpulan atau penyiaran berita; penyiaran berita melaui media massa; dan orang-orang yang bergerak dalam penyiaran berita. Ada pula pendapat, pers merupakan singkatan dari persuratkabaran.
Manajemen pers adalah proses pengelolaan berupa koordinasi unsur-unsur terkait dalam penerbitan pers (media massa, utamanya media cetak). Pembahasan manajemen pers di bawah ini mengacu pada konsep fungsi manajemen dari Henry Fayol, yaitu Planning, Organizing, Acting, dan Controlling (POAC).
Planning artinya perencanaan, yakni penyusunan atau penetapan tujuan dan aturan. Organizing artinya pengorganisasian berupa pembentukan bagian-bagian, pembagian tugas, atau pengelompokkan kerja. Acting artinya pelaksanaan rencana. Controling adalah pengawasan dan evaluasi hasil kerja.
Planing
· Persiapan SDM serta sarana dan prasarana (men, materials, machines).
· Penyusunan atau penetapan visi, misi, nama, logo, moto, rubrikasi, positioning, editorial policy, stylebook, model/desain cover, desain halaman, pemilihan jenis huruf, dan sebagainya.
· Penyusunan rencana pemasaran (iklan, sirkulasi, promosi), termasuk strategi penjualan, distribusi, dan sebagainya.
Organizing
· Pembentukan struktur organisasi pers (redaksi, pemasaran/tata usaha, dan percetakan/produksi).
· Pembagian tugas atau job description masing-masing bagian.
Acting
· Semua bagian bekerja sesuai perencanaan dan pengorganisasian yang telah disusun.
· Bidang redaksi melakukan tahapan dalam news processing: news planning, hunting/gathering, writing, editing, layouting, lalu dilimpahkan pada bagian produksi atau percetakan.
Controlling
· Pengawasan dan evaluasi hasil mengacu pada visi, misi, style book, kode etik jurnalistik, dan tata tertib.
· Pemberiam penghargaan dan hukuman (reward and punishment) terhadap wartawan/karyawan.



Dakwah adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah Subhaanahu wa taala sesuai dengan garis aqidah, syariat dan akhlak Islam. Kata dakwah merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja daa yadu yang berarti panggilan, seruan atau ajakan.
Tujuan utama dakwah ialah mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat yang diridai oleh Allah. Nabi Muhammad SAW mencontohkan dakwah kepada umatnya dengan berbagai cara melalui lisan, tulisan dan perbuatan. Dimulai dari istrinya, keluarganya, dan teman-teman karibnya hingga raja-raja yang berkuasa pada saat itu. Di antara raja-raja yang mendapat surat atau risalah Nabi SAW adalah kaisar Heraklius dari Byzantium, Mukaukis dari Mesir, Kisra dari Persia (Iran) dan Raja Najasyi dari Habasyah (Ethiopia).
Memasuki zaman global seperti saat sekarang ini, pola dakwah bit at-Tadwin (dakwah melalui tulisan) baik dengan menerbitkan kitab-kitab, buku, majalah, internet, koran, dan tulisan-tulisan yang mengandung pesan dakwah sangat penting dan efektif.
Keuntungan lain dari dakwah model ini tidak menjadi musnah meskipun sang dai, atau penulisnya sudah wafat. Menyangkut dakwah bit-Tadwim ini Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya tinta para ulama adalah lebih baik dari darahnya para syuhada".

Dikirim pada 24 Januari 2011 di Dakwah-Komunikasi




Umar bin Abdul Aziz dilahirkan di kota Hulwan, tidak jauh dari Kairo, ketika itu ayahnya yang jadi gubernur di Mesir. Tetapi Ibnu Abdil Hakam meriwayatkan bahwa Umar dilahirkan di Madinah. Silsilah keturunannya dari pihak ibunya, bersambung kepada Khalifah yang kedua, Umar bin Khattab. Sebab itu ia telah mewarisi daripadanya banyak sifat-sifat yang mulia dan jarang tandingannya. Bahkan dimasa kecilnya ia tinggal bersama paman-pamannya ibunya di Madinah. Dalam suasana yang semerbak itulah ia mempelajari bimbingan-bimbingan dan pendapat-pendapat yang sehat, dan disana pulalah ia bertumbuh dengan baiknya. Pendidikan yag diperolehnya dalam masa tersebut mempunyai pengaruh yang besar terhadap sifat-sifatnya yang istimewa dan terpuji itu.
Setelah ia meningkat remaja, ia kawin dengan Fathimah, putri Abdul Malik, pamannya sendiri. Pamannya ini dimasa hidupnya amat mencintainya. Dimasa pemerintahan Khalifah Al-Walid, Umar menjadi gubernur di Madinah. Disana ia mendapatkan reputasi yang baik.
Umar pernah dipecat oleh Khalifah Al-Walid dari jabatannya sebagai gubernur Madinah, karena terjadi perselisihan antara Umar dan Al-Hajjaj, atau karena umar tidak menyetujui tindakan Al-Walid untuk memecat Sulaiman bin Abdul Malik dari kedudukannya sebagai putra-mahkota, dan untuk mengangkat putra Al-Walid sendiri.
‘Umar adalah salah seorang dari khalifah-khalifah yang sedikit jumlahnya, yang dikejar oleh jabatan itu, walaupun mereka tidak mengharapkannya atau berusaha untuk mendapatkannya, bahkan ia ingin sekali untuk menjauhkan diri daripadanya. Umar melihat bahwa jabatan tersebut merupakan suatu ujian yang amat berat baginya.
Khalifah Sulaiman mempunyai seorang putra yang bernama Ayyub, dan dialah yang dicalonkan oleh Sulaiman untuk menjadi Khalifah sesudahnya. Tetapi sayang, ia meninggal lebih dahulu daripada ayahnya. Dan ketika Sulaiman sakit, ia minta nasihat kepada wazirnya – Raja’ ibnu Haiwah – tentang siapakah yang patut ditunjuk untuk menjadi khalifah sesudahnya. Sulaiman menanyakan pendapat Raja’ tentang Umar bin Abdul Aziz. Raja’ menyatakan pujiannya atas pribadi Umar, dan menganjurkan kepada Sulaiman untuk mengangkat Umar sebagai penggantinya.
Ketika dinobatkan sebagai khalifah, dia menyatakan bahwa memperbaiki dan meningkatkan negeri yang berada dalam wilayah Islam lebih baik daripada menambah perluasannya. Ini berarti bahwa prioritas utama adalah pembangunan dalam negeri. Meskipun masa pemerintahannya sangat singkat, di berhasil membangun hubungan baik dengan golongan Syi’ah. Dia juga memberi kebebasan kepada penganut agama lain untuk beribadah sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya. Pajak diperingan. Kedudukan mawali disejajarkan dengan muslim Arab.
Jabatannya sebagai Khalifah itu telah membagi kehidupan Umar menjadi dua bagian. Bagian pertama, kehidupan yang diliputi oleh kecongkakan, nyanyian-nyanyian, wangi-wangian dan kekayaan, serta serba neka dari gejala kemuliaan dan kekuasaan. Bagian kedua, yaitu kehidupan yang penuh dengan kepahitan dan perjuangan. Kehidupan yang serupa itu memang lazim dialami oleh raja-raja. Tetapi biasanya kehidupan yang pahit, getir dan penuh dengan penderitaan itu mereka alami sebelum menjadi raja. Dan setelah menduduki singgasana dapatlah mengenyam kenikmatan dan kebahagiaan hidup. Lain halnya dengan Umar bin Abdul Aziz ini. Di sebaliknya dari itu. Kehidupannya sebelum menjadi Khalifah penuh kebahagiaan dan kekayaan. Tetapi setelah menjadi Khalifah maka kehidupannya penuh dengan perjuangan, kesederhanaan dan kerja berat.105
Umar turunan Bani Umayyah; ayahnya Abdul Aziz bin Marwan, pamannya Khalifah agung Abdul Malik bin Marwan, sedang isterinya Fatimah binti Abdul Malik, saudara dari Al-Walid. Dari saluran ini ia beroleh rezeki yang baik serta mengenal dan mengenyam kehidupan dalam istana. Ia dididik dan dibesarkan dalam suasana yang penuh kenikmatan dan kemakmuran hidup. Harta kekayaannya berlimpah-limpah, sehingga ia memiliki tanah-tanah perkebunan di Hejaz, syam, Mesir, Yaman dan Bahrain. Dari sana ia beroleh penghasilan besar, sebanyak 40.000 dinar setiap tahun.
Dalam menjalankan kekuasaannya itu, ia mencampakkan seluruh cara hidup para raja seperti yang dilakukan oleh keluarga dan nene moyangnya, dan memilih bagi dirinya kehidupan yang hampir menyerupai kehidupan para khulafaur-rasyidin. Dan ia pun mengembalikan semua harta milik yang telah diwarisinya sendiri dengan cara yang tidak sah menurut syari’at, sehingga sampai-sampai ia mengembalikan perhiasan isterinya ke dalam baitul-maal. Dan dari jumlah 40.000 dinar yang menjadi penghasilannya setiap tahun, ia hanya mengambil bagi dirinya sebanyak 400 dinar setahun yang dimilikinya secara sah.
Adapun tanah-tanah yang dirampas, dan yang tak ada arsipnya, oleh Umar dinyatakan bahwa tanah-tanah tersebut dikembalikan kepada pemiliknya. Jika pemiliknya tak ada atau tidak diketahui, maka tanah itu dikembalikan ke Baitulmal.
Demikian pula ia telah memecat pejabat-pejabat dan petugas-petugasnya yang zalim dan menunjuk di tempat mereka orang-orang yang adil dan salih, serta menghapus pajak-pajak tidak sah yang tadinya dipungut dari rakyat oleh Bani Umayyah, dan ia membatalkan kewajiban membayar jizyah yang mereka tetapkan atas orang-orang yang baru masuk Islam dan mengirim perintah-perintahnya yang keras kepada para hakim agar tidak seorang pun, muslim atau non-muslim, didera walaupun hanya sekali tanpa haq dan agar tidak seorang pun dihukum dengan hukuman mati atau potong tangan sebelum menanyakan kepadanya dan meminta saran kepadanya.
Umar menghentikan peperangan-peperangan yang sedang dilancarkan terhadap golongan-golongan yang bukan Islam, atau terhadap kaum pembangkang dan pemberontak dalam kalangan kaum muslimin sendiri. Kemudian dilaksanakannya Dakwah Islamiyah kepada golongan-golongan yang bukan Islam itu, dengan menggunakan hikmah-kebijaksanaan serta pelajaran dan nasihat-nasihat yang baik. Terhadap kaum pembangkang dan Khawarij, maka Umar menundukkan mereka dengan dalil-dalil dan keterangan-keterangan yang dapat memuaskan hati mereka. Umar benar-benar telah mencapai sukses besar dalam kedua bidang usahanya itu. Ia berhasil dalam dakwahnya mengajak orang-orang yang belum Islam itu dengan menggunakan hikmah-kebijaksanaan serta pelajaran dan nasihat-nasihat yang baik. Terhadap kaum pembangkang dan Khawarij, maka Umar menundukkan mereka denagn dalil-dalil dan keterangan-keterangan yang dapat memuaskan hati mereka. Umar benar-benar telah mencapai sukses besar dalam kedua bidang usahanya itu. Ia berhasil dalam dakwahnya mengajak orang-orang yang belum Islam itu untuk masuk ke dalam agama Islam. Dan ia juga beroleh sukses dalam diskusi dan perdebatan dengan kaum pemberontak dalam kalangan kaum muslimin sendiri. Riwayat hidupnya yang harum semerbak itu merupakan pembantu yang baik baginya untuk mencapai kemenangannya itu, hingga akhirnya raja-raja masuka agama Islam berkat dakwah yang dilakukan Umar, dan kemudian diikuti oleh rakyat mereka. Begitu pula banyak penduduk Mesir, Siria dan Persia masuk Islam, yang sebelum itu belum lagi menganut agama islam, walaupun agama Islam itu telah masuk ke negeri mereka, karena sudah merasa puas dengan status mereka sebagai ahluzzimmi dengan kewajiban membayar jizyah. Kemudian mereka tertarik dengan sifat toleransi Umar untuk menganut agama Islam. Dan hal ini adalah salah satu sebab yang menjadikan masa pemerintahan Umar dikenal pula dengan sebutan “masa Islamnya negeri-negeri yang ditaklukkan”.
Umar mengurangi beban pajak yang biasa dipungut dari orang-orang Nasrani. Dan ia menghentikan pemungutan jizyah dari orang-orang yang masuk Islam di antara mereka. Maka berbondong-bondonglah mereka masuk Islam, karena penghargaan mereka yang tinggi terhadap agama Islam dan terhadap Umar pribadi, dan juga karena ingin bebas dari kewajiban membayar jizyah.
Umar menyamaratakan antara bangsa Arab dan yang bukan Arab, sebagaimana yang dikehendaki oleh syariat Islam. Dengan tindakan ini Umar telah berhasil mengatasi dan menghabisi masalah mawali yang sering dibicarakan dengan panjang lebar oleh para ahli sejarah.
Salah satu dari perbaikan-perbaikan yang dilakukan Umar ialah perbaikan tanah-tanah pertanian, penggalian sumur-sumur dan pembangunan jalan-jalan dan menyediakan tempat-tempat penginapan bagi orang-orang yang dalam perjalanan. Umar juga memberikan perhatian yang besar terhadap orang-orang miskin yang sangat memerlukan pertolongan, dan orang-orang sakit. Ia juga memperbaiki masjid-masjid, tetapi ia tidak begitu mementingkan segi keindahan masjid-masjid tersebut.
Perbaikan-perbaikan yang dilakukan Umar juga meliputi dinas pos. dinas pos itu diberinya tugas tidak hanya membawa berita-berita resmi dari para gubernur dan pegawai-pegawai kepada Khalifah saja, bahkan juga untuk meladeni kepentingan rakyat. Umar memerintahkan kepada pegawai pos supaya menerima semua surat-surat yang diserahkan orang kepadanya, untuk disampaikan kepada yang berhak.
Adalah wajar bahwa para gubernur juga mengikuti tindak-tanduk Khalifah Umar. Ia telah memilih mereka dengan cermat, dan mengawasi pekerjaan mereka dengan teliti. Adapun siasat Umar terhadap gubernur-gubernurnya, antara lain ialah menaikkan gajih mereka, sehingga gaji seorang gubernur di masa itu ada yang sampai 3000 dinar.
Umar meninggal dunia tatlkala badannya menjadi kurus, karena terlalu banyak mencurahkan tenaganya, dan terlalu mengekang nafsunya sampai hidupnya menderita.
Versi lain menyebutkan bahwa Umar wafat karena diracun dimakanan oleh kaum Umayyah.



