0




Umar bin Abdul Aziz dilahirkan di kota Hulwan, tidak jauh dari Kairo, ketika itu ayahnya yang jadi gubernur di Mesir. Tetapi Ibnu Abdil Hakam meriwayatkan bahwa Umar dilahirkan di Madinah. Silsilah keturunannya dari pihak ibunya, bersambung kepada Khalifah yang kedua, Umar bin Khattab. Sebab itu ia telah mewarisi daripadanya banyak sifat-sifat yang mulia dan jarang tandingannya. Bahkan dimasa kecilnya ia tinggal bersama paman-pamannya ibunya di Madinah. Dalam suasana yang semerbak itulah ia mempelajari bimbingan-bimbingan dan pendapat-pendapat yang sehat, dan disana pulalah ia bertumbuh dengan baiknya. Pendidikan yag diperolehnya dalam masa tersebut mempunyai pengaruh yang besar terhadap sifat-sifatnya yang istimewa dan terpuji itu.
Setelah ia meningkat remaja, ia kawin dengan Fathimah, putri Abdul Malik, pamannya sendiri. Pamannya ini dimasa hidupnya amat mencintainya. Dimasa pemerintahan Khalifah Al-Walid, Umar menjadi gubernur di Madinah. Disana ia mendapatkan reputasi yang baik.
Umar pernah dipecat oleh Khalifah Al-Walid dari jabatannya sebagai gubernur Madinah, karena terjadi perselisihan antara Umar dan Al-Hajjaj, atau karena umar tidak menyetujui tindakan Al-Walid untuk memecat Sulaiman bin Abdul Malik dari kedudukannya sebagai putra-mahkota, dan untuk mengangkat putra Al-Walid sendiri.
‘Umar adalah salah seorang dari khalifah-khalifah yang sedikit jumlahnya, yang dikejar oleh jabatan itu, walaupun mereka tidak mengharapkannya atau berusaha untuk mendapatkannya, bahkan ia ingin sekali untuk menjauhkan diri daripadanya. Umar melihat bahwa jabatan tersebut merupakan suatu ujian yang amat berat baginya.
Khalifah Sulaiman mempunyai seorang putra yang bernama Ayyub, dan dialah yang dicalonkan oleh Sulaiman untuk menjadi Khalifah sesudahnya. Tetapi sayang, ia meninggal lebih dahulu daripada ayahnya. Dan ketika Sulaiman sakit, ia minta nasihat kepada wazirnya – Raja’ ibnu Haiwah – tentang siapakah yang patut ditunjuk untuk menjadi khalifah sesudahnya. Sulaiman menanyakan pendapat Raja’ tentang Umar bin Abdul Aziz. Raja’ menyatakan pujiannya atas pribadi Umar, dan menganjurkan kepada Sulaiman untuk mengangkat Umar sebagai penggantinya.
Ketika dinobatkan sebagai khalifah, dia menyatakan bahwa memperbaiki dan meningkatkan negeri yang berada dalam wilayah Islam lebih baik daripada menambah perluasannya. Ini berarti bahwa prioritas utama adalah pembangunan dalam negeri. Meskipun masa pemerintahannya sangat singkat, di berhasil membangun hubungan baik dengan golongan Syi’ah. Dia juga memberi kebebasan kepada penganut agama lain untuk beribadah sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya. Pajak diperingan. Kedudukan mawali disejajarkan dengan muslim Arab.
Jabatannya sebagai Khalifah itu telah membagi kehidupan Umar menjadi dua bagian. Bagian pertama, kehidupan yang diliputi oleh kecongkakan, nyanyian-nyanyian, wangi-wangian dan kekayaan, serta serba neka dari gejala kemuliaan dan kekuasaan. Bagian kedua, yaitu kehidupan yang penuh dengan kepahitan dan perjuangan. Kehidupan yang serupa itu memang lazim dialami oleh raja-raja. Tetapi biasanya kehidupan yang pahit, getir dan penuh dengan penderitaan itu mereka alami sebelum menjadi raja. Dan setelah menduduki singgasana dapatlah mengenyam kenikmatan dan kebahagiaan hidup. Lain halnya dengan Umar bin Abdul Aziz ini. Di sebaliknya dari itu. Kehidupannya sebelum menjadi Khalifah penuh kebahagiaan dan kekayaan. Tetapi setelah menjadi Khalifah maka kehidupannya penuh dengan perjuangan, kesederhanaan dan kerja berat.105
