0


Cita2 ibarat bintang di langit, yach walaupun terlihat sangat jauh tapi apa seh yang gak mungkin dicapai?? Apapun bisa terjadi asalkan kita bersungguh-sungguh. Buktinya aja orang dah bisa nginjakin kaki ke bulan&planet2, bukankah itu suatu bukti bahwa gak ada yang gak mungkin terjadi. Dulu neh para saintist&ahli fisika dianggap stress atau kurang waras karena hal itu, banyak banget deh orang2 awam ngata2in alias nyela abis2an yang mereka lakukan. Tapi tentunya mereka gak ambil pusing kata2 orang2 yang mencela itu. Sampai akhirnya apa yang mereka cita2kan terwujud, baru deh tuh orang2 yang nyela pada berdecak kagum… “wah,,kita ketinggalan satu abad dari dia!”, mereka pasti berkomentar seperti itu setelah menyadari kesalahan mereka.

Seperti para saintist itu, begitu juga kita seharusnya dalam mengejar cita2, gak kenal menyerah&gak peduli dengan celaan orang2 awam. Karena guys, sometimes ada aja orang2 yang rese atau ngiri abis. But..perlu kita perhatikan juga dari semua komentar yang ada, siapa tahu neh ada yang membangun. So, kita harus bisa menyaring bener2 celaan tersebut, kritik atau komentar2 itu untuk selanjutnya kita jadikan sebagai bumbu dalam mencapai cita2.

Selain celaan2, tentunya ada hambatan2 lain dalam menggapai cita2. Mungkin rasa bosen, males atau tergoda (Ayo ngaku tergoda ama apa atau siapa? Hehehe). Hambatan2 seperti itu sebenarnya sering terjadi&gak keitung lagi banyaknya, sekarang tinggal gimana caranya kita mengatasi itu semua…
1. Luruskan dulu donk niat kita semua, motivasi diri. Tanyakan pada diri kita, apa seh yang sebenarnya kita cita2kan? Apa seh tujuan orang tua kita cape2 gawe buat ngongkosi kita study? Pastilah orang tua kita menginginkan yang terbaik untuk kita.
2. Come on…kita gak punya banyak waktu untuk bermain-main. Ingat, Izrail datang gak pake ketuk pintu dulu apalagi bilang “sampurasun”, “permisi”, “excuise me” atau “law samahta” segala.
3. “Sesungguhnya hati ini akan jenuh sebagaimana badan2 jenuh, maka carilah hikmah2 yang baru untuk hati.” [1] So, obat yang manjur buat hati yang jenuh adalah hikmah.
4. Buat yang tergoda… cup,cup,cup..sabar dulu ya! Jangan korbankan cita2 mulia dengan hal2 yang terlarang. Kata pepatah neh, “semakin tinggi pohon, semakin kuat juga angin yang menerpa.” Tenang aja, kalo jodoh gak bakal kemana ko.
5. Kalo ingin jadi yang terbaik atau dapet yang terbaik, maka kita juga harus memberikan yang terbaik atau melakukan yang terbaik. Give the best, do the best, be the best&get the best. Ok!



[1] Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib. Tashrif Ghurar al-Hikam. Manikjaya: Bandung, 2003

Dikirim pada 24 Januari 2011 di Umum (general)



Richard L.Lanigan membuat analisis filsafat mengenai komunikasi dengan mengemukakan pertanyaan-pertanyaan:

Ø Apa yang aku ketahui? (what do I know?)
Ø Bagaimana aku mengetahuinya? (how do I know?)
Ø Apakah aku yakin? (am I sure?)
Ø Apakah aku benar? (am I right?)

Keeempat pertanyaan diatas berkaitan dengan penyelidikan secara sistematis, studi terhadap metafisika, epistemologi, aksiologi dan logika.


Metafisika (berkaitan dengan ontologi)

Menurut Richard lanigan, metafisika adalah studi tentang sifat dan fungsi teori tentang realita. Berkaitan dengan teori komunikasi, metafisika berkaitan dengan hal-hal berikut:
· Sifat manusia dan hubungannya secara kontekstual dan individual dengan realita dalam alam semesta
· Sifat dan fakta bagi tujuan, perilaku, penyebab dan aturan.
· Problema pilihan, khususnya kebebasan versus determinisme pada perilaku manusia

Aritoteles menyebut ada dua objek metafisika, yaitu:
Ø Ada sebagai yang ada, yang oleh Prof.Dr.Delfgaauw dalam karyanya “metafisika” dijelaskan ciri bahwa ada sebagai yang ada adalah dapat diserapnya oleh pancaindera. Dalam hal ini metafisika juga disebut ontologi.
Ø Ada sebagai yangIllahi adalah keberadaan yang mutlak, yang sama sekali tidak bergantung pada pada yang lain. Berbicara ada yang illahi berarti berbicara tentang suatu ada yang pada dasarnya tidak dapat ditangkap oleh pancaindera, namun dapat dimengerti oleh akal.