Referensi:
Abul a’la al-maududi, Khilafah dan Kerajaan, Bandung: Mizan, tt
Dr.Badri Yatim, MA, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006
Dr.Yusuf al-qaradhawi, Distorsi Sejarah Islam, Cet.I, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2005
Prof.Dr.A.Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jilid 2, Cet.IV, Jakarta: Al-Husna Zikra, 2000
W.Montgomery watt, Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis, Cet.I, Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1990

Dikirim pada 24 Januari 2011 di Sejarah (history)




1. Muhammad Abduh

Muhammad Abduh (Arab: محمد عبده) (Delta Nil, 1849 - Alexandria, 11 Juli 1905) adalah seorang Mesir ahli hukum, ulama reformis dan liberal, yang dianggap sebagai pendiri Modernisme Islam. Muhammad Abduh lahir pada tahun 1849 dalam sebuah keluarga petani di Mesir Hilir. Ia dididik oleh guru privat dan qari dari Quran. Pada tahun 1862 dia dimasukkan ke sekolah agama yang ada di Thantha, tetapi nampaknya kurang tertarik. Karena itu dia keluar dari sekolah tersebut dan masuk kembali pada tahun 1865. Tetapi pada tahun berikutnya dia meninggalkan Thantha dan belajar di Al-Azhar, Kairo. Di Al-azhar perhatian abduh terpusat pada pelajaran tasawuf dan kehidupan sufi. Dalam tahun 1872, Abduh berkenalan dengan Al-afghani, dan darinya dia belajar melihat islam dan ajaran islam dari kacamata yang baru. Al-Afghani memperkenalkan kepadanya karya-karya penulis barat yang telah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa arab, serta tentang masalah-masalah politik dan social yang tengaah dihadapi oleh rakyat mesir sendiri maupun umat islam pada umumnya. Kemudian Abduh menjadi salah satu pengikut al-afghani yang setia. Atas pengaruh Al-Afghani lah abduh belajar jurnalistik, yang terus dipraktekkannya.
Menurut Abduh, untuk dapat memulihkan kejayaan umat islam harus kembali kepada ajaran Islam yang masih murni seperti yang dulu diamalkan oleh generassi Islam yang pertama (Salafiyah). Selain itu umat islam juga perlu bersatu untuk melawan kezaliman penguasa, lebih-lebih terhadap imperialis dan kolonialis barat. Namun pendidikan juga sangat diperlukan untuk mengembalikan kejayaan islam dan tidak ada salahnya bila kita belajar dari barat yang lebih unggul dalam bidang ilmu, teknologi dan organisasi.
Pada tahun 1877 Abduh menyelesaikan pendidikannya di Al-azhar dengan gelar saarjana Alim. Pada tahun 1879 dia diangkat menjadi pengajar di Dar al-Ulum, tetapi pada tahun itu juga diberhentikan dengan alasan yang tidak jelas. Sementara itu Al-Afghani diusir dari mesir. Pada tahun 1880 Abduh diangkat menjadi pimpinan majalah resmi Al-Waqa’i al-Misriyah, yang dibawah pimpinannya berubah menjadi corong Partai Liberal. Atas tuduhan terlibat dalam pemberontakkan Urabi Pasha yang gagal, meskipun keterlibatan itu tidak jelas, pada akhir tahun 1882 Abduh diusir dari mesir. Abduh pergi ke Beirut, Libanon, baru kemudian paada tahun 1884 dia menggabungkan diri dengan Al-afghani di Paris. Mereka membentuk oganisasi Al-Urwah al-Wutsqa, dan menerbitkaan majalah yang senama dengan organisasi tersebut., namun majalah tersebut hanya berumur 8 bulan. Dari Paris dia pindah ke Tunisia, tetapi sejak awal tahun 1885 dia menetap di Beirut. Dalam kurun waktu itu Abduh sempat menyalin satu-satunya buku karya tulis Afghani yang cukup berarti, yang berisi sangggahan terhadap pahaam atheisme, dari bahasa Persia ke bahasa Arab.
Pada tahun 1889 Abduh diampuni dan diizinkan kembali ke Mesir, dan tak lama kemudian dia diangkat menjadi hakim pada Tribunaux Indigine (Pengadilan untuk pribumi), dua tahun kemudian diangkat sebagai penasehat Cour d’appel 9Mahkamah Banding). Pada tahun 1899 dia menjadi mufti Negara sampai wafatnya pada tahun 1905.



2. Rasyid Ridha

Sosok intelektual satu ini bernama lengkap Muhammad Rasyid bin Ali Ridha bin Syamsuddin bin Baha�uddin Al-Qalmuni Al-Husaini. Namun, dunia Islam lebih mengenalnya dengan nama Muhammad Rasyid Ridha. Ia lahir di daerah Qalamun (sebuah desa yang tidak jauh dari Kota Tripoli,Lebanon)pada 27Jumadil Awal 1282 H bertepatan dengan tahun 1865 M.
Muhammad Rasyid Ridha dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga terhormat dan taat beragama. Dalam sebuah sumber dikatakan bahwa Rasyid Ridha masih memiliki pertalian darah dengan Husin bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad SAW.
Rasyid Ridha adalah seorang intelektual muslim dari Suriah yang mengembangkan gagasan modernisme Islam yang awalnya digagas oleh Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh. Ridha mempelajari kelemahan-kelemahan masyarakat muslim saat itu, dibandingkan masyarakat kolonialis Barat, dan menyimpulkan bahwa kelemahan tersebut antara lain kecenderungan umat untuk mengikuti tradisi secara buta (taqlid), minat yang berlebihan terhadap dunia sufi dan kemandegan pemikiran ulama yang mengakibatkan timbulnya kegagalan dalam mencapai kemajuan di bidang sains dan teknologi. Ia berpendapat bahwa kelemahan ini dapat diatasi dengan kembali ke prinsip-prinsip dasar Islam dan melakukan ijtihad dalam menghadapi realita modern.
Selain menekuni pelajaran di sekolah tempat ia menimba ilmu, Rasyid Ridha juga rajin mengikuti beberapa perkembangan dunia Islam melalui surat kabar Al-�Urwah Al-Wusqo (sebuah surat kabar berbahasa Arab yang dikelola oleh Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh, dan diterbitkan selama masa pengasingan mereka di Paris). Melalui surat kabar ini, Rasyid Ridha mengenal gagasan dua tokoh pembaru yang sangat dikaguminya, yaitu Jamaluddin Al-Afghani, seorang pemimpin pembaru dari Afghanistan, dan Muhammad Abduh, seorang pembaru dari Mesir. Ide-ide brilian yang dipublikasikan itu begitu berkesan dalam dirinya dan menimbulkan keinginan kuat untuk bergabung dan berguru pada kedua tokoh itu. Keinginan untuk bertemu dengan Al-Afghani ternyata belum tercapai, karena tokoh ini lebih dahulu meninggal dunia. Namun, ketika Muhammad Abduh ke Beirut, Rasyid Ridha berkesempatan berdialog serta saling bertukar ide dengan Abduh. Pertemuan dan dialog dengan Muhammad Abduh semakin menumbuhkan semangat juang dalam dirinya untuk melepaskan umat Islam dari belenggu keterbelakangan dan kebodohannya. Rasyid ridha meyakini kebenaran gerakan Salafiyah yang dipelopori oleh Afghani dan Abduh, dan menariknya sedikit demi sedikit dari ajaran tasawuf tradisional.
Salafiyah adalah suatu aliran keagamaan yang berpendirian bahwa untuk dapat memulihkan kejayaan umat islam harus kembali kepada ajaran Islam yang masih murni seperti yang dulu diamalkan oleh generassi Islam yang pertama, yang biasa juga disebut salaf (pendahulu) yang saleh.
Di Lebanon, Rasyid Ridha mencoba menerapkan ide-ide pembaruan yang diperolehnya. Namun, upayanya ini mendapat tentangan dan tekanan politik dari Kerajaan Turki Usmani yang tidak menerima ide-ide pembaharuan yang dilontarkannya. Akibat semakin besarnya tentangan itu, akhirnya pada 1898, Rasyid Ridha pindah ke Mesir mengikuti gurunya, Muhammad Abduh, yang telah lama tinggal di sana.
Al-Manar adalah majalah mingguan yang diasuh oleh Ridha dan abduh. Antara lain, menyebarkan ide-ide pembaharuan dalam bidang agama, sosial, dan ekonomi, memajukan umat Islam dan menjernihkan ajaran Islam dari segala paham yang menyimpang, serta membangkitkan semangat persatuan umat Islam dalam menghadapi berbagai intervensi dari luar. Dalam perjalanannya majalah ini banyak mendapat sambutan, karena ide-ide pembaharuan yang dilontarkan dalam setiap tulisannya.
Setelah menerbitkan majalah Al-Manar, Rasyid Ridha juga masih sangat aktif menulis dan mengarang berbagai buku dan kitab. Dia sempat mengajukan saran kepada gurunya agar menafsirkan kitab suci Alquran dengan penafsiran yang relevan dengan perkembangan zaman. Melalui kuliah tafsir yang rutin dilakukan di Universitas Al-Azhar, Rasyid Ridha selalu mencatat ide-ide pembaharuan yang muncul dalam kuliah yang diberikan Muhammad Abduh. Selanjutnya, catatan-catatan itu disusun secara sistematis dan diserahkan kepada sang guru untuk diperiksa kembali. Selesai diperiksa dan mendapat pengesahan, barulah tulisan itu diterbitkan dalam majalah Al-Manar. Kumpulan tulisan mengenai tafsir yang termuat dalam majalah Al-Manar inilah yang kemudian dibukukan menjadi tafsir Al-Manar. Pengajaran tafsir yang dilakukan Muhammad Abduh ini hanya sampai pada surah An-Nisa ayat 125, dan merupakan jilid ketiga dari seluruh Tafsir Al-Manar. Hal ini dikarenakan Muhammad Abduh telah dipanggil kehadirat Allah SWT pada 1905, sebelum menyelesaikan penafsiran seluruh isi Alquran. Maka, untuk melengkapi tafsir tersebut, Rasyid Ridha melanjutkan kajian tafsir sang guru hingga selesai.
Karya-karya yang dihasilkan semasa hidup Rasyid Ridha pun cukup banyak. Antara lain, Tarikh Al-Ustadz Al-Imama Asy-Syaikh �Abduh (Sejarah Hidup Imam Syaikh Muhammad Abduh), Nida� Li Al-Jins Al-Latif (Panggilan terhadap Kaum Wanita), Al-Wahyu Muhammad (Wahyu Allah yang diturunkan kepada Muhammad SAW), Yusr Al-Islam wa Usul At-Tasyri� Al-�Am (Kemudahan Agama Islam dan dasar-dasar umum penetapan hukum Islam), Al-Khilafah wa Al-Imamah Al-Uzma (Kekhalifahan dan Imam-imam besar), Muhawarah Al-Muslih wa Al-Muqallid (dialog antara kaum pembaharu dan konservatif), Zikra Al-Maulid An-Nabawiy (Peringatan Kelahiran Nabi Muhammad saw),dan haquq al-mar’ah as-shalihah (hak-hak wanita muslimah).
Setelah menebarkan kiprah dirinya dalam banyak bidang, pada bulan Agustus tahun 1935, sekembalinya dari Suez setelah mengantarkan Pangeran Su’ud, ia meninggal dunia dan meninggalkan banyak ide-ide pembaruan, yang cukup memberikan pengaruh terhadap generasi selanjutnya.