Umar turunan Bani Umayyah; ayahnya Abdul Aziz bin Marwan, pamannya Khalifah agung Abdul Malik bin Marwan, sedang isterinya Fatimah binti Abdul Malik, saudara dari Al-Walid. Dari saluran ini ia beroleh rezeki yang baik serta mengenal dan mengenyam kehidupan dalam istana. Ia dididik dan dibesarkan dalam suasana yang penuh kenikmatan dan kemakmuran hidup. Harta kekayaannya berlimpah-limpah, sehingga ia memiliki tanah-tanah perkebunan di Hejaz, syam, Mesir, Yaman dan Bahrain. Dari sana ia beroleh penghasilan besar, sebanyak 40.000 dinar setiap tahun.
Dalam menjalankan kekuasaannya itu, ia mencampakkan seluruh cara hidup para raja seperti yang dilakukan oleh keluarga dan nene moyangnya, dan memilih bagi dirinya kehidupan yang hampir menyerupai kehidupan para khulafaur-rasyidin. Dan ia pun mengembalikan semua harta milik yang telah diwarisinya sendiri dengan cara yang tidak sah menurut syari’at, sehingga sampai-sampai ia mengembalikan perhiasan isterinya ke dalam baitul-maal. Dan dari jumlah 40.000 dinar yang menjadi penghasilannya setiap tahun, ia hanya mengambil bagi dirinya sebanyak 400 dinar setahun yang dimilikinya secara sah.
Adapun tanah-tanah yang dirampas, dan yang tak ada arsipnya, oleh Umar dinyatakan bahwa tanah-tanah tersebut dikembalikan kepada pemiliknya. Jika pemiliknya tak ada atau tidak diketahui, maka tanah itu dikembalikan ke Baitulmal.
Demikian pula ia telah memecat pejabat-pejabat dan petugas-petugasnya yang zalim dan menunjuk di tempat mereka orang-orang yang adil dan salih, serta menghapus pajak-pajak tidak sah yang tadinya dipungut dari rakyat oleh Bani Umayyah, dan ia membatalkan kewajiban membayar jizyah yang mereka tetapkan atas orang-orang yang baru masuk Islam dan mengirim perintah-perintahnya yang keras kepada para hakim agar tidak seorang pun, muslim atau non-muslim, didera walaupun hanya sekali tanpa haq dan agar tidak seorang pun dihukum dengan hukuman mati atau potong tangan sebelum menanyakan kepadanya dan meminta saran kepadanya.
Umar menghentikan peperangan-peperangan yang sedang dilancarkan terhadap golongan-golongan yang bukan Islam, atau terhadap kaum pembangkang dan pemberontak dalam kalangan kaum muslimin sendiri. Kemudian dilaksanakannya Dakwah Islamiyah kepada golongan-golongan yang bukan Islam itu, dengan menggunakan hikmah-kebijaksanaan serta pelajaran dan nasihat-nasihat yang baik. Terhadap kaum pembangkang dan Khawarij, maka Umar menundukkan mereka dengan dalil-dalil dan keterangan-keterangan yang dapat memuaskan hati mereka. Umar benar-benar telah mencapai sukses besar dalam kedua bidang usahanya itu. Ia berhasil dalam dakwahnya mengajak orang-orang yang belum Islam itu dengan menggunakan hikmah-kebijaksanaan serta pelajaran dan nasihat-nasihat yang baik. Terhadap kaum pembangkang dan Khawarij, maka Umar