Epistemologi

Epistemologi pada dasarnya adalah cara bagaimana pengetahuan disusun dari bahan yang diperoleh yang dalam prosesnya menggunakan metode ilmiah. Metode ilmiah pada dasarnya dilandasi oleh:
· Kerangka pemikiran yang logis
· penjabaran hipotesis yang merupakan deduksi dan kerangka pemikiran
· Verifikasi terhadap hipotesis untuk menguji kebenarannya secara faktual.

Epistemologi merupakan cabang filsafat yang menyelidiki asal, sifat, metode dan batasan pengetahuan manusia (Effendi 193:324)

Lanigan mengatakan bahwa dalam prosesnya yang progresif dari kognisi menuju afeksi yang selanjutnya menuju konasi, epistemologi berpijak pada salah satu atau lebih teori kebenaran. Dalam kamus filsafat disebutkan beberapa teori kebenaran yaitu : teori korespondensi, teori koherensi, teori pragmatik.

Dikenal empat teori kebenaran, sebagai berikut :
1) Teori koherensi; suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar.
2) Teori korespondensi; suatu pernyataan adalah benar jikalau materi yang terkena oleh persyaratan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan itu.
3) Teori pragmatik; suatu pernyataan dianggap benar apabila pernyataan atau konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis bagi kehidupan manusia.


Aksiologi

Aksiologi adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan nilai-nilai seperti etika estetika dan agama. Aksiologi berkaitan dengan cara bagaimana menggunakan ilmu pengetahuan yang secara epistemologi diperoleh dan disusun. Tinjauan terhadap filsafat komunikasi, Richard lanigan mengatakan bahwa aksiologi merupakan studi tentang etika dan estetika. Hal ini berarti aksiologi adalah suatu kajian terhadap apa nilai-nilai manusiawi dan bagaimana cara melembagakannya atau mengekspresikannya. Masalah nilai ini sangat penting bagi seorang komunikator ketika ia mengemas pikirannya sebagai isi pesan dengan bahasa sebagai lambang. Hal ini berkaitan dengan efek yang ditimbulkan oleh pesan tersebut. Karena itulah seorang komunikator haruslah terlebih dahulu melakukan pertimbangan nilai (value judgement) apakah pesan yang akan dikomunikasikan etis atau tidak.


Logika

Logika berkaitan dengan telaah terhadap asas-asas dan metode penalaran secara benar. Menggunakan proses penalaran yaitu proses logika. Karena itulah dalam komunikasi, posisi logika amatlah penting, karena pemikiran yang akan dikomunikasikan kepada orang lain haruslah merupakan keputusan sebagai hasil dari proses berpikir yang logis.

Dikirim pada 24 Januari 2011 di Umum (general)



BAB I
PENDAHULUAN


Untuk mencapai sasaran dari berbagai program pembangunan, termasuk program pembangunan di bidang agama, suatu hal yang tidak boleh dikesampingkan adalah keikutsertaan bidang kerja pers (jurnalistik) serta berbagai sarana komunikasi yang menyalurkan dan membawa gema, pesan maupun aktivitas pembangunan itu sendiri.
Dalam kaitan itu, aktivitas pers serta komunikasi ditujukan atau diarahkan guna mencapai serta mewujudkan iklim yang dapat menumbuhkan pengertian yang tepat di kalangan mayarakat akan tujuan pembangunan tersebut.
Sebelum menjadi realitas sehari-hari, konsepsi kebebasan dan pelaksanaan kebebasan pers akhirnya tidak dapat dipisahkan dari pandangan masyarakat terhadap citra pers.
Peranan dan efektivitas pers sebagai sarana komunikasi dalam memperlancar pembangunan serta mewujudkan terjadinya perubahan-perubahan social yang positif dengan membawa berbagai informasi dan gagasan guna membangkitkan gairah masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan sudah cukup dirasakan.
Jadi, pers merupakan sarana memberikan informasi kepada khalayak ramai yang sifatnya positip sehingga masyarakat mengetahui fakta-fakta atau berita-berita yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari atau hal-hal yang berkaitan dengan suatu peristiwa penting. Oleh karena itu, dalam makalah ini bagaimanakah kebebasan pers dan tanggung jawab pers menurut pandangan Islam.