Dikirim pada 24 Januari 2011 di Sejarah (history)



Richard L.Lanigan membuat analisis filsafat mengenai komunikasi dengan mengemukakan pertanyaan-pertanyaan:

Ø Apa yang aku ketahui? (what do I know?)
Ø Bagaimana aku mengetahuinya? (how do I know?)
Ø Apakah aku yakin? (am I sure?)
Ø Apakah aku benar? (am I right?)

Keeempat pertanyaan diatas berkaitan dengan penyelidikan secara sistematis, studi terhadap metafisika, epistemologi, aksiologi dan logika.


Metafisika (berkaitan dengan ontologi)

Menurut Richard lanigan, metafisika adalah studi tentang sifat dan fungsi teori tentang realita. Berkaitan dengan teori komunikasi, metafisika berkaitan dengan hal-hal berikut:
· Sifat manusia dan hubungannya secara kontekstual dan individual dengan realita dalam alam semesta
· Sifat dan fakta bagi tujuan, perilaku, penyebab dan aturan.
· Problema pilihan, khususnya kebebasan versus determinisme pada perilaku manusia

Aritoteles menyebut ada dua objek metafisika, yaitu:
Ø Ada sebagai yang ada, yang oleh Prof.Dr.Delfgaauw dalam karyanya “metafisika” dijelaskan ciri bahwa ada sebagai yang ada adalah dapat diserapnya oleh pancaindera. Dalam hal ini metafisika juga disebut ontologi.
Ø Ada sebagai yangIllahi adalah keberadaan yang mutlak, yang sama sekali tidak bergantung pada pada yang lain. Berbicara ada yang illahi berarti berbicara tentang suatu ada yang pada dasarnya tidak dapat ditangkap oleh pancaindera, namun dapat dimengerti oleh akal.


Epistemologi

Epistemologi pada dasarnya adalah cara bagaimana pengetahuan disusun dari bahan yang diperoleh yang dalam prosesnya menggunakan metode ilmiah. Metode ilmiah pada dasarnya dilandasi oleh:
· Kerangka pemikiran yang logis
· penjabaran hipotesis yang merupakan deduksi dan kerangka pemikiran
· Verifikasi terhadap hipotesis untuk menguji kebenarannya secara faktual.

Epistemologi merupakan cabang filsafat yang menyelidiki asal, sifat, metode dan batasan pengetahuan manusia (Effendi 193:324)

Lanigan mengatakan bahwa dalam prosesnya yang progresif dari kognisi menuju afeksi yang selanjutnya menuju konasi, epistemologi berpijak pada salah satu atau lebih teori kebenaran. Dalam kamus filsafat disebutkan beberapa teori kebenaran yaitu : teori korespondensi, teori koherensi, teori pragmatik.

Dikenal empat teori kebenaran, sebagai berikut :
1) Teori koherensi; suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar.
2) Teori korespondensi; suatu pernyataan adalah benar jikalau materi yang terkena oleh persyaratan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan itu.
3) Teori pragmatik; suatu pernyataan dianggap benar apabila pernyataan atau konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis bagi kehidupan manusia.


Aksiologi

Aksiologi adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan nilai-nilai seperti etika estetika dan agama. Aksiologi berkaitan dengan cara bagaimana menggunakan ilmu pengetahuan yang secara epistemologi diperoleh dan disusun. Tinjauan terhadap filsafat komunikasi, Richard lanigan mengatakan bahwa aksiologi merupakan studi tentang etika dan estetika. Hal ini berarti aksiologi adalah suatu kajian terhadap apa nilai-nilai manusiawi dan bagaimana cara melembagakannya atau mengekspresikannya. Masalah nilai ini sangat penting bagi seorang komunikator ketika ia mengemas pikirannya sebagai isi pesan dengan bahasa sebagai lambang. Hal ini berkaitan dengan efek yang ditimbulkan oleh pesan tersebut. Karena itulah seorang komunikator haruslah terlebih dahulu melakukan pertimbangan nilai (value judgement) apakah pesan yang akan dikomunikasikan etis atau tidak.


Logika

Logika berkaitan dengan telaah terhadap asas-asas dan metode penalaran secara benar. Menggunakan proses penalaran yaitu proses logika. Karena itulah dalam komunikasi, posisi logika amatlah penting, karena pemikiran yang akan dikomunikasikan kepada orang lain haruslah merupakan keputusan sebagai hasil dari proses berpikir yang logis.

Dikirim pada 24 Januari 2011 di Umum (general)


BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Ali bin Abi Thalib adalah sepupu Rasulullah saw. Beliau adalah anak Abu Thalib, paman Rasul. Beliau juga adalah suami dari Fatimah azZahra, puteri Rasul. Ayah dari Hasan dan Husein, dan dari sinilah berkembang keturunan Rasulullah.
Setelah khalifah Utman terbunuh, terjadilah pergolakan politik. Dan sebagian besar kaum Muslim secara aklamasi memilih serta menunjuk imam Ali sebagai khalifah. Namun ada sebagian golongan yang tidak menyukai diangkatnya Ali sebagai khalifah, karena mereka juga menginginkan tahta tersebut dan khawatir akan musnahnya kenyamanan yang mereka peroleh selama ini apabila Ali menjabat sebagai khalifah. Karena Ali dikenal sebagai orang yang sangat keras dan disiplin serta perhitungan dalam mengeluarkan harta negara. Dalam merealisasikan usahanya, Ali menghadapi banyak tantangan dan peperangan, sebab tidak dapat dipungkiri bahwa gerakan pembaharuan yang dirancangnya dapat merongrong dan menghancurkan keuntungan-keuntungan beberapa pribadi dan kelompok.[1]
Pada mula-mula Ali menghadapi tantangan dari Ummul Mukminin Aisyah ra. dalam perang jamal, perang ini terjadi karena pihak Aisyah menuntut bela atas pembunuhan Utsman bin Affan, sedangkan faktor internnya adalah hasutan dari keponakan Aisyah yang juga menginginkan tahta kekhalifahan. Maka terjadilah peperangan antar saudara ini.
Kemudian majulah Muawiyah dan pengikutnya menentang pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Maka mereka pun bertemu dalam perang Shiffin antar laskar Ali bin Abi Thalib dan laskar Muawiyah.
Selain perang jamal dan perang shiffin, Ali juga menghadapi tantangan dari pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan oleh kaum khawarij. Maka pada masa pemerintahan kekhalifahan Ali bin Abi thalib banyak diwarnai pergolakan-pergolakan dan peperangan, sehingga pemerintahan Ali pun tidak dapat bertahan lama. Ali wafat terbunuh oleh pemberontak dari kaum khawarij.





BAB II
KHALIFAH ALI BIN ABI THALIB


A. Ali Menjadi Khalifah

Terbunuhnya Amirul Mu’minin, Utsman bin Affan, telah mengakibatkan kekacauan dan kemarahan besar umat islam di Madinah. Hal itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya umat islam khawatir akan terjadi bencana setelah mengetahui bahwa pemegang tampuk pemerintahan kosong. Mereka juga melihat imam Ali bin Abu Thalib adalah sosok yang pas untuk memegang jabatan khalifah setelah Utsman


[3]. Rakyat terbanyak, mereka menanti-nantikan Ali dan menyambutnya dengan tangan terbuka. Oleh karena itu pembai’ahan Ali adalah pembai’ahan dari rakyat terbanyak. Mereka segera datang kepada Ali untuk membai’ah beliau.
Sebagaimana diketahui bahwa musuh Ali itu banyak. Di antaranya ada yang menyembunyikan permusuhan itu, dan ada yang menyatakannya terang-terangan.
Kengkatan Ali dapat ditinjau dari berbagai jurusan. Bahwa yang tiada menyukai Ali diangkat menjadi khalifah, bukanlah rakyat umum yang terbanyak, tetapi segolongan kecil (keluarga Umayyah) yaitu keluarga yang pemuda-pemudanya telah banyak tewas dalam peperangan menantang islam. Sekarang mereka tergolong kaum elite, cabang atas. Mereka menantang Ali karena khawatir, kekayaan dan kesenangan mereka akan hilang lenyap karena keadilan yang akan dijalankan Ali.
Dengan memperhatikan suasana pembai’ahan Ali, dapat diambil kesimpulan bahwa pembai’ahan itu bukanlah dengan sepenuh hati kaum muslimin. Terutama bani umayyah, merekalah yang mempelopori orang-orang yang tidak menyetujui Ali.
Ali mempunyai watak dan pribadi sendiri, suka berterus-terang, tegas bertindak dan tak suka berminyak air. Ia tak takut akan celaan siapapun dalam menjalankan kebenaran. Disebabkan oleh kepribadian yang dimilikinya itu, maka sesudah ia dibai’ah menjadi khalifah, dikeluarkannya dua buah ketetapan:
memecat kepala-kepala daerah angkatan Utsman. Dikirmnya kepala daerah baru yang akan menggantikan. Semua kepala daerah angkatan Ali itu terpaksa kembali saja ke Madinah, karena tak dapat memasuki daerah yang ditugaskan kepadanya.
mengambil kembali tanah-tanah yang dibagi-bagikan Utsman kepada famili-famili dan kerabatnya tanpa jalan yang sah. Demikian juga hibah atau pemberian Utsman kepada siapa pun yang tiada beralasan, diambil Ali kembali.
Banyak pendukung-pendukung dan kerabat Ali yang menasehatinya supaya menangguhkan tindakan-tindakan radikal seperti itu, sampai keadaan stabil. Tetapi Ali kurang mengindahkan. Pertama-tama Ali mendapat tantangan dari keluarga Bani Umayyah. Mereka membulatkan tenaga dan bangunlah Muawiyah melancarkan pemberontakan memerangi Ali.[4]