menundukkan mereka denagn dalil-dalil dan keterangan-keterangan yang dapat memuaskan hati mereka. Umar benar-benar telah mencapai sukses besar dalam kedua bidang usahanya itu. Ia berhasil dalam dakwahnya mengajak orang-orang yang belum Islam itu untuk masuk ke dalam agama Islam. Dan ia juga beroleh sukses dalam diskusi dan perdebatan dengan kaum pemberontak dalam kalangan kaum muslimin sendiri. Riwayat hidupnya yang harum semerbak itu merupakan pembantu yang baik baginya untuk mencapai kemenangannya itu, hingga akhirnya raja-raja masuka agama Islam berkat dakwah yang dilakukan Umar, dan kemudian diikuti oleh rakyat mereka. Begitu pula banyak penduduk Mesir, Siria dan Persia masuk Islam, yang sebelum itu belum lagi menganut agama islam, walaupun agama Islam itu telah masuk ke negeri mereka, karena sudah merasa puas dengan status mereka sebagai ahluzzimmi dengan kewajiban membayar jizyah. Kemudian mereka tertarik dengan sifat toleransi Umar untuk menganut agama Islam. Dan hal ini adalah salah satu sebab yang menjadikan masa pemerintahan Umar dikenal pula dengan sebutan “masa Islamnya negeri-negeri yang ditaklukkan”.
Umar mengurangi beban pajak yang biasa dipungut dari orang-orang Nasrani. Dan ia menghentikan pemungutan jizyah dari orang-orang yang masuk Islam di antara mereka. Maka berbondong-bondonglah mereka masuk Islam, karena penghargaan mereka yang tinggi terhadap agama Islam dan terhadap Umar pribadi, dan juga karena ingin bebas dari kewajiban membayar jizyah.
Umar menyamaratakan antara bangsa Arab dan yang bukan Arab, sebagaimana yang dikehendaki oleh syariat Islam. Dengan tindakan ini Umar telah berhasil mengatasi dan menghabisi masalah mawali yang sering dibicarakan dengan panjang lebar oleh para ahli sejarah.
Salah satu dari perbaikan-perbaikan yang dilakukan Umar ialah perbaikan tanah-tanah pertanian, penggalian sumur-sumur dan pembangunan jalan-jalan dan menyediakan tempat-tempat penginapan bagi orang-orang yang dalam perjalanan. Umar juga memberikan perhatian yang besar terhadap orang-orang miskin yang sangat memerlukan pertolongan, dan orang-orang sakit. Ia juga memperbaiki masjid-masjid, tetapi ia tidak begitu mementingkan segi keindahan masjid-masjid tersebut.
Perbaikan-perbaikan yang dilakukan Umar juga meliputi dinas pos. dinas pos itu diberinya tugas tidak hanya membawa berita-berita resmi dari para gubernur dan pegawai-pegawai kepada Khalifah saja, bahkan juga untuk meladeni kepentingan rakyat. Umar memerintahkan kepada pegawai pos supaya menerima semua surat-surat yang diserahkan orang kepadanya, untuk disampaikan kepada yang berhak.
Adalah wajar bahwa para gubernur juga mengikuti tindak-tanduk Khalifah Umar. Ia telah memilih mereka dengan cermat, dan mengawasi pekerjaan mereka dengan teliti. Adapun siasat Umar terhadap gubernur-gubernurnya, antara lain ialah menaikkan gajih mereka, sehingga gaji seorang gubernur di masa itu ada yang sampai 3000 dinar.
Umar meninggal dunia tatlkala badannya menjadi kurus, karena terlalu banyak mencurahkan tenaganya, dan terlalu mengekang nafsunya sampai hidupnya menderita.
Versi lain menyebutkan bahwa Umar wafat karena diracun dimakanan oleh kaum Umayyah.