BAB II
KEBEBASAN DAN TANGGUNG JAWAB PERS MENURUT PANDANGAN ISLAM


A. Pengertian Kebebasan dan Tanggung Jawab Pers
Bebas artinya lepas, tidak tergantung, merdeka, tidak diwajibkan: beabs daripada membayar pajak, lepas dalam rumahnya tiap-tiap orang bebas berbuat sekehendak hatinya asal jangan mengganggu kesenangan orang.[1]
Dalam TAP MPR No. IV/1973 dikatakan dengan jelas tentang pembinaan pers yang sehat, yakni bebas dan bertanggung jawab yang memungkinkan pers di satu pihak memberikan penerangan kepada masyarakat seluas mungkin dan sobyektif mungkin, di lain pihak merupakan saluran pendapat rakyat yang konstruktif. Unsur bebas dan bertanggung jawab dalam keseimbangan yang selaras, jelas telah diletakkan secara formal dalam Ketetapan MPR yang bersangkutan, begitu pula dalam Undang-Undang tentang ketentuan-ketentuan Pokok Pers, khususnya yang bersangkutan dengan fungsi, kewajiban dan hak pers.
Namun juga sebagaimana tertuang dalam pasal 5 Undang-undang Pokok Pers, imbangan terhadap kebebasan tersebut yang berupa tanggung jawab nasional dalam pelaksanaan fungsi, kewajiban dan hak pers, selalu disebutkan dalam satu nafas dengan kebebasan tersebut.
Kebebasan pers ini dirumuskan baik dalam bentuk-bentuk yang positif (bebas untuk menjalankan control, kritik dan koreksi yang konstruktif sebagaimana yang disebut dalam pasal 3 Undang-undang Pokok Pers), maupun dalam bentuk yang negatif.
Sebelum menjadi realitas sehari-hari, konsepsi kebebasan dan pelaksanaan kebebasan pers akhirnya tidak dapat dipisahkan dari pandangan masyarakat terhadap citra pers.

B. Grafik Pelaksanaan Kebebasan Pers
Pelaksanaan konsep kebebasan pers akan selalu dipengaruhi berbagai faktor yang melingkupinya. Artinya, pelaksanaan kebebasan pers, baik di Amerika maupun di Indonesia, bukanlah sesuatu yang bebas dari pengaruh nilai-nilai yang berlaku dan berkembang pada saat konsep kebebasan itu dilaksanakan. Begitu pula pelaksanaan konsep kebebasan pers amat tergantung kepada masalah-masalah teknis hokum, sehingga dapat saja terjadi dalm praktiknya justru menjadi kabur.
Faktor lain yang mempengaruhi pelaksanaan konsep kebebasan pers adalah sikap per situ sendiri. citra pemakaian kebebasan pers akan memberikan dampak luas terhadap pelaksanaan kebebasan pers. Dengan kata lain, pelaksanaan kebebasan pers pada akhirnya ditentukan oleh hasil interaksi faktor-faktor yang melingkupi kebebasan per situ sendiri.

C. Kebebasan dan Tanggung Jawab Pers Menurut Pandangan Islam
Kebebasan pers di Indonesia berlandaskan, dari masing-masing seginya di bawah ini:
a. Idiil : pada Pancasila[2]
b. Konstitusional: pada Undang-Undang Dasar 1945 dan Ketetapan-ketetapan MPR.
c. Strategis : pada Garis-garis Besar Haluan Negara
d. Yuridis: pada Undang-Undang N0.11 tahun 1966 tentang ketentuan-ketentuan Pokok Pers serta segenap peraturan-peraturan pelaksanaannya.
e. Kemasyarakatan: pada tata nilai social yang berlaku pada masyarakat Indonesia.
f. Etis: pada norma-norma kode etik profesionil.
Dalam alam pembangunan, kebebasan pers perlu dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab terhadap stabilitas nasional, kesamaan dan ketertiban umum. Kebebasan pers perlu pula dilaksanakan dengan landasan sikap yang dewasa dan dalam suasana harmoni terhadap lingkungan, sehingga merangsang tumbuhnya kreativitas masyarakat dan tidak sebaliknya menimbulkan ketegangan-ketegangan yang bersifat antagonis. Suatu penerapan kebebasan prs atas dasar nilai-nilai lain yang tidak cocok dengan sistim nilai lingkungan yang ada akan menimbulkan distansi-distansi yang tidak menguntungkan, dan kadang-kadang mengakibatkan gejolak-gejolak dan ketegangan-ketegangan sosial.
Kebebasan dan tanggung jawab pers dalam Islam sebenarnya tidak ada permasalahan selama tidak menyimpang dari norma, etika dan moral. Sebagai contoh dalam Islam juga memerlukan pers, sebab kebebasan pers itu artinya sekehendak siapapun juga tanpa ada yang mengganggu akhirnya dakwah pun bisa secara pers. Akan tetapi berdakwah lewat pers tentunya memiliki teori-teori atau cara-cara tersendiri yang sangat berkaitan erat dengan metode-metode jurnalistik yang ada dalam kaidah-kaidah ilmu komunikasi massa. Makanya untuk mendukung itu semua dalam pendidikan perguruan tinggi Islam menyelenggarakan pendidikan penyiaran dan komunikasi dan dakwah.[3]
Sesungguhnya sejak masa kebangkitan dan perkembangan islam, berdakwah melalui pers sudah dipandang rasulullah saw sebagai salah satu bentuk atau langkah dakwah efektif.
Secara sederhana, jurnalistik dakwah bisa diartikan sebagai kegiatan berdakwah melalui karya tulisa. Karya tulisan itu dimuat di media pers. Baik dalam bentuk berita, feature, artikel, laporan, tajuk dan karya jurnalistik lainnya.
Karena dimaksudkan sebagai pesan dakwah, maka karya-karya jurnalistik itu sudah barang tentu berisi ajakan atau seruan mengenai pentingnya meraih keberhasilan, mencapai kemajuan, menegrjakan kebaikan dan meninggalkan kenistaan. Ajakan dan seruan yang semuanya bersumber dari aqidah Islam, tauhid dan keimanan.
Kebebasan pers dalam menurut pandangan Islam harus sesuai dengan azas atau norma yang berlaku jangan sampai pers tersebut menyimpang dari azas atau norma tersebut. Sekarang ini kita liat realitanya banyak pers yang menyimpang dari ajaran-ajaran norma yang berlaku misalnya maraknya pers majalah yang bersifat negatif porno aksi, hal tersebut menyimpang dari ajaran agama Islam.
Adapun azas atau norma dalam kebebasan pers sebagai berikut:
1) Azas manfaat, yakni yang dalam penerapannya di bidang dalam pers mengandung pengertian, bahwa segala pemberitaan dan ulasan dalam pers/suratkabar harus dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kemanusiaan, bagi peningkatan kesejahteraan rakyat dan pengembangan pribadi warga Negara .
2) Azas perikehidupan dalam kesimbangan, yakni yang dalam penerapannya di bidang pers mengandugn pengertian bahwa dalam segala pemberitaan dan ulasannya, pers/suratkabar memegang teguh pemberitaan antar yang dimilikinya dalam menjalankan kritik-kritik dan control social yang kunstruktif, dan tanggung jawab terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kesalamatan rakyat, ketertiban umum dan keamanan Negara, moral, dan tata susila serta kepribadian bangsa.





BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan
Bebas artinya lepas, tidak tergantung, merdeka, tidak diwajibkan: beabs daripada membayar pajak, lepas dalam rumahnya tiap-tiap orang bebas berbuat sekehendak hatinya asal jangan mengganggu kesenangan orang.
Dalam TAP MPR No. IV/1973 dikatakan dengan jelas tentang pembinaan pers yang sehat, yakni bebas dan bertanggung jawab yang memungkinkan pers di satu pihak memberikan penerangan kepada masyarakat seluas mungkin dan sobyektif mungkin, di lain pihak merupakan saluran pendapat rakyat yang konstruktif. Unsur bebas dan bertanggung jawab dalam keseimbangan yang selaras, jelas telah diletakkan secara formal dalam Ketetapan MPR yang bersangkutan, begitu pula dalam Undang-Undang tentang ketentuan-ketentuan Pokok Pers, khususnya yang bersangkutan dengan fungsi, kewajiban dan hak pers.
Kebebasan dan tanggung jawab pers dalam Islam sebenarnya tidak ada permasalahan selama tidak menyimpang dari norma, etika dan moral. Sebagai contoh dalam Islam juga memerlukan pers, sebab kebebasan pers itu artinya sekehendak siapapun juga tanpa ada yang mengganggu akhirnya dakwah pun bisa secara pers. Akan tetapi berdakwah lewat pers tentunya memiliki teori-teori atau cara-cara tersendiri yang sangat berkaitan erat dengan metode-metode jurnalistik yang ada dalam kaidah-kaidah ilmu komunikasi massa. Makanya untuk mendukung itu semua dalam pendidikan perguruan tinggi Islam menyelenggarakan pendidikan penyiaran dan komunikasi dan dakwah.

[1] Simorangkir, Hukum dan Kebebasan Pers, (Bandung: Binacipta, 1980), hal. 14
[2] Sumono Mustoffa, Kebebasan Pers Fungsional, (Jakarta: PT Inti Idayu Press, 1978), hal. 62
[3] Sutirman Eka Ardhana, Jurnalistik Dakwah, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995), hal. 14

Dikirim pada 23 Januari 2011 di Umum (general)