B. Perang Jamal

Dinamakan perang jamal (unta) karena pada saat itu siti Aisyah isteri Rasulullah dan puteri Abu Bakar asShidiq ikut dalam perang ini dengan mengendarai unta. Peperangan ini dipicu karena pasukan Aisyah menuntut agar dilakukan balasan setimpal atas terbunuhnya Utsman.
Dalam perang jamal Thalhah dan Zubair menggabungkan diri dengan pasukan Aisyah. Sementara dari Yaman datang pula ke Makkah Ya’ali bin Umayyah – Gubernur angkatan Utsman – memberikan 600 keledai serta hartanya untuk disiapkan dalam menghimpun pasukan besar. Dari Basrah pun datang pula Abdullah bin Amir membawa harta yang banyak pula. Dan ditambah dengan keluarga Umayyah yang ada di Hejaz, mereka menggabungkan diri akan menuntut bela Utsman.
Ketika telah sampai ke daerah yang bernama Marbad, pasukan Aisyah telah mencapai 3.000 orang yang di dalamnya terdapat sekitar 1.000 orang Persia. Dari Basrah, banyak umat islam yang hendak ikut tergabung bersama pasukan ummul mu’minin.[5]
Ada faktor penting lain yang diperkirakan mendorong Aisyah mengikuti perang jamal, yaitu faktor Abdullah bin Zubair, putera saudara perempuannya bernama Asma. Abdullah bin Zubair ini diambil Aisyah dari Asma, dijadikan anak angkatnya, diasuh dan dididiknya di rumahya sendiri, karena Aisyah tiada dikaruniai anak. Oleh karena itu Aisyah biasa dipanggil Ummul Abdillah (ibunda Abdullah).
Abdullah mempunyai ambisi hendak menduduki kursi khalifah, tetapi keinginannya itu terhalang karena Ali. Maka dihasutnyalah Aisyah – bibinya – untuk menceburkan diri ke dalam peperangan melawan Ali, siapa tahu kalau Ali gugur, kesempatan akan terbuka baginya, karena tak da lagi orang yang akan menyainginya.
Dilihat secara umum, penduduk Basrah pecah dua, ada yang menyokong dan ada yang menantang. Antara kedua golongan ini terjadi perkelahian yang banyak memakan korban. Ratusan yang mati terutama dari golongan yang menantang Aisyah.
Kemudian Ali datang dengan balatentara yang banyak jumlahnya. Pertama-tama diusahakannya supaya Aisyah dan pengikut-pengikutnya mengurungkan maksud mereka. Dan kepada beberapa orang di antara mereka, diperingatkan Ali akan bai’ah dan sumpah seti yang telah diberikan mereka.
Nasehat Ali termakan oleh mereka. Diadakan perundingan yang hampir berhasil, kaum muslimin akan terhindar dari bahaya perang. Tetapi tanpa mendapat izin dari Ali, malah tidak setahunya, pengikut-pengikut Abdullah bin Saba’ memancing perkelahian dan dibalas oleh pengikut-pengikut Aisyah, maka terjadilah pertempuran antara dua golongan kaum muslimin, pengikut Ali dan pengikut Aisyah.
Pertempuran dalam perang ini terjadi sangat segit, sehingga Zubair melarikan diri. Dia dikejar oleh beberapa orang yang benci kepadanya, lalu dibunuh. Begitu juga Thalhah telah terbunuh pada permulaan perang ini. Akhirnya setelah unta yang ditunggangi ummul Mu’minin dapat dibunuh, maka berhentilah pertempuran dengan kemenangan di pihak Ali.[6]


C. Perang Shiffin

Perang Shiffin adalah peperangan antara Ali dan Muawiyah. Muawiyah adalah anak Abu Sufyan paman Utsman. Pemuka Bani Umayyah yang amat disegani dan dipatuhi oleh laskarnya.
Dengan memperhatikan selintas lalu, akibatnya yang kelihatan ialah Ali menang, tetapi jika diperhatikan dengan teliti kelihatanlah bahwa perang jamal ini akibatnya sangat besar dan amat dalam dari yang kelihatan semula.
Ribuan tentara Ali telah gugur. Hal ini telah melemahkan tentara Ali. Selanjutnya, pendukung-pendukung Aisyah yang terdiri dari kebanyakan dari penduduk Makkah, Madinah dan Basrah, ditambah dengan sahabat-sahabat Aisyah sendiri, telah gugur pula sebesar jumlah tersebut.
Banyaknya kaum muslimin yang gugur, menimbulkan dendam dan kusumat terhadap Ali. Jika ditilik pula laskar Ali, kebanyakan dari mereka belum pernah sebelumnya berkenalan dengan Ali, dan belum pernah berhutang budi kepada Ali, jadi hubungan yang akrab tidak ada. Untuk merangkul mereka, Ali tidak memiliki kekayaan yang cukup untuk menarik pahlawan-pahlawan dan orang-orang yang menyambung nyawa. Sekiranya kekayaan itu ada, Ali tidaklah akan gampang saja mengeluarkan harta kekayaan Tuhan itu, jika tidak pada tempatnya.
Sementara kekuasaan Muawiyah telah berurat akar di Syam. Sebagai seorang politikus ulung dia dapat mempergunakan kesempatan. Dia tahu betul bahwa jalan yang paling dekat untuk memikat hati manusia ialah: pemberian dan tipu muslihat.
Negeri Syam adalah negeri yang kaya raya, dan rakyatnya makmur. Semenjak mereka masuk islam, bahkan semenjak sebelaum daerah itu dimasuki islam, penduduknya belum pernah merasakan pemerintah yang selama dan semakmur yang dijalankan Muawiyah.
Amr bin Ash juga menggabungkan diri dengan Muawiyah dan dia pun masih keluarga Umayyah juga. Banyak lagi orang-orang terkemuka dan suku-suku arab yang terang-terangan memihak Muawiyah. Sementara itu, Muawiyah sudah sejak lama dapat membentuk tentara yang disiplin di Syam.[7]
Perang jamal mengakibatkan gugurnya ribuan tentara Ali, berarti dia kehilangan tenaga yang baik. Sementara itu Muawiyah memperkuat laskarnya dengan membagi-bagi uang kepada merak dan pengikutnya, sehingga ikatan kesatuan mereka menjadi kuat.
Mereka dapat dihasut Muawiyah menantang pembunuh-pembunuh Utsman. Baju gamis Utsman yang berlumuran darah dibentangkan Muawiyah di mimbar masjid. Berapa buah anak jari tangan isteri Utsman yang telah terpotong waktu dia menghambat pukulan-pukulan kaum pemberontak atas suaminya, ikut pula digantungkan Muawiyah pada baju gamis Utsman itu.[8]
Penduduk Syam menolak memberikan jabatan khalifah kepada Ali, karena hal itu menurut mereka berarti menyerahkan jabatan itu kepada Bani Hasyim untuk selamanya. Mereka berpendapat bahwa jabatan khalifah itu hak kaum muslimin. Dan mereka memihak kepada Muawiyah karena kehidupan mereka bertambah baik dan makmur dibawah pemerintahannya.
Dalam keadaan demikian, Ali maju dengan tentaranya ke Syam. Kedatangan Ali disambut oleh laskar Muawiyah. Kedua laskar bertemu di sebuah tempat dekat sungai Furat. Ali sudah berkali-kali meminta Muawiyah membai’ahnya dan bersatu dengannya, tapi Muawiyah tidak mendengarkan.[9]
Pertempuran terjadi di antara kedua laskar. Ali dengan keberaniannya dapat membangkitkan semangat dan kekuatan laskarnya, sehingga kemenangan sudah membayang baginya. Muawiyah yang sudah cemas, buru-buru memanggil Amr bin Ash. Dalam kondisi yang betul-betul kritis tersebut, Amr bin Ash mengusulkan mengangkat al-Quran tinggi-tinggi sebagai pertanda mengajak mengajak laskar lawan untuk melakukan tahkim kepada kitabullah.[10]
Laskar Ali menyambut dan mendukung rencana tahkim kepada al-Quran tersebut dan mendinginkan semangat untuk berperang. Akan tetapi berbeda halnya dengan Amirul mu’minin, beliau tetap bersikeras memberikan semangat kepada pasukannya agar tetap berperang dan dan tidak menghiraukan seruan musuh. Ali memberikan peringatan kepada laskarnya akan tipu-daya yang yang dilakukan Amr bin Ash. Tetapi seruan Ali tidak mendapat perhatian, malahan mereka memaksa Ali supaya mengumumkan bahwa perang dihentikan. Ali terpaksa mengikuti.


D. Tahkim

Kedua laskar memutuskan untuk memilih dua orang pelaku perdamaian (hakamain) dari kedua belah pihak. Muawiyah menugaskan Amr bin Ash sebagai perwakilan perdamaian dari pihaknya. Sedangkan dari pihak Ali ditunjuklah Abdullah bin Abbas,hanya saja kaum Khawarij dan penduduk Yaman menolak, mereka malah meminta Abu Musa al-Asy’ari untuk menjadi perwakilan perdamaian. Ali terpaksa menerima hal ini karena Abu Musa al-Asy’ari dipilih oleh suara terbanyak.
Kedua perwakilan ini berkumpul pada bulan Ramadhan. Sesungguhnya tidak terdapat keseimbangan dalam pertahkiman ini. Mereka bersepakat untuk menanggalkan pemimpin kedua belah pihak, yakni Ali dan Muawiyah. Maka tampillah Abu Musa al-Asy’ari dan Amr bin Ash untuk mengumumkan hasil tahkim mereka ke hadapan khalayak. Amr bin Ash mempersilakan Abu Musa al-Asy’ari untuk maju terlebih dahulu. Maka majulah Abu Musa mengumumkan bahwa dia telah menurunkan Ali dari jabatannya. Tetapi setelah itu, Amr bin Ash maju mengumumkan bahwa dia setuju memperhentikan Ali, kemudian diumumkannya bahwa dia menetapkan Muawiyah.
Peristiwa tahkim menimbulkan perpecahan pada laskar Ali. Kaum Khawarij mulailah memberontak dan meninggalkan Ali, dengan alasan Ali menerima tahkim, padahal kebanyakan kaum khawarij tadinya memaksa Ali supaya menerima tahkim. Mereka bukan tidak mengakui bahwa mereka tadinya mendesak Ali supaya menerima tahkim. Tetapi mereka masih menyalahkan Ali, kata mereka : “Kami telah salah, tetapi mengapa engkau ikut pekataan kami, padahal engkau tahu bahwa kami salah. Sebagai seorang khalifah, harus mempunyai pandangan yang jauh, melebihi pandangan kami, dan pandangan yang lebih tepat dari pendapat kami.” [11]
Kaum Khawarij tidak hanya meninggalkan Ali, malahan mereka juga melakukan berbagai pemberontakan dan pelanggaran di Irak.
Ali masih berusaha mengembalikan mereka kepada kebenaran dengan berbagai cara, tapi tidak berhasil. Akhirnya Ali mengambil keputusan memerangi mereka. Walaupun diperangi, namun mereka tidak dapat dihancurkan. Karena kalau Ali dapat menghancurkan mereka pada satu waktu atau tempat, lantas di wktu atau di tempat lain timbul lgi laskar mereka yang baru. Demikian seterusnya. Maka merosotlah kekuatan dan kekuasaan Ali.
Sementara di Syam kekuasaan dan kekuatan Muawiyah semakin kuat, ditambah lagi Sa’ad bin Abi Waqas dan Abdullah bin Umar juga menggabungkan diri dengan Muawiyah.