Referensi:
Abul a’la al-maududi, Khilafah dan Kerajaan, Bandung: Mizan, tt
Dr.Badri Yatim, MA, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006
Dr.Yusuf al-qaradhawi, Distorsi Sejarah Islam, Cet.I, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2005
Prof.Dr.A.Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jilid 2, Cet.IV, Jakarta: Al-Husna Zikra, 2000
W.Montgomery watt, Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis, Cet.I, Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1990

Dikirim pada 24 Januari 2011 di Sejarah (history)




1. Muhammad Abduh

Muhammad Abduh (Arab: محمد عبده) (Delta Nil, 1849 - Alexandria, 11 Juli 1905) adalah seorang Mesir ahli hukum, ulama reformis dan liberal, yang dianggap sebagai pendiri Modernisme Islam. Muhammad Abduh lahir pada tahun 1849 dalam sebuah keluarga petani di Mesir Hilir. Ia dididik oleh guru privat dan qari dari Quran. Pada tahun 1862 dia dimasukkan ke sekolah agama yang ada di Thantha, tetapi nampaknya kurang tertarik. Karena itu dia keluar dari sekolah tersebut dan masuk kembali pada tahun 1865. Tetapi pada tahun berikutnya dia meninggalkan Thantha dan belajar di Al-Azhar, Kairo. Di Al-azhar perhatian abduh terpusat pada pelajaran tasawuf dan kehidupan sufi. Dalam tahun 1872, Abduh berkenalan dengan Al-afghani, dan darinya dia belajar melihat islam dan ajaran islam dari kacamata yang baru. Al-Afghani memperkenalkan kepadanya karya-karya penulis barat yang telah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa arab, serta tentang masalah-masalah politik dan social yang tengaah dihadapi oleh rakyat mesir sendiri maupun umat islam pada umumnya. Kemudian Abduh menjadi salah satu pengikut al-afghani yang setia. Atas pengaruh Al-Afghani lah abduh belajar jurnalistik, yang terus dipraktekkannya.
Menurut Abduh, untuk dapat memulihkan kejayaan umat islam harus kembali kepada ajaran Islam yang masih murni seperti yang dulu diamalkan oleh generassi Islam yang pertama (Salafiyah). Selain itu umat islam juga perlu bersatu untuk melawan kezaliman penguasa, lebih-lebih terhadap imperialis dan kolonialis barat. Namun pendidikan juga sangat diperlukan untuk mengembalikan kejayaan islam dan tidak ada salahnya bila kita belajar dari barat yang lebih unggul dalam bidang ilmu, teknologi dan organisasi.
Pada tahun 1877 Abduh menyelesaikan pendidikannya di Al-azhar dengan gelar saarjana Alim. Pada tahun 1879 dia diangkat menjadi pengajar di Dar al-Ulum, tetapi pada tahun itu juga diberhentikan dengan alasan yang tidak jelas. Sementara itu Al-Afghani diusir dari mesir. Pada tahun 1880 Abduh diangkat menjadi pimpinan majalah resmi Al-Waqa’i al-Misriyah, yang dibawah pimpinannya berubah menjadi corong Partai Liberal. Atas tuduhan terlibat dalam pemberontakkan Urabi Pasha yang gagal, meskipun keterlibatan itu tidak jelas, pada akhir tahun 1882 Abduh diusir dari mesir. Abduh pergi ke Beirut, Libanon, baru kemudian paada tahun 1884 dia menggabungkan diri dengan Al-afghani di Paris. Mereka membentuk oganisasi Al-Urwah al-Wutsqa, dan menerbitkaan majalah yang senama dengan organisasi tersebut., namun majalah tersebut hanya berumur 8 bulan. Dari Paris dia pindah ke Tunisia, tetapi sejak awal tahun 1885 dia menetap di Beirut. Dalam kurun waktu itu Abduh sempat menyalin satu-satunya buku karya tulis Afghani yang cukup berarti, yang berisi sangggahan terhadap pahaam atheisme, dari bahasa Persia ke bahasa Arab.
Pada tahun 1889 Abduh diampuni dan diizinkan kembali ke Mesir, dan tak lama kemudian dia diangkat menjadi hakim pada Tribunaux Indigine (Pengadilan untuk pribumi), dua tahun kemudian diangkat sebagai penasehat Cour d’appel 9Mahkamah Banding). Pada tahun 1899 dia menjadi mufti Negara sampai wafatnya pada tahun 1905.