A. Kaum Sofis

Nama “Sofis” (sophistes) tidak dipergunakan sebelum abad ke-5. Arti yang tertua adalah “seorang yang bijaksana” atau “seorang yang mempunyai keahlian dalam bidang tertentu”. Agak cepat kata ini dipakai dalam arti “sarjana” atau “cendekiawan”. Herodotos memakai nama sophistes untuk Pythagoras. Pengarang Yunani yang bernama Androtion (abad ke-4 SM) mempergunakan nama ini untuk menunjukkan “ketujuh orang bijaksana” dari abad ke-6 dan Sokrates. Lysias, ahli pidato Yunani yang hidup sekitar permulaan abad ke-4 memakai nama ini untuk Plato. Tetapi dalam abad ke-4 nama philosophos menjadi nama yang biasanya dipakai dalam arti “sarjana” atau “cendikiawan”, sedangkan nama sophistes khusus dipakai untuk guru-guru yang berkeliling dari kotake kota dan memainkan peranan penting dalam masyarakat Yunani sekitar paruh kedua abad ke-5. Di sini kita juga mempergunakan kata “Sofis” dalam arti terakhir ini.
Pada kemudian hari nama “Sofis” tentu tidak harum. Akibatnya masih terlihat dalam bahasa-bahasa modern. Dalam bahasa Inggris misalnya kata “sophist” menunjukkan seseorang yang menipu orang lain dengan mempergunakan argumentasi-argumentasi yang tidak sah. Cara berargumentasi yang dibuat dengan maksud itu dalam bahasa Inggris disebut “sophism” atau “sophistery”. Terutama Sokrates, Plato, dan Aristoteles dengan kritiknya pada kaum Sofis menyebabkan nama “Sofis” berbau jelek. Salah satu tuduhan adalah bahwapara Sofis meminta uang untuk pengajaran yang mereka berikan. Dalam dialog Protagoras, Plato mengatakan bahwa para Sofis merupakan “pemilik warung yang menjual barang rohani” (313 c). Dan Aristoteles mengarang buku yang berjudul Sophistikoi elenchoi (cara-cara berargumentasi kaum Sofis); maksudnya, cara berargumentasi yang tidak sah. Demikian para Sofis memperoleh nama jelek, hal mana masih dapat dirasakan sampai pada hari ini, sebagaimana nyata dengan contoh-contoh dari bahasa Inggris tadi.[1]

Faktor-faktor yang menjelaskan munculnya Sofistik
Aliran yang disebut Sofistik tidak merupakan suatu mazhab, para sofis tidak mempunyai ajaran bersama. Sebaliknya Sofistik dipandang sebagai suatu aliran atau pergerakan dalam bidang intelektual yang disebabkan beberapa faktor yang timbul dalam masyarakat Yunani pada zaman itu. Berikut faktor-faktor yang menjelaskan munculnya Sofistik:
Sesudah perang Parsi selesai (tahun 449 SM), Athena berkembang pesat dalam bidang politik dan ekonomi. Di bawah pimpinan Perikles polis inilah yang menjadi pusat seluruh dunia Yunani. Sampai saat itu Athena belum mengambil bagian dalam filsafat dan ilmu pengetahuan yang sedang berkembang sejak abad ke-6. Tetapi sering kali dalam sejarah dapat disaksikan bahwa negara atau kota yang mengalami zaman keemasan dalam bidang politik dan ekonomi menjadi pusat pula dalam bidang intelektual dan kultural. Demikian halnya juga dengan kota Athena. Kita sudah melihat bahwa Anaxagoras adalah figur pertama yang memilih Athena sebagai tempat tinggalnya. Para Sofis tidak membatasi aktivitasnya pada polis Athena saja. Mereka adalah guru-guru yang bepergian keliling dari satu kota ke kota lain. Tetapi Athena sebagai pusat kultural yang baru mempunyai daya tarik khusus untuk kaum Sofis. Protagoras misalnya, yang dari sudut filsafat boleh dianggap sebagai tokoh yang utama antara para Sofis, sering-sering mengunjungi Athena.
Faktor lain yang dapat membantu untuk memahami timbulnya gerakan Sofistik adalah kebutuhan akan pendidikan yang dirasakan di seluruh Hellas pada waktu itu. Sudah kami utarakan bahwa bahasa merupakan alat politik yang terpenting dalam masyarakat Yunani. Sukses tidaknya dalam bidang politik sebagian besar tergantung pada kemahiran berbahasa yang diperlihatkan dalam sidang umum, dewan harian atau sidang pengadilan. Itu teristimewa benar dalam masa yang dibahas di sini, karena hidup politik sangat diutamakan. Khususnya di Athena, yang sekarang mengalami puncaknya sebagai polis yang tersusun dengan cara demokratis. Itulah sebabnya tidak mengherankan bahwa orang muda merasakan kebutuhan akan pendidikan serta pembinaan, supaya nanti mereka dapat memainkan peranannya dalam hidup politik. Sampai saat itu pendidikan di Athena tidak melebihi pendidikan elementer saja. Kaum Sofis memenuhi kebutuhan akan pendidikan lebih lanjut. Mereka mengajarkan ilmu-ilmu seperti metematika, astronomi, dan terutama tata bahasa. Mengenai ilmu yang terakhir ini mereka boleh dipandang sebagai perintis. Dan tentu saja, kaum Sofis juga mempunyai jasa-jasa besar dalam mengembangkan ilmu retorika atau berpidato. Selain dari pelajaran dan latihan untuk orang muda, mereka juga memberi ceramah-ceramah dengan cara populer untuk khalayak ramai yang lebih luas.
Dari uraian di atas ini boleh ditarik kesimpulan bahwa kaum Sofis untuk pertama kali dalam sejarah menggelar pendidikan untuk orang muda. Dari sebab itu paideia (kata Yunani untuk “pendidikan”) dapat dianggap sebagai suatu penemuan Yunani. Itulah salah satu jasa yang besar sekali, yang pengaruhnya masih berlangsung terus sampai dalam kebudayaan modern.
Faktor ketiga yang mempengaruhi timbulnya aliran Sofistik boleh dilukiskan sebagai berikut. Karena pergaulan dengan banyak negara asing, orang Yunani mulai menginsyafi bahwa kebudayaan mereka berlainan dari kebudayaan-kebudayaan lain. Kebudayaan Yunani terletak di tengah kebudayaan-kebudayaan yang coraknya sangat berlainan. Dapat terjadi bahwa apa yang dengan tegas ditolak dalam kebudayaan yang satu, sangat dihargai dalam kebudayaan yang lain. Sejarawan Yunani Herodotos yang hidup pada zaman ini dan banyak bepergian ke negeri-negeri lain, telah menuliskan pengalaman itu dengan cukup jelas, dan ia menyetujui pendirian penyair Pindaros bahwa adat-istiadat adalah segala-galanya. Pengalaman itu menampilkan banyak pertanyaan. Apakah peraturan-peraturan etis, lembaga-lembaga sosial dan tradisi-tradisi religius hanya merupakan suatu kebiasaan atau konvensi saja? Apakah kesemuanya itu hanya kebetulan tersusun begitu? Apakah mungkin suatu susunan yang sama sekali berlainan? Para Sofis akan merumuskan persoalan ini dengan bertanya: apakah peraturan etis beralaskan adat kebiasaan (nomos) atau beralaskan kodrat (physis)? Pada umumnya para Sofis akan menjawab bahwa hidup sosial tidak mempunyai dasar kodrati. Sampai-sampai Protagoras tidak ragu-ragu mengatakan bahwa manusia adalah ukuran untuk segala sesuatu. Dengan demikian kaum Sofis jatuh dalam relativisme di bidang tingkah laku etis dan di bidang pengenalan. Dengan relativisme dimaksudkan pendirian bahwa baik buruk dan benar salah itu bersifat relatif saja. Atau dengan kata lain, baik buruk dan benar salah tergantung pada manusia bersangkutan. Sokrates dan Plato dengan tajam sekali akan mengkritik pendirian itu. Tetapi dapat dibayangkan bahwa kaum Sofis mengalami sukses besar dengan anggapannya yang menentang tradisi-tradisi tua, terutama dalam kalangan kaum muda. Dalam hal ini angkatan muda Yunani tidak berbeda banyak dengan angkatan muda pada zaman lain, karena mereka selalu cenderung membuang yang kolot dan memihak kepada yang serba baru.[2]