E. Akhir Riwayat Ali

Pada tahun 40H, tiga orang Khawarij yaitu Abdurrahman bin Muljam, Barak bin Abdillah at-Tamimy dan Amr bin Bakr at-Tamimy, berkomplot untuk membunuh Ali, Muawiyah dan Amr bin Ash. Karena menurut tiga orang Khawarij ini ketiga pemimpin inilah yang menyebabkan banyaknya pertikaian, perselisihan dan peperangan.
Maka Abdurrahman bin Muljam berangkat ke Kufah untuk membunuh Ali. Dia berhasil membunuh Ali dengan pedangnya pada saat Ali sedang memanggil orang untuk sholat. Orang-orang yang sholat di masjid itu dapat menangkap ibnu muljam, yang kemudian setelah Ali berpulang ke rahmatullah dia dibunuh.
Adapun Barak dapat menikam Muawiyah, tetapi tidak sampai membawanya mati. Sedangkan Amr bin Bark telah menantikan Amr bin Ash keluar untuk sholat subuh, tetapi beliau tidak keluar, karena kesehatannya terganggu.[12]
Dengan berpulangnya Ali ke rahmatullah habislah masa pemerintahan al Khulafaur Rasyidin.
[1] Prof.Dr.syed Hussain Mohammad Jafri, Moralitas Politik Islam, Cet.I, (Jakarta: Pustaka Zahra, 2003), h.16
[3] Hilmi Ali Sy’ban, ‘Ali bin Abu Thalib, Cet.I, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2004), h.32
[4] Prof.Dr.A.Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jilid I, Cet.V, (Jakarta: Pustaka Al husna, 1987), h.283-284
[5] Hilmi Ali Sy’ban, Op.Cit., , h.50
[6] Prof.Dr.A.Syalabi, Op.Cit., , h.292
[7] Ibid., h.300
[8] Ibid.
[9] Ibid.
[10] Hilmi Ali Sy’ban, Op.Cit., , h.73
[11] Prof.Dr.A.Syalabi, Op.Cit,. h.304
[12] Ibid., h.307

Dikirim pada 24 Januari 2011 di Sejarah (history)



BAB I
PENDAHULUAN


Untuk mencapai sasaran dari berbagai program pembangunan, termasuk program pembangunan di bidang agama, suatu hal yang tidak boleh dikesampingkan adalah keikutsertaan bidang kerja pers (jurnalistik) serta berbagai sarana komunikasi yang menyalurkan dan membawa gema, pesan maupun aktivitas pembangunan itu sendiri.
Dalam kaitan itu, aktivitas pers serta komunikasi ditujukan atau diarahkan guna mencapai serta mewujudkan iklim yang dapat menumbuhkan pengertian yang tepat di kalangan mayarakat akan tujuan pembangunan tersebut.
Sebelum menjadi realitas sehari-hari, konsepsi kebebasan dan pelaksanaan kebebasan pers akhirnya tidak dapat dipisahkan dari pandangan masyarakat terhadap citra pers.
Peranan dan efektivitas pers sebagai sarana komunikasi dalam memperlancar pembangunan serta mewujudkan terjadinya perubahan-perubahan social yang positif dengan membawa berbagai informasi dan gagasan guna membangkitkan gairah masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan sudah cukup dirasakan.
Jadi, pers merupakan sarana memberikan informasi kepada khalayak ramai yang sifatnya positip sehingga masyarakat mengetahui fakta-fakta atau berita-berita yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari atau hal-hal yang berkaitan dengan suatu peristiwa penting. Oleh karena itu, dalam makalah ini bagaimanakah kebebasan pers dan tanggung jawab pers menurut pandangan Islam.






BAB II
KEBEBASAN DAN TANGGUNG JAWAB PERS MENURUT PANDANGAN ISLAM


A. Pengertian Kebebasan dan Tanggung Jawab Pers
Bebas artinya lepas, tidak tergantung, merdeka, tidak diwajibkan: beabs daripada membayar pajak, lepas dalam rumahnya tiap-tiap orang bebas berbuat sekehendak hatinya asal jangan mengganggu kesenangan orang.[1]
Dalam TAP MPR No. IV/1973 dikatakan dengan jelas tentang pembinaan pers yang sehat, yakni bebas dan bertanggung jawab yang memungkinkan pers di satu pihak memberikan penerangan kepada masyarakat seluas mungkin dan sobyektif mungkin, di lain pihak merupakan saluran pendapat rakyat yang konstruktif. Unsur bebas dan bertanggung jawab dalam keseimbangan yang selaras, jelas telah diletakkan secara formal dalam Ketetapan MPR yang bersangkutan, begitu pula dalam Undang-Undang tentang ketentuan-ketentuan Pokok Pers, khususnya yang bersangkutan dengan fungsi, kewajiban dan hak pers.
Namun juga sebagaimana tertuang dalam pasal 5 Undang-undang Pokok Pers, imbangan terhadap kebebasan tersebut yang berupa tanggung jawab nasional dalam pelaksanaan fungsi, kewajiban dan hak pers, selalu disebutkan dalam satu nafas dengan kebebasan tersebut.
Kebebasan pers ini dirumuskan baik dalam bentuk-bentuk yang positif (bebas untuk menjalankan control, kritik dan koreksi yang konstruktif sebagaimana yang disebut dalam pasal 3 Undang-undang Pokok Pers), maupun dalam bentuk yang negatif.
Sebelum menjadi realitas sehari-hari, konsepsi kebebasan dan pelaksanaan kebebasan pers akhirnya tidak dapat dipisahkan dari pandangan masyarakat terhadap citra pers.

B. Grafik Pelaksanaan Kebebasan Pers
Pelaksanaan konsep kebebasan pers akan selalu dipengaruhi berbagai faktor yang melingkupinya. Artinya, pelaksanaan kebebasan pers, baik di Amerika maupun di Indonesia, bukanlah sesuatu yang bebas dari pengaruh nilai-nilai yang berlaku dan berkembang pada saat konsep kebebasan itu dilaksanakan. Begitu pula pelaksanaan konsep kebebasan pers amat tergantung kepada masalah-masalah teknis hokum, sehingga dapat saja terjadi dalm praktiknya justru menjadi kabur.
Faktor lain yang mempengaruhi pelaksanaan konsep kebebasan pers adalah sikap per situ sendiri. citra pemakaian kebebasan pers akan memberikan dampak luas terhadap pelaksanaan kebebasan pers. Dengan kata lain, pelaksanaan kebebasan pers pada akhirnya ditentukan oleh hasil interaksi faktor-faktor yang melingkupi kebebasan per situ sendiri.

C. Kebebasan dan Tanggung Jawab Pers Menurut Pandangan Islam
Kebebasan pers di Indonesia berlandaskan, dari masing-masing seginya di bawah ini:
a. Idiil : pada Pancasila[2]
b. Konstitusional: pada Undang-Undang Dasar 1945 dan Ketetapan-ketetapan MPR.
c. Strategis : pada Garis-garis Besar Haluan Negara
d. Yuridis: pada Undang-Undang N0.11 tahun 1966 tentang ketentuan-ketentuan Pokok Pers serta segenap peraturan-peraturan pelaksanaannya.
e. Kemasyarakatan: pada tata nilai social yang berlaku pada masyarakat Indonesia.
f. Etis: pada norma-norma kode etik profesionil.
Dalam alam pembangunan, kebebasan pers perlu dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab terhadap stabilitas nasional, kesamaan dan ketertiban umum. Kebebasan pers perlu pula dilaksanakan dengan landasan sikap yang dewasa dan dalam suasana harmoni terhadap lingkungan, sehingga merangsang tumbuhnya kreativitas masyarakat dan tidak sebaliknya menimbulkan ketegangan-ketegangan yang bersifat antagonis. Suatu penerapan kebebasan prs atas dasar nilai-nilai lain yang tidak cocok dengan sistim nilai lingkungan yang ada akan menimbulkan distansi-distansi yang tidak menguntungkan, dan kadang-kadang mengakibatkan gejolak-gejolak dan ketegangan-ketegangan sosial.
Kebebasan dan tanggung jawab pers dalam Islam sebenarnya tidak ada permasalahan selama tidak menyimpang dari norma, etika dan moral. Sebagai contoh dalam Islam juga memerlukan pers, sebab kebebasan pers itu artinya sekehendak siapapun juga tanpa ada yang mengganggu akhirnya dakwah pun bisa secara pers. Akan tetapi berdakwah lewat pers tentunya memiliki teori-teori atau cara-cara tersendiri yang sangat berkaitan erat dengan metode-metode jurnalistik yang ada dalam kaidah-kaidah ilmu komunikasi massa. Makanya untuk mendukung itu semua dalam pendidikan perguruan tinggi Islam menyelenggarakan pendidikan penyiaran dan komunikasi dan dakwah.[3]
Sesungguhnya sejak masa kebangkitan dan perkembangan islam, berdakwah melalui pers sudah dipandang rasulullah saw sebagai salah satu bentuk atau langkah dakwah efektif.
Secara sederhana, jurnalistik dakwah bisa diartikan sebagai kegiatan berdakwah melalui karya tulisa. Karya tulisan itu dimuat di media pers. Baik dalam bentuk berita, feature, artikel, laporan, tajuk dan karya jurnalistik lainnya.
Karena dimaksudkan sebagai pesan dakwah, maka karya-karya jurnalistik itu sudah barang tentu berisi ajakan atau seruan mengenai pentingnya meraih keberhasilan, mencapai kemajuan, menegrjakan kebaikan dan meninggalkan kenistaan. Ajakan dan seruan yang semuanya bersumber dari aqidah Islam, tauhid dan keimanan.
Kebebasan pers dalam menurut pandangan Islam harus sesuai dengan azas atau norma yang berlaku jangan sampai pers tersebut menyimpang dari azas atau norma tersebut. Sekarang ini kita liat realitanya banyak pers yang menyimpang dari ajaran-ajaran norma yang berlaku misalnya maraknya pers majalah yang bersifat negatif porno aksi, hal tersebut menyimpang dari ajaran agama Islam.
Adapun azas atau norma dalam kebebasan pers sebagai berikut:
1) Azas manfaat, yakni yang dalam penerapannya di bidang dalam pers mengandung pengertian, bahwa segala pemberitaan dan ulasan dalam pers/suratkabar harus dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kemanusiaan, bagi peningkatan kesejahteraan rakyat dan pengembangan pribadi warga Negara .
2) Azas perikehidupan dalam kesimbangan, yakni yang dalam penerapannya di bidang pers mengandugn pengertian bahwa dalam segala pemberitaan dan ulasannya, pers/suratkabar memegang teguh pemberitaan antar yang dimilikinya dalam menjalankan kritik-kritik dan control social yang kunstruktif, dan tanggung jawab terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kesalamatan rakyat, ketertiban umum dan keamanan Negara, moral, dan tata susila serta kepribadian bangsa.





BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan
Bebas artinya lepas, tidak tergantung, merdeka, tidak diwajibkan: beabs daripada membayar pajak, lepas dalam rumahnya tiap-tiap orang bebas berbuat sekehendak hatinya asal jangan mengganggu kesenangan orang.
Dalam TAP MPR No. IV/1973 dikatakan dengan jelas tentang pembinaan pers yang sehat, yakni bebas dan bertanggung jawab yang memungkinkan pers di satu pihak memberikan penerangan kepada masyarakat seluas mungkin dan sobyektif mungkin, di lain pihak merupakan saluran pendapat rakyat yang konstruktif. Unsur bebas dan bertanggung jawab dalam keseimbangan yang selaras, jelas telah diletakkan secara formal dalam Ketetapan MPR yang bersangkutan, begitu pula dalam Undang-Undang tentang ketentuan-ketentuan Pokok Pers, khususnya yang bersangkutan dengan fungsi, kewajiban dan hak pers.
Kebebasan dan tanggung jawab pers dalam Islam sebenarnya tidak ada permasalahan selama tidak menyimpang dari norma, etika dan moral. Sebagai contoh dalam Islam juga memerlukan pers, sebab kebebasan pers itu artinya sekehendak siapapun juga tanpa ada yang mengganggu akhirnya dakwah pun bisa secara pers. Akan tetapi berdakwah lewat pers tentunya memiliki teori-teori atau cara-cara tersendiri yang sangat berkaitan erat dengan metode-metode jurnalistik yang ada dalam kaidah-kaidah ilmu komunikasi massa. Makanya untuk mendukung itu semua dalam pendidikan perguruan tinggi Islam menyelenggarakan pendidikan penyiaran dan komunikasi dan dakwah.