2. Rasyid Ridha

Sosok intelektual satu ini bernama lengkap Muhammad Rasyid bin Ali Ridha bin Syamsuddin bin Baha�uddin Al-Qalmuni Al-Husaini. Namun, dunia Islam lebih mengenalnya dengan nama Muhammad Rasyid Ridha. Ia lahir di daerah Qalamun (sebuah desa yang tidak jauh dari Kota Tripoli,Lebanon)pada 27Jumadil Awal 1282 H bertepatan dengan tahun 1865 M.
Muhammad Rasyid Ridha dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga terhormat dan taat beragama. Dalam sebuah sumber dikatakan bahwa Rasyid Ridha masih memiliki pertalian darah dengan Husin bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad SAW.
Rasyid Ridha adalah seorang intelektual muslim dari Suriah yang mengembangkan gagasan modernisme Islam yang awalnya digagas oleh Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh. Ridha mempelajari kelemahan-kelemahan masyarakat muslim saat itu, dibandingkan masyarakat kolonialis Barat, dan menyimpulkan bahwa kelemahan tersebut antara lain kecenderungan umat untuk mengikuti tradisi secara buta (taqlid), minat yang berlebihan terhadap dunia sufi dan kemandegan pemikiran ulama yang mengakibatkan timbulnya kegagalan dalam mencapai kemajuan di bidang sains dan teknologi. Ia berpendapat bahwa kelemahan ini dapat diatasi dengan kembali ke prinsip-prinsip dasar Islam dan melakukan ijtihad dalam menghadapi realita modern.
Selain menekuni pelajaran di sekolah tempat ia menimba ilmu, Rasyid Ridha juga rajin mengikuti beberapa perkembangan dunia Islam melalui surat kabar Al-�Urwah Al-Wusqo (sebuah surat kabar berbahasa Arab yang dikelola oleh Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh, dan diterbitkan selama masa pengasingan mereka di Paris). Melalui surat kabar ini, Rasyid Ridha mengenal gagasan dua tokoh pembaru yang sangat dikaguminya, yaitu Jamaluddin Al-Afghani, seorang pemimpin pembaru dari Afghanistan, dan Muhammad Abduh, seorang pembaru dari Mesir. Ide-ide brilian yang dipublikasikan itu begitu berkesan dalam dirinya dan menimbulkan keinginan kuat untuk bergabung dan berguru pada kedua tokoh itu. Keinginan untuk bertemu dengan Al-Afghani ternyata belum tercapai, karena tokoh ini lebih dahulu meninggal dunia. Namun, ketika Muhammad Abduh ke Beirut, Rasyid Ridha berkesempatan berdialog serta saling bertukar ide dengan Abduh. Pertemuan dan dialog dengan Muhammad Abduh semakin menumbuhkan semangat juang dalam dirinya untuk melepaskan umat Islam dari belenggu keterbelakangan dan kebodohannya. Rasyid ridha meyakini kebenaran gerakan Salafiyah yang dipelopori oleh Afghani dan Abduh, dan menariknya sedikit demi sedikit dari ajaran tasawuf tradisional.
Salafiyah adalah suatu aliran keagamaan yang berpendirian bahwa untuk dapat memulihkan kejayaan umat islam harus kembali kepada ajaran Islam yang masih murni seperti yang dulu diamalkan oleh generassi Islam yang pertama, yang biasa juga disebut salaf (pendahulu) yang saleh.