Pengaruh aliran Sofistik
Dalam uraian-uraian sejarah filsafat, kaum Sofis tidak selalu dipandang dengan cara yang sama. Kadang-kadang dikemukakan pertimbangan yang agak negatif. Tetapi dalam uraian-uraian lain kaum Sofis direhabilitasikan lagi dengan penilaian yang lebih positif. Pada aliran Sofistik sendiri terdapat dua aspek yang menampilkan penilaian yang berbeda-beda itu.
Di satu pihak gerakan para Sofis menyatakan krisis yang tampak dalam pemikiran Yunani. Rupanya pada waktu itu orang merasa jemu dengan sekian banyak pendirian yang telah dikemukakan dalam filsafat prasokratik. Reaksinya adalah skeptisisme yang dianut oleh para Sofis. Kebenaran diragukan dan dasar ilmu pengetahuan sendiri digoncangkan (Protagoras, Gorgias). Dengan itu, Sofistik pasti mempunyai pengaruh negatif atas kebudayaan Yunani waktu itu. Banyak nilai tradisional dalam bidang agama dan moralitas mulai roboh. Peranan polis sebagai kesatuan sosial-politik mulai merosot, karena kaum Sofis memajukan suatu orientasi pan-Hellen. Tekanan pada ilmu berpidato dan kemahiran berbahasa menampilan bahaya bahwa teknik berpidato akan dipergunakan untuk maksud-maksud jahat. Kalau prinsip Protagoras, yakni “membuat argumen yang paling lemah menjadi yang paling kuat”, dikaitkan dengan relativisme dalam bidang moral, maka dengan sendirinya jalan terbuka untuk penyalahgunaan itu. Sofis-sofis yang besar seperti Protagoras dan Gorgias tidak menyalahgunakan ilmu berpidato untuk maksud-maksud jahat. Mereka adalah orang yang dihoramati oleh umum karena moralitas yang bermutu tinggi. Hal yang sama tidak bisa dikatakan mengenai semua Sofis lain.
Akan tetapi, di lain pihak aliran Sofistik pasti juga mempunyai pengaruh yang positif atas kebudayaan Yunani. Bahkan boleh dikatakan bahwa para Sofis mengakibatkan suatu revolusi intelektual di Yunani. Gorgias dan Sofis-sofis lain menciptakan gaya bahasa yang baru untuk prosa Yunani. Sejarawan-sejarawan Yunani yang besar, seperti Herodotos dan Thukydides, dipengaruhi secara mendalam oleh pemikiran Sofistik. Pandangan hidup kaum Sofis bergema juga pada dramawan-dramawan yang tersohor seperti Sophokles dan terutama Euripides. Dan kami sudah menyebut sebagai jasa-jasa Sofistik bahwa mereka mengambil manusia sebagai objek bagi pemikiran filsafat dan bahwa mereka meletekkan fundamen untuk pendidikan sitematis bagi kaum muda. Tetapi jasa mereka yang terbesar ialah bahwa mereka mempersiapkan kelahiran filsafat baru. Sokrates, Plato dan Aristoteles akan merealisasikan filsafat baru itu.[3]