[1] Simorangkir, Hukum dan Kebebasan Pers, (Bandung: Binacipta, 1980), hal. 14
[2] Sumono Mustoffa, Kebebasan Pers Fungsional, (Jakarta: PT Inti Idayu Press, 1978), hal. 62
[3] Sutirman Eka Ardhana, Jurnalistik Dakwah, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995), hal. 14

Dikirim pada 23 Januari 2011 di Umum (general)



A. Definisi dan syaratnya

Definisi Muslahah Mursalah
Maslahah mursalah menurut bahasa terdiri atas dua kata yaitu maslahah dan mursalah. Maslahah yang berarti mendatangkan suatu kebaikan. Sedangan mursalah yang berarti dipergunakan. Jadi dapat disimpulkan ”maslahah mursalah” yang berarti suatu kebaikan (Maslahah) yang tidak disinggung-singgung, syarak untuk mengerjakannya atau meninggalkannya, kalau dikerjakan akan membawa manfaat atau menghindari keburukan.[1]
Sedangkan menurut istilah ulama ushul ada beberapa ta’rif yang diberikan diantaranya :
Imam ar-Razi mena’rifkan sebagai berikut :
”maslahah ialah, perbuatan yang bermanfaat yang telah diperintahkan oleh Musyarri’ (Allah) kepada hambanya tentang pemeliharaan hambanya, jiawanya, akalnya, keturunannya dan harta bendanya.” [2]
Imam al-Gazhali
”pemeliharaan terhadap tujuan syarak yang berhubungan dengan makhluk ada lima yaitu pemeliharaan pada agama diri sendiri, pemeliharaan akal, keturunan dan pemeliharaan harta mereka.” [3]
menurut Muhammad Hasbi Ash-Shiddiq :
“memelihara tujuan syara’ dengan jalan menolak segala sesuatu yang merusakkkan makhluk.” [4]

Syarat- syarat Muslahah Mursalah
Golongan yang mengakui Kehujjahanya maslahah mursalah dalam pembentukan Hukum (islam) telajh mensyaratkan sejumlah syarat tertentu yang harus dipenuhi sehingga meslahah tidak bercampur dengan hawa nafsu, tujuan N dan keinginan yang merusakan manusia dan agama sehingga seseorang tidak menjadikan keinginan sebagai ilhamnya dan menjadikan syawatnya sebagai syari’atnya.
Syarat – syarat itu adalah sebagai berikut :
Adanya penyesuaian antara maslahat yang dipanadang sebagai sumber dalil yang berdiri sendiri dengan tujuan – tujuan syari’at Maqsida as-syari’ah). Dengan adanya persyaratan ini berarti maslahat tidak boleh mengasikan sumber dalil yang lain, atau bertentangan dengan dalil yang qat’iy. Akan tetapi harus sesuai dengan maslahat mursalat yang memang ingin diwujudkan oleh syari’. Misalnya, jenis maslahat itu tidak asing meskipun tidak diperkuat dengan adanya dalilb khas.
Maslahat itu harus masuk akal ( Fartionable) mempunyai sifat – sifat yang sesuai dengan pemikiran yang rasional, dimana yang seandainya diajukan kepada yang kelompok rasional akan tetapi diterima.
Penggunaan dalil maslahat ini adalah dalam rangka hilangkan kesulitan mesti terjadi (raf’u haraj lazim ), dalam pengertian, seandainya maslahat yang dapat diterima akal itu tidak diambil, niscaya manusia akan mengalami kesulitan.[5]
Syarat – syarat di atas adalah syarat – syarat yang masuk akal yang dapat mencegah penggunaan sumber dalil ini ( maslahat mursalah) tercabut dari akalnya ( menyimpang dari essensinya )serta mencegah dari menjadikan nash – nash tunduk kepada hukum – hukum yang dipengaruhi hawa nafsu dan syawat dengan maslahat mursalah.


B. MACAM – MACAM MASLAHAT

Ulama ushul membagi maslahah pada 3 bagian :
1. Maslahah Dzaruriyah.
Adalah perkara – perkara menjadi tempat tegaknya kehudupan manusia, dan bila ditingalkan maka akan rusaklah kehidupan, menjelajah kerusakan, timbullah fitnah dan kehancuran yang hebat.
Perkara – perkara ini dapat sdikembalikan kepada lima perkara, yang merupakan perkara pokok yang harus dikembalikan kepada lima perkara, yang merupakan perkara, yaitu : agama, jiwa akal keturunan, dan harta.[6]
2. Maslahah Hajjiyah
Adalah semua bentuk perbuatan dan tinadakan yang tidak terkait dengan dasar yang lain 9 yang ada pada meslahah Dzaruriah ) yang dibutuhkan oleh masyarakat tetap juga terwujud tetapi dapat menghindarkan kesulitan dan menghilangkan kesempitan.
Hajjiyah ini tidak rusak dan terancam tetapi hanya menimbulkan kepicikan dan kesempitan. Ini berlaku dalam lapangan ibadah, adat, Muamalat, dan bidang jinayat.[7]
3. Maslahah Tahsiniyah
Adalah merupakan semua layak dan pantas yang diberikan oleh adat kebiasaan yang baik dan dicakup oleh mesfasinul akhlak.
Tahsiniyah juga masuk dalam lapangan ibadah, adat, muamalah dan liqubat. Lapangan ibadah misalnya, kewajiban bersucidan najis, menutup aurat, meakai pakaian yang baik – baik ketika akan shalat mendekatkan diri kepada Allah melalui amalan – amalan sunnah, seperti shalat, puasa sunnah, bersedakah dan lain – lain.[8]


C. Kehujahan Maslahah Mursalah

Dalam Kehujjahan maslahah mursalah, terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama ushul diantaranya :
1. Maslahah mursalah tidak dapat menjadihujjah / dalil menurut ulama – ulama syafi’iyah ulama – ulama Hanafiyyah, dan sebagai ulama malikiyah, seperti Ibnu Hajib dan Ahli zahir.
2. Maslahakh mursalah dapat menjadi hujjah / dalil menurut sebagian ulama syafi’i, tetapi harus memenuhi syarat – syarat yang sudah ditentukan oleh ulama ushul. Jumhur Hanafiyyah dan syafi’iyyah mensyaratkan tentang maslahah ini, hendaknya simasukkkan dibawah qiyas, yaitu bila terhadap hukum Ashl yang dapat diqiyaskan kepadanya dan juga terhadap ilat mudhabit ( tepat ) sehingga dalam hubungan hukum itu terdapat tempat untuk melearisir kemaslahatan.
3. Iman Al – Qarafi berkata tentang maslahah mursalah ” sesungguhnya Berhujjah dengan maslahah mursalah deilakukan oleh semua mazhab, karna mereka melakukan qiyas dan mereka membedakan antara satu denghan yang lainnya karena adanya ketentuan – ketentuan hukum yang mengikat.[9]


[1] Drs.M.Rizal Qosim, Pengamalan Fikih 3, Solo: PT.Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2006, h.78
[2] Drs.Chaerul Anwar, Ushul Fiqih I untuk Fakultas Syariah Komponen MKDK, Bandung: Pustaka Setia, 1998, h.136
[3] Op.Cit., h.79
[4] Op.Cit., h.137
[5] Prof.M.Abu Zahrah, Ushul Fiqih, Jakarta: PT.Pustaka Firdaus, 1994, h.427-428
[6] Ibid., h.138
[7] Ibid., h.140
[8] Ibid., h.141
[9] Ibid., h.142-143

Dikirim pada 23 Januari 2011 di Pengetahuan Agama (religion)
23 Jan



A. Definisi Asbabun Nuzul

Pengertian Asbabun Nuzul adalah:
“Semua yang disebabkan olehnya diturunkan suatu ayat atau beberapa ayat yang mengandung sebabnya, memberi jawaban terhadap sebabnya, atau menerangkan hukumnya, pada saat terjadiperistiwa itu.” [1]
Fakta sejarah menunjukkan, bahwa turunnya ayat-ayat al-Qur’an itu ada dua macam, yaitu:
Turunnya dengan didahului oleh suatu sebab.
Turunnya tanpa didahului oleh suatu sebab.
Ad. 1. Ayat-ayat yang Turun dengan Didahului Suatu Sebab
Dalam hal ini ayat-ayat tasyri’iyyah atau ayat-ayat hukum merupakan ayat-ayat yang pada umumnya mempunyai sebab turunnya. Jarang (sedikit) sekali ayat-ayat hukum yang turun tanpa suatu sebab. Dan sebab turunnya ayat itu adakalanya berupa peristiwa yang terjadi di masyarakat Islam dan adakalanya berupa pertanyaan dari kalangan Islam atau dari kalangan lainnya yang ditujukan kepada Nabi.
Contoh ayat yang turun karena ada suatu peristiwa, ialah surat al-Baqarah ayat 221. Turunnya ayat tersebut adalah, karena ada peristiwa sebagai berikut: Nabi mengutus Murtsid al-Ghanawi ke Mekah untuk tugas mengeluarkan orang-orang Islam yang lemah. Setelah ia sampai di sana, iadirayu oleh seorang wanita musyrik yang cantik dan kaya, tetapi ia menolak, karena takut kepada Allah. Kemudian wanita tersebut datang lagi dan minta agar dikawini. Murtsid pada prinsipnya dapat menerimanya, tetapi dengan syarat setelah mendapat persetujuan dari Nabi. Setelah dia kembali ke Madinah, dia menerangkan kasus yang dihadapi dan minta izin kepada Nabi untuk menikah dengan wanita itu. Maka turunlah surat al-Baqarah ayat 221.
Ad. 2. Ayat-ayat yang Turun Tanpa Didahului Sesuatu Sebab
Ayat-ayat semacam ini banyak terdapat di dalam al-Qur’an, sedang jumlahnya lebih banyak daripada ayat-ayat hukum yang mempunyai Asbabun Nuzul. Misalnya ayat-ayat yang mengisahkan hal-ihwal umat-umat terdahulu beserta para Nabinya, menerangkan peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lalu, atau menceritakan hal-hal yang ghaib, yang akan terjadi, atau menggambarkan keadaan hari Kiamat beserta nikmat surga dan siksaan neraka.
Ayat-ayat demikian itu diturunkan oleh Allah bukan untuk memberi tanggapan terhadap suatu pertanyaan atau suatu peristiwa yang terjadi pada waktu itu, melainkan semata-mata untuk memberi petunjuk kepada manusia, agar menempuh jalan yang lurus. Allah menjadikan ayat-ayat ini mempunyai hubungan menurut konteks Qur’ani dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya.
Namun demikian, ada juga ayat-ayat tentang kisah yang diturunkan karena ada sebab. Tetapi ayat semacam ini sedikit sekali. Misalnya turunnya surat Yusuf, seluruhnya adalah karena ada keinginan yang serius daripada sahabat yang disampaikan kepada Nabi, agar Nabi berkenan bercerita yang mengandung pelajaran dan peringatan. Surat Yusuf tersebut diturunkan oleh Allah secara lengkap (mulai ayat satu hingga akhir). Adapun sahabat yang menceritakan latar belakang turunnya ayat-ayat dari surat Yusuf itu, adalah Sa’ad bin Abu Waqqas.[2]