Di Lebanon, Rasyid Ridha mencoba menerapkan ide-ide pembaruan yang diperolehnya. Namun, upayanya ini mendapat tentangan dan tekanan politik dari Kerajaan Turki Usmani yang tidak menerima ide-ide pembaharuan yang dilontarkannya. Akibat semakin besarnya tentangan itu, akhirnya pada 1898, Rasyid Ridha pindah ke Mesir mengikuti gurunya, Muhammad Abduh, yang telah lama tinggal di sana.
Al-Manar adalah majalah mingguan yang diasuh oleh Ridha dan abduh. Antara lain, menyebarkan ide-ide pembaharuan dalam bidang agama, sosial, dan ekonomi, memajukan umat Islam dan menjernihkan ajaran Islam dari segala paham yang menyimpang, serta membangkitkan semangat persatuan umat Islam dalam menghadapi berbagai intervensi dari luar. Dalam perjalanannya majalah ini banyak mendapat sambutan, karena ide-ide pembaharuan yang dilontarkan dalam setiap tulisannya.
Setelah menerbitkan majalah Al-Manar, Rasyid Ridha juga masih sangat aktif menulis dan mengarang berbagai buku dan kitab. Dia sempat mengajukan saran kepada gurunya agar menafsirkan kitab suci Alquran dengan penafsiran yang relevan dengan perkembangan zaman. Melalui kuliah tafsir yang rutin dilakukan di Universitas Al-Azhar, Rasyid Ridha selalu mencatat ide-ide pembaharuan yang muncul dalam kuliah yang diberikan Muhammad Abduh. Selanjutnya, catatan-catatan itu disusun secara sistematis dan diserahkan kepada sang guru untuk diperiksa kembali. Selesai diperiksa dan mendapat pengesahan, barulah tulisan itu diterbitkan dalam majalah Al-Manar. Kumpulan tulisan mengenai tafsir yang termuat dalam majalah Al-Manar inilah yang kemudian dibukukan menjadi tafsir Al-Manar. Pengajaran tafsir yang dilakukan Muhammad Abduh ini hanya sampai pada surah An-Nisa ayat 125, dan merupakan jilid ketiga dari seluruh Tafsir Al-Manar. Hal ini dikarenakan Muhammad Abduh telah dipanggil kehadirat Allah SWT pada 1905, sebelum menyelesaikan penafsiran seluruh isi Alquran. Maka, untuk melengkapi tafsir tersebut, Rasyid Ridha melanjutkan kajian tafsir sang guru hingga selesai.
Karya-karya yang dihasilkan semasa hidup Rasyid Ridha pun cukup banyak. Antara lain, Tarikh Al-Ustadz Al-Imama Asy-Syaikh �Abduh (Sejarah Hidup Imam Syaikh Muhammad Abduh), Nida� Li Al-Jins Al-Latif (Panggilan terhadap Kaum Wanita), Al-Wahyu Muhammad (Wahyu Allah yang diturunkan kepada Muhammad SAW), Yusr Al-Islam wa Usul At-Tasyri� Al-�Am (Kemudahan Agama Islam dan dasar-dasar umum penetapan hukum Islam), Al-Khilafah wa Al-Imamah Al-Uzma (Kekhalifahan dan Imam-imam besar), Muhawarah Al-Muslih wa Al-Muqallid (dialog antara kaum pembaharu dan konservatif), Zikra Al-Maulid An-Nabawiy (Peringatan Kelahiran Nabi Muhammad saw),dan haquq al-mar’ah as-shalihah (hak-hak wanita muslimah).
Setelah menebarkan kiprah dirinya dalam banyak bidang, pada bulan Agustus tahun 1935, sekembalinya dari Suez setelah mengantarkan Pangeran Su’ud, ia meninggal dunia dan meninggalkan banyak ide-ide pembaruan, yang cukup memberikan pengaruh terhadap generasi selanjutnya.