B. Sokrates

Tidak ada orang yang tahu persis bilamana Sokrates dilahirkan. Yang jelas ialah, bahwa pada tahun 399 ia dijatuhi hukuman mati dengan harus minum racun. Oleh karena pada waktu itu ia berumur 70 tahun, maka barangkali ia dilahirkan pada tahun ± 470 SM. Agaknya ia berasaldari keluarga kaya, yang kemudian menjadi miskin. Yang terang ialah bahwa ia mendapat pendidikan yang baik.[4]
Pada tahun 399 Anytos, seorang yang empat tahun lebih dahulu turut dalam memulihkan demokrasi di Athena, mengemukakan tuduhan yang mengakibatkan perkara pengadilan terhadap Sokrates. Tuduhan itu berbunyi: “Sokrates bersalah, karena ia tidak percaya pada dewa-dewa yang diakui oleh polis dan mengintrodusir praktek-praktek religius yang baru; ia juga bersalah, karena ia mempunyai pengaruh yang kurang baik atas kaum muda.” Hampir semua informasi yang kita punyai tentang sidang pengadilan itu berasal dari karangan Plato yang disebut Apologia (“Pembelaan Sokrates”). Dalam karangan ini Sokrates membela dirinya di hadapan hakim-hakimnya. Sekalipun karangan ini tentu tidak boleh dianggap sebagai laporan harfiah mengenai sidang itu, namun para ahli kesusastraan Yunani berpendapat bahwa Plato mempergunakan data-data historis yang dapat dipercaya. Sokrates dinyatakan bersalah dengan mayoritas 60 suara (280 melawan 220). Lalu pendakwa menuntut hukuman mati. Menurut kebiasaan Athena, terdakwa diizinkan mengusulkan hukuman mati. Kalau seandainya Sokrates mengusulkan supaya dibuang ke luar kota, usul itu tentu akan diterima. Tetapi Sokrates pada usia 70 tahun tidak mau meninggalkan kota asalnya. Sebenarnya Sokrates bermaksud mengusulkan satu “mina” (mata uang Athena) sebagai denda, tetapi atas dorongan sahabat-sahabatnya ia mempertinggi jumlahnya sampai 30 mina, lebih-lebih karena mereka menawarkan untuk menanggung pembayarannya. Tetapi sidang memutuskan hukuman mati, karen denda 30 mina dianggap terlalu kecil dan terutama karena Sokrates dalam pembelaannya dirasakan menghina hakim-hakimnya. Biasanya hukuman mati dijalankan dalam waktu 24 jam. Tetapi pada waktu Sokrates dijatuhi hukuman mati, suatu perahu layar Athena yang keramat sedang melakukan perjalanan tahunan ke kuil di pulau Delos dan menurut hukum Athena hukuman mati baru boleh dijalankan, bila perahu itu sudah kembali. Dari sebab itu, satu bulan lamanya Sokrates tinggal lagi dalam penjara, sambil bercakap-cakap dengan sahabat-sahabatnya. Salah seorang di antara mereka, bernama Kriton, telah mengusulkan supaya Sokrates melarikan diri. Tetapi Sokrates menolak. Dalam dialog yang berjudul Phaidon, Plato menceritakan percakapan Sokrates dengan muri-muridnya pada hari terakhir hidupnya dan ia melukiskan pula bagaimana Sokrates waktu senja dengan tenang minum cawan berisi racun, dikelilingi oleh sahabat-sahabatnya.[5]