B. Pengetahuan Sahabat tentang Asbabun Nuzul

Sahabat Nabi merupakan suatu generasi umat yang dapat menyaksikan turunnya ayat-ayat al-Qur’an. Tetapi, walaupun demikian, tiada seorang sahabat pun yang bisa menyaksikan turunnya semua ayat al-Qur’an beserta Asbabun Nuzul. Hal ini wajar, karena ayat-ayat al-qur’an itu diturunkan secara berangsur-angsur dalam waktu kurang-lebih 23 tahun, sedang tempat-tempat dan peristiwa-peristiwanya berbeda-beda. Demikian pula, tidak semua dan tidak selalu ayat-ayat itu turun dengan didahului oleh suatu sebab. Karena itu, ucapan beberapa sahabat yang disertai sumpah yang bisa memberi kesan seolah-olah mereka mengetahui semua yang turun beserta Asbabun Nuzulnya, maka hendaklah kita memahaminya tidak secara harfiyah (letterlijk).[3]


C. Pentingnya Ilmu Asbabun Nuzul

Ilmu Asbabun Nuzul itu besar sekali manfaatnya bagi setiap orang yang hendak menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an, karena ilmu ini dapat membantu seseorang agar dapat memahami ayat al-Qur’an secara tepat dan sekaligus dapat menghindarkan dia dari salah pengertian.
Mengenai ilmu Asbabun Nuzul ini, al-Wahidi (wafat tahun 427 H.) berkata:
“Tidak mungkin mengetahui tafsirnya ayat, tanpa mengetahui kisah dan keterangan turunnya.”
Ibnu Taimiyah (wafat tahun 726 H.) menegaskan:
“Mengetahui sebab turunnya ayat dapat menolong untuk memahami ayat, karena sesungguhnya mengerti sebabnya dapat menghasilkan pengetahuan tentang akibatnya.”
Ibnu Daqiqil ‘id (wafat tahun 702 H.) menegaskan pula:
“Mengetahui sebab turunnya ayat, adalah jalan yang kuat dalam memahami maksud-maksud al-Qur’an.”
Demikianlah kepentingan Ilmu Asbabun Nuzul menurut pandangan para ulama. Karena itu, tidak mengherankan bahwa di kalangan ulama al-Muhaqqiqun sampai mengharamkan seorang yang berani menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an tanpa mengetahui Asbabun Nuzul.
Fakta sejarah menunjukkan, bahwa tidak mengetahui sebab turunnya ayat dapat menjerumuskan kita ke dalam kesalahan yang besar dalam memahami al-Qur’an.[4]


D. Nilai Riwayat-riwayat tentang Asbabun Nuzul

Keterangan-keterangan dan riwayat-riwayat tentang Asbabun Nuzul itu tidak semua bernilai sahih (benar), seperti halnya riwayat-riwayat hadits. Karena itu, perlu dilakukan penelitian yang seksama terhadap keterangan-keterangan (riwayat-riwayat) tentang Asbabun Nuzul, baik tentang sanad-sanadnya (perawi-perawi) maupun matan-matannya (isi keterangannya).
Sehubungan dengan hal tersebut, al-Suyuti telah mengkritik beberapa kitab yang membahas Asbabun Nuzul. Misalnya kitab Asbabun Nuzul karangan al-Wahidi (wafat tahun 724 H.) dan kitab Ikhtisar Asbabun Nuzul karangan al-Ja’bari (wafat tahun 732 H.), karena dipandang memuat riwayat-riwayat yang tidak sahih. Kemudian al-Suyuti sendiri menyusun sebuah kitab yang khusus membahas Asbabun Nuzul dalam kitabnya, Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul. Kitab ini dicetak di Bulaq pada tahun 1280 H., di Hamisy (tepi) Tafsir al-Jalalain.
Keterangan-keterangan (riwayat-riwayat) tentang Asbabun Nuzul yang dipandang tidak sahih itu, disebabkan tidak sesuai dengan fakta sejarah, tidak rasional (logis), atau terdapat hal-hal yang berlebih-lebihan (luar biasa) yang bersifat sensasional, atau peristiwa-peristiwa yang langka terjadinya.[5]
[1] Prof.Drs.H.Masjfuk Zuhdi, Pengantar Ulumul Qur-an, Surabaya: Karya Abditama, 1997, h.36
[2] Ibid., h.36-39
[3] Ibid., h.40
[4] Ibid., h.41-42
[5] Ibid., h.44-45

Dikirim pada 23 Januari 2011 di Pengetahuan Agama (religion)



A. Kaum Sofis

Nama “Sofis” (sophistes) tidak dipergunakan sebelum abad ke-5. Arti yang tertua adalah “seorang yang bijaksana” atau “seorang yang mempunyai keahlian dalam bidang tertentu”. Agak cepat kata ini dipakai dalam arti “sarjana” atau “cendekiawan”. Herodotos memakai nama sophistes untuk Pythagoras. Pengarang Yunani yang bernama Androtion (abad ke-4 SM) mempergunakan nama ini untuk menunjukkan “ketujuh orang bijaksana” dari abad ke-6 dan Sokrates. Lysias, ahli pidato Yunani yang hidup sekitar permulaan abad ke-4 memakai nama ini untuk Plato. Tetapi dalam abad ke-4 nama philosophos menjadi nama yang biasanya dipakai dalam arti “sarjana” atau “cendikiawan”, sedangkan nama sophistes khusus dipakai untuk guru-guru yang berkeliling dari kotake kota dan memainkan peranan penting dalam masyarakat Yunani sekitar paruh kedua abad ke-5. Di sini kita juga mempergunakan kata “Sofis” dalam arti terakhir ini.
Pada kemudian hari nama “Sofis” tentu tidak harum. Akibatnya masih terlihat dalam bahasa-bahasa modern. Dalam bahasa Inggris misalnya kata “sophist” menunjukkan seseorang yang menipu orang lain dengan mempergunakan argumentasi-argumentasi yang tidak sah. Cara berargumentasi yang dibuat dengan maksud itu dalam bahasa Inggris disebut “sophism” atau “sophistery”. Terutama Sokrates, Plato, dan Aristoteles dengan kritiknya pada kaum Sofis menyebabkan nama “Sofis” berbau jelek. Salah satu tuduhan adalah bahwapara Sofis meminta uang untuk pengajaran yang mereka berikan. Dalam dialog Protagoras, Plato mengatakan bahwa para Sofis merupakan “pemilik warung yang menjual barang rohani” (313 c). Dan Aristoteles mengarang buku yang berjudul Sophistikoi elenchoi (cara-cara berargumentasi kaum Sofis); maksudnya, cara berargumentasi yang tidak sah. Demikian para Sofis memperoleh nama jelek, hal mana masih dapat dirasakan sampai pada hari ini, sebagaimana nyata dengan contoh-contoh dari bahasa Inggris tadi.[1]

Faktor-faktor yang menjelaskan munculnya Sofistik
Aliran yang disebut Sofistik tidak merupakan suatu mazhab, para sofis tidak mempunyai ajaran bersama. Sebaliknya Sofistik dipandang sebagai suatu aliran atau pergerakan dalam bidang intelektual yang disebabkan beberapa faktor yang timbul dalam masyarakat Yunani pada zaman itu. Berikut faktor-faktor yang menjelaskan munculnya Sofistik:
Sesudah perang Parsi selesai (tahun 449 SM), Athena berkembang pesat dalam bidang politik dan ekonomi. Di bawah pimpinan Perikles polis inilah yang menjadi pusat seluruh dunia Yunani. Sampai saat itu Athena belum mengambil bagian dalam filsafat dan ilmu pengetahuan yang sedang berkembang sejak abad ke-6. Tetapi sering kali dalam sejarah dapat disaksikan bahwa negara atau kota yang mengalami zaman keemasan dalam bidang politik dan ekonomi menjadi pusat pula dalam bidang intelektual dan kultural. Demikian halnya juga dengan kota Athena. Kita sudah melihat bahwa Anaxagoras adalah figur pertama yang memilih Athena sebagai tempat tinggalnya. Para Sofis tidak membatasi aktivitasnya pada polis Athena saja. Mereka adalah guru-guru yang bepergian keliling dari satu kota ke kota lain. Tetapi Athena sebagai pusat kultural yang baru mempunyai daya tarik khusus untuk kaum Sofis. Protagoras misalnya, yang dari sudut filsafat boleh dianggap sebagai tokoh yang utama antara para Sofis, sering-sering mengunjungi Athena.
Faktor lain yang dapat membantu untuk memahami timbulnya gerakan Sofistik adalah kebutuhan akan pendidikan yang dirasakan di seluruh Hellas pada waktu itu. Sudah kami utarakan bahwa bahasa merupakan alat politik yang terpenting dalam masyarakat Yunani. Sukses tidaknya dalam bidang politik sebagian besar tergantung pada kemahiran berbahasa yang diperlihatkan dalam sidang umum, dewan harian atau sidang pengadilan. Itu teristimewa benar dalam masa yang dibahas di sini, karena hidup politik sangat diutamakan. Khususnya di Athena, yang sekarang mengalami puncaknya sebagai polis yang tersusun dengan cara demokratis. Itulah sebabnya tidak mengherankan bahwa orang muda merasakan kebutuhan akan pendidikan serta pembinaan, supaya nanti mereka dapat memainkan peranannya dalam hidup politik. Sampai saat itu pendidikan di Athena tidak melebihi pendidikan elementer saja. Kaum Sofis memenuhi kebutuhan akan pendidikan lebih lanjut. Mereka mengajarkan ilmu-ilmu seperti metematika, astronomi, dan terutama tata bahasa. Mengenai ilmu yang terakhir ini mereka boleh dipandang sebagai perintis. Dan tentu saja, kaum Sofis juga mempunyai jasa-jasa besar dalam mengembangkan ilmu retorika atau berpidato. Selain dari pelajaran dan latihan untuk orang muda, mereka juga memberi ceramah-ceramah dengan cara populer untuk khalayak ramai yang lebih luas.
Dari uraian di atas ini boleh ditarik kesimpulan bahwa kaum Sofis untuk pertama kali dalam sejarah menggelar pendidikan untuk orang muda. Dari sebab itu paideia (kata Yunani untuk “pendidikan”) dapat dianggap sebagai suatu penemuan Yunani. Itulah salah satu jasa yang besar sekali, yang pengaruhnya masih berlangsung terus sampai dalam kebudayaan modern.
Faktor ketiga yang mempengaruhi timbulnya aliran Sofistik boleh dilukiskan sebagai berikut. Karena pergaulan dengan banyak negara asing, orang Yunani mulai menginsyafi bahwa kebudayaan mereka berlainan dari kebudayaan-kebudayaan lain. Kebudayaan Yunani terletak di tengah kebudayaan-kebudayaan yang coraknya sangat berlainan. Dapat terjadi bahwa apa yang dengan tegas ditolak dalam kebudayaan yang satu, sangat dihargai dalam kebudayaan yang lain. Sejarawan Yunani Herodotos yang hidup pada zaman ini dan banyak bepergian ke negeri-negeri lain, telah menuliskan pengalaman itu dengan cukup jelas, dan ia menyetujui pendirian penyair Pindaros bahwa adat-istiadat adalah segala-galanya. Pengalaman itu menampilkan banyak pertanyaan. Apakah peraturan-peraturan etis, lembaga-lembaga sosial dan tradisi-tradisi religius hanya merupakan suatu kebiasaan atau konvensi saja? Apakah kesemuanya itu hanya kebetulan tersusun begitu? Apakah mungkin suatu susunan yang sama sekali berlainan? Para Sofis akan merumuskan persoalan ini dengan bertanya: apakah peraturan etis beralaskan adat kebiasaan (nomos) atau beralaskan kodrat (physis)? Pada umumnya para Sofis akan menjawab bahwa hidup sosial tidak mempunyai dasar kodrati. Sampai-sampai Protagoras tidak ragu-ragu mengatakan bahwa manusia adalah ukuran untuk segala sesuatu. Dengan demikian kaum Sofis jatuh dalam relativisme di bidang tingkah laku etis dan di bidang pengenalan. Dengan relativisme dimaksudkan pendirian bahwa baik buruk dan benar salah itu bersifat relatif saja. Atau dengan kata lain, baik buruk dan benar salah tergantung pada manusia bersangkutan. Sokrates dan Plato dengan tajam sekali akan mengkritik pendirian itu. Tetapi dapat dibayangkan bahwa kaum Sofis mengalami sukses besar dengan anggapannya yang menentang tradisi-tradisi tua, terutama dalam kalangan kaum muda. Dalam hal ini angkatan muda Yunani tidak berbeda banyak dengan angkatan muda pada zaman lain, karena mereka selalu cenderung membuang yang kolot dan memihak kepada yang serba baru.[2]

Pengaruh aliran Sofistik
Dalam uraian-uraian sejarah filsafat, kaum Sofis tidak selalu dipandang dengan cara yang sama. Kadang-kadang dikemukakan pertimbangan yang agak negatif. Tetapi dalam uraian-uraian lain kaum Sofis direhabilitasikan lagi dengan penilaian yang lebih positif. Pada aliran Sofistik sendiri terdapat dua aspek yang menampilkan penilaian yang berbeda-beda itu.
Di satu pihak gerakan para Sofis menyatakan krisis yang tampak dalam pemikiran Yunani. Rupanya pada waktu itu orang merasa jemu dengan sekian banyak pendirian yang telah dikemukakan dalam filsafat prasokratik. Reaksinya adalah skeptisisme yang dianut oleh para Sofis. Kebenaran diragukan dan dasar ilmu pengetahuan sendiri digoncangkan (Protagoras, Gorgias). Dengan itu, Sofistik pasti mempunyai pengaruh negatif atas kebudayaan Yunani waktu itu. Banyak nilai tradisional dalam bidang agama dan moralitas mulai roboh. Peranan polis sebagai kesatuan sosial-politik mulai merosot, karena kaum Sofis memajukan suatu orientasi pan-Hellen. Tekanan pada ilmu berpidato dan kemahiran berbahasa menampilan bahaya bahwa teknik berpidato akan dipergunakan untuk maksud-maksud jahat. Kalau prinsip Protagoras, yakni “membuat argumen yang paling lemah menjadi yang paling kuat”, dikaitkan dengan relativisme dalam bidang moral, maka dengan sendirinya jalan terbuka untuk penyalahgunaan itu. Sofis-sofis yang besar seperti Protagoras dan Gorgias tidak menyalahgunakan ilmu berpidato untuk maksud-maksud jahat. Mereka adalah orang yang dihoramati oleh umum karena moralitas yang bermutu tinggi. Hal yang sama tidak bisa dikatakan mengenai semua Sofis lain.
Akan tetapi, di lain pihak aliran Sofistik pasti juga mempunyai pengaruh yang positif atas kebudayaan Yunani. Bahkan boleh dikatakan bahwa para Sofis mengakibatkan suatu revolusi intelektual di Yunani. Gorgias dan Sofis-sofis lain menciptakan gaya bahasa yang baru untuk prosa Yunani. Sejarawan-sejarawan Yunani yang besar, seperti Herodotos dan Thukydides, dipengaruhi secara mendalam oleh pemikiran Sofistik. Pandangan hidup kaum Sofis bergema juga pada dramawan-dramawan yang tersohor seperti Sophokles dan terutama Euripides. Dan kami sudah menyebut sebagai jasa-jasa Sofistik bahwa mereka mengambil manusia sebagai objek bagi pemikiran filsafat dan bahwa mereka meletekkan fundamen untuk pendidikan sitematis bagi kaum muda. Tetapi jasa mereka yang terbesar ialah bahwa mereka mempersiapkan kelahiran filsafat baru. Sokrates, Plato dan Aristoteles akan merealisasikan filsafat baru itu.[3]


B. Sokrates

Tidak ada orang yang tahu persis bilamana Sokrates dilahirkan. Yang jelas ialah, bahwa pada tahun 399 ia dijatuhi hukuman mati dengan harus minum racun. Oleh karena pada waktu itu ia berumur 70 tahun, maka barangkali ia dilahirkan pada tahun ± 470 SM. Agaknya ia berasaldari keluarga kaya, yang kemudian menjadi miskin. Yang terang ialah bahwa ia mendapat pendidikan yang baik.[4]
Pada tahun 399 Anytos, seorang yang empat tahun lebih dahulu turut dalam memulihkan demokrasi di Athena, mengemukakan tuduhan yang mengakibatkan perkara pengadilan terhadap Sokrates. Tuduhan itu berbunyi: “Sokrates bersalah, karena ia tidak percaya pada dewa-dewa yang diakui oleh polis dan mengintrodusir praktek-praktek religius yang baru; ia juga bersalah, karena ia mempunyai pengaruh yang kurang baik atas kaum muda.” Hampir semua informasi yang kita punyai tentang sidang pengadilan itu berasal dari karangan Plato yang disebut Apologia (“Pembelaan Sokrates”). Dalam karangan ini Sokrates membela dirinya di hadapan hakim-hakimnya. Sekalipun karangan ini tentu tidak boleh dianggap sebagai laporan harfiah mengenai sidang itu, namun para ahli kesusastraan Yunani berpendapat bahwa Plato mempergunakan data-data historis yang dapat dipercaya. Sokrates dinyatakan bersalah dengan mayoritas 60 suara (280 melawan 220). Lalu pendakwa menuntut hukuman mati. Menurut kebiasaan Athena, terdakwa diizinkan mengusulkan hukuman mati. Kalau seandainya Sokrates mengusulkan supaya dibuang ke luar kota, usul itu tentu akan diterima. Tetapi Sokrates pada usia 70 tahun tidak mau meninggalkan kota asalnya. Sebenarnya Sokrates bermaksud mengusulkan satu “mina” (mata uang Athena) sebagai denda, tetapi atas dorongan sahabat-sahabatnya ia mempertinggi jumlahnya sampai 30 mina, lebih-lebih karena mereka menawarkan untuk menanggung pembayarannya. Tetapi sidang memutuskan hukuman mati, karen denda 30 mina dianggap terlalu kecil dan terutama karena Sokrates dalam pembelaannya dirasakan menghina hakim-hakimnya. Biasanya hukuman mati dijalankan dalam waktu 24 jam. Tetapi pada waktu Sokrates dijatuhi hukuman mati, suatu perahu layar Athena yang keramat sedang melakukan perjalanan tahunan ke kuil di pulau Delos dan menurut hukum Athena hukuman mati baru boleh dijalankan, bila perahu itu sudah kembali. Dari sebab itu, satu bulan lamanya Sokrates tinggal lagi dalam penjara, sambil bercakap-cakap dengan sahabat-sahabatnya. Salah seorang di antara mereka, bernama Kriton, telah mengusulkan supaya Sokrates melarikan diri. Tetapi Sokrates menolak. Dalam dialog yang berjudul Phaidon, Plato menceritakan percakapan Sokrates dengan muri-muridnya pada hari terakhir hidupnya dan ia melukiskan pula bagaimana Sokrates waktu senja dengan tenang minum cawan berisi racun, dikelilingi oleh sahabat-sahabatnya.[5]

Ajaran Sokrates
Seperti halnya dengan para Sofis, Sokrates juga memberi pelajaran kepada rakyat. Sama halnya dengan kaum Sofis ia mengarahkan perhatiannya kepada manusia. Perbedaannya dengan para kaum terletak di sini, bahwa Sokrates tidak memungut biaya bagi pengajarannya. Kecuali itu maksud dan tujuan ajaran-ajarannya bukan untuk meyakinkan orang lain supaya mengikuti dia, tetapi untuk mendorong orang supaya mengetahui dan menyadari sendiri.[6]
Sebagaimana para Sofis, Sokrates pun berbalik dari filsafat alam. Sebagaimana juga para Sofis, Sokrates pun memilih manusia sebagai objek penyelidikannya dan ia memandang manusia lebih kurang dari segi yang sama seperti mereka: sebagai makhluk yang mengenal, yang harus mengatur tingkah lakunya sendiri dan yang hidup dalam masyarakat. Sebagaimana para Sofis, Sokrates pun memulai filsafatnya dengan bertitik tolak dari pengalaman sehari-hari dan dari kehidupan yang konkret. Tetapi ada satu perbedaan yang penting sekali antara Sokrates dan kaum Sofis, yaitu Sokrates tidak menyetujui relativisme yang dianut oleh kaum Sofis. Menurut Sokrates ada kebenaran objektif, yang tidak tergantung pada saya atau pada kita. Akan tetapi, sebaiknya kita tidak memandang keyakinan Sokrates itu dari sudut “kebenaran” saja, karena dengan itu barangkali kita menampilkan kesan seakan-akan Sokrates mencurahkan pikirannya dalam bidang teoritis. Padahal, ia hanya memperhatikan hidup praktis saja, yaitu tingkah laku manusia. Itulah sebabnya lebih tepat kita merumuskan keyakinan Sokrates dengan mengatakan bahwa menurut dia bukan sembarang tinkah laku boleh disebut baik. Ada kelakuan yang baik dan ada kelakuan yang kurang baik. Ada tindakan yang pantas dan ada tindakan yang jelek. Sokrates yakin bahwa berbuat jahat adalah suatu kemalangan bagi seorang manusia dan bahwa berbuat baik adalah satu-satunya kebahagiaan baginya. Dari sebab itu Sokrates berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti berikut ini. Apakah itu hidup yang baik? Apakah kebaikan itu, yang mengakibatkan kebahagiaan seorang manusia? Apakah norma yang mengizinkan kita menetapkan baik buruknya suatu perbuatan?[7]

Cara Sokrates memberikan ajarannya
Cara Sokrates memberikan ajarannya adalah: ia mendatangi bermacam-macam orang (ahli politik, pejabat, tukang dan lain-lain). Kepada mereka dikemukakan pertanyaan-pertanyaan mengenai pekerjaan mereka, hidup mereka sehari-hari dan lain-lain. Jawaban mereka pertama-tama dianalisa dan disimpulkan dalam suatu hipotese. Hipotese ini dikemukakan lagi kepada mereka dan dianalisa lagi. Demikian seterusnya hingga ia mencapai tujuannya, yaitu: membuka kedok segala aturan atau hukum-hukum yang semu, sehingga tampak sifatnya yang semu, dan mengajak orang melacak atau menelusur sumber-sumber hukum yang sejati. Supaya tujuan itu tercapai diperlukan suatu pembentukan pengertian yang murni.
Oleh karena pendidikan retorika yang telah diberikan para kaum sofis telah menjadikan banyak orang sombong, maka sering dengan cara yang menggelikan Sokrates mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sengaja dimaksud untuk membingungkan orang-orang itu.Karena jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu menjadi saling bertentangan, sehingga para penjawab ditertawakan orang banyak. Metode ini oleh Sokrates disebut metode ironi (eironeia). Segi positif dari metode ini terletak dalam usahanya untuk mengupas kebenaran dari kulit “pengetahuan semu” orang-orang itu.
Cara pengajaran Sokrates pada umumnya disebut dialektika, karena di dalam pengajaran itu dialog memegang peranan penting. Sebutan yang lain ialah maieutika, seni kebidanan, karena dengan cara Sokrates bertindak seperti seorang bidan yang menolong kelahiran bayi “pengertian yang benar”.[8]
[1] Prof.Dr.K.Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, Jogjakarta: Kanisius, 1999, h.83-84
[2] Ibid., h.84-86
[3] Ibid., h.92-93
[4] Dr.Harun hadiwijoyo, Sari Sejarah Filsafat Barat 1, Jogjakarta: Kanisius, 1980, h.35
[5] Op.Cit., h.100-101
[6] Op.cit., h.35
[7] Op.Cit., h.104
[8] Op.Cit., h.35-

Dikirim pada 23 Januari 2011 di Umum (general)
Profile

>>> Username : Rayhania >>> Nickname : IU >>> My name : Ayu ريحاني Thamreen >>> Fullname : سري ايو ريحانية بنت محمد حسني تمرين More About me

Page
Archive
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 199.801 kali


connect with ABATASA