Ajaran Sokrates
Seperti halnya dengan para Sofis, Sokrates juga memberi pelajaran kepada rakyat. Sama halnya dengan kaum Sofis ia mengarahkan perhatiannya kepada manusia. Perbedaannya dengan para kaum terletak di sini, bahwa Sokrates tidak memungut biaya bagi pengajarannya. Kecuali itu maksud dan tujuan ajaran-ajarannya bukan untuk meyakinkan orang lain supaya mengikuti dia, tetapi untuk mendorong orang supaya mengetahui dan menyadari sendiri.[6]
Sebagaimana para Sofis, Sokrates pun berbalik dari filsafat alam. Sebagaimana juga para Sofis, Sokrates pun memilih manusia sebagai objek penyelidikannya dan ia memandang manusia lebih kurang dari segi yang sama seperti mereka: sebagai makhluk yang mengenal, yang harus mengatur tingkah lakunya sendiri dan yang hidup dalam masyarakat. Sebagaimana para Sofis, Sokrates pun memulai filsafatnya dengan bertitik tolak dari pengalaman sehari-hari dan dari kehidupan yang konkret. Tetapi ada satu perbedaan yang penting sekali antara Sokrates dan kaum Sofis, yaitu Sokrates tidak menyetujui relativisme yang dianut oleh kaum Sofis. Menurut Sokrates ada kebenaran objektif, yang tidak tergantung pada saya atau pada kita. Akan tetapi, sebaiknya kita tidak memandang keyakinan Sokrates itu dari sudut “kebenaran” saja, karena dengan itu barangkali kita menampilkan kesan seakan-akan Sokrates mencurahkan pikirannya dalam bidang teoritis. Padahal, ia hanya memperhatikan hidup praktis saja, yaitu tingkah laku manusia. Itulah sebabnya lebih tepat kita merumuskan keyakinan Sokrates dengan mengatakan bahwa menurut dia bukan sembarang tinkah laku boleh disebut baik. Ada kelakuan yang baik dan ada kelakuan yang kurang baik. Ada tindakan yang pantas dan ada tindakan yang jelek. Sokrates yakin bahwa berbuat jahat adalah suatu kemalangan bagi seorang manusia dan bahwa berbuat baik adalah satu-satunya kebahagiaan baginya. Dari sebab itu Sokrates berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti berikut ini. Apakah itu hidup yang baik? Apakah kebaikan itu, yang mengakibatkan kebahagiaan seorang manusia? Apakah norma yang mengizinkan kita menetapkan baik buruknya suatu perbuatan?[7]

Cara Sokrates memberikan ajarannya
Cara Sokrates memberikan ajarannya adalah: ia mendatangi bermacam-macam orang (ahli politik, pejabat, tukang dan lain-lain). Kepada mereka dikemukakan pertanyaan-pertanyaan mengenai pekerjaan mereka, hidup mereka sehari-hari dan lain-lain. Jawaban mereka pertama-tama dianalisa dan disimpulkan dalam suatu hipotese. Hipotese ini dikemukakan lagi kepada mereka dan dianalisa lagi. Demikian seterusnya hingga ia mencapai tujuannya, yaitu: membuka kedok segala aturan atau hukum-hukum yang semu, sehingga tampak sifatnya yang semu, dan mengajak orang melacak atau menelusur sumber-sumber hukum yang sejati. Supaya tujuan itu tercapai diperlukan suatu pembentukan pengertian yang murni.
Oleh karena pendidikan retorika yang telah diberikan para kaum sofis telah menjadikan banyak orang sombong, maka sering dengan cara yang menggelikan Sokrates mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sengaja dimaksud untuk membingungkan orang-orang itu.Karena jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu menjadi saling bertentangan, sehingga para penjawab ditertawakan orang banyak. Metode ini oleh Sokrates disebut metode ironi (eironeia). Segi positif dari metode ini terletak dalam usahanya untuk mengupas kebenaran dari kulit “pengetahuan semu” orang-orang itu.
Cara pengajaran Sokrates pada umumnya disebut dialektika, karena di dalam pengajaran itu dialog memegang peranan penting. Sebutan yang lain ialah maieutika, seni kebidanan, karena dengan cara Sokrates bertindak seperti seorang bidan yang menolong kelahiran bayi “pengertian yang benar”.[8]
[1] Prof.Dr.K.Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, Jogjakarta: Kanisius, 1999, h.83-84
[2] Ibid., h.84-86
[3] Ibid., h.92-93
[4] Dr.Harun hadiwijoyo, Sari Sejarah Filsafat Barat 1, Jogjakarta: Kanisius, 1980, h.35
[5] Op.Cit., h.100-101
[6] Op.cit., h.35
[7] Op.Cit., h.104
[8] Op.Cit., h.35-

Dikirim pada 23 Januari 2011 di Umum (general)
Awal « 1 » Akhir
Profile

>>> Username : Rayhania >>> Nickname : IU >>> My name : Ayu ريحاني Thamreen >>> Fullname : سري ايو ريحانية بنت محمد حسني تمرين More About me

Page
Archive
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 199.782 kali


connect with ABATASA