Dikirim pada 24 Januari 2011 di Sejarah (history)


BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Ali bin Abi Thalib adalah sepupu Rasulullah saw. Beliau adalah anak Abu Thalib, paman Rasul. Beliau juga adalah suami dari Fatimah azZahra, puteri Rasul. Ayah dari Hasan dan Husein, dan dari sinilah berkembang keturunan Rasulullah.
Setelah khalifah Utman terbunuh, terjadilah pergolakan politik. Dan sebagian besar kaum Muslim secara aklamasi memilih serta menunjuk imam Ali sebagai khalifah. Namun ada sebagian golongan yang tidak menyukai diangkatnya Ali sebagai khalifah, karena mereka juga menginginkan tahta tersebut dan khawatir akan musnahnya kenyamanan yang mereka peroleh selama ini apabila Ali menjabat sebagai khalifah. Karena Ali dikenal sebagai orang yang sangat keras dan disiplin serta perhitungan dalam mengeluarkan harta negara. Dalam merealisasikan usahanya, Ali menghadapi banyak tantangan dan peperangan, sebab tidak dapat dipungkiri bahwa gerakan pembaharuan yang dirancangnya dapat merongrong dan menghancurkan keuntungan-keuntungan beberapa pribadi dan kelompok.[1]
Pada mula-mula Ali menghadapi tantangan dari Ummul Mukminin Aisyah ra. dalam perang jamal, perang ini terjadi karena pihak Aisyah menuntut bela atas pembunuhan Utsman bin Affan, sedangkan faktor internnya adalah hasutan dari keponakan Aisyah yang juga menginginkan tahta kekhalifahan. Maka terjadilah peperangan antar saudara ini.
Kemudian majulah Muawiyah dan pengikutnya menentang pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Maka mereka pun bertemu dalam perang Shiffin antar laskar Ali bin Abi Thalib dan laskar Muawiyah.
Selain perang jamal dan perang shiffin, Ali juga menghadapi tantangan dari pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan oleh kaum khawarij. Maka pada masa pemerintahan kekhalifahan Ali bin Abi thalib banyak diwarnai pergolakan-pergolakan dan peperangan, sehingga pemerintahan Ali pun tidak dapat bertahan lama. Ali wafat terbunuh oleh pemberontak dari kaum khawarij.





BAB II
KHALIFAH ALI BIN ABI THALIB


A. Ali Menjadi Khalifah

Terbunuhnya Amirul Mu’minin, Utsman bin Affan, telah mengakibatkan kekacauan dan kemarahan besar umat islam di Madinah. Hal itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya umat islam khawatir akan terjadi bencana setelah mengetahui bahwa pemegang tampuk pemerintahan kosong. Mereka juga melihat imam Ali bin Abu Thalib adalah sosok yang pas untuk memegang jabatan khalifah setelah Utsman

[3]. Rakyat terbanyak, mereka menanti-nantikan Ali dan menyambutnya dengan tangan terbuka. Oleh karena itu pembai’ahan Ali adalah pembai’ahan dari rakyat terbanyak. Mereka segera datang kepada Ali untuk membai’ah beliau.
Sebagaimana diketahui bahwa musuh Ali itu banyak. Di antaranya ada yang menyembunyikan permusuhan itu, dan ada yang menyatakannya terang-terangan.
Kengkatan Ali dapat ditinjau dari berbagai jurusan. Bahwa yang tiada menyukai Ali diangkat menjadi khalifah, bukanlah rakyat umum yang terbanyak, tetapi segolongan kecil (keluarga Umayyah) yaitu keluarga yang pemuda-pemudanya telah banyak tewas dalam peperangan menantang islam. Sekarang mereka tergolong kaum elite, cabang atas. Mereka menantang Ali karena khawatir, kekayaan dan kesenangan mereka akan hilang lenyap karena keadilan yang akan dijalankan Ali.
Dengan memperhatikan suasana pembai’ahan Ali, dapat diambil kesimpulan bahwa pembai’ahan itu bukanlah dengan sepenuh hati kaum muslimin. Terutama bani umayyah, merekalah yang mempelopori orang-orang yang tidak menyetujui Ali.
Ali mempunyai watak dan pribadi sendiri, suka berterus-terang, tegas bertindak dan tak suka berminyak air. Ia tak takut akan celaan siapapun dalam menjalankan kebenaran. Disebabkan oleh kepribadian yang dimilikinya itu, maka sesudah ia dibai’ah menjadi khalifah, dikeluarkannya dua buah ketetapan:
memecat kepala-kepala daerah angkatan Utsman. Dikirmnya kepala daerah baru yang akan menggantikan. Semua kepala daerah angkatan Ali itu terpaksa kembali saja ke Madinah, karena tak dapat memasuki daerah yang ditugaskan kepadanya.
mengambil kembali tanah-tanah yang dibagi-bagikan Utsman kepada famili-famili dan kerabatnya tanpa jalan yang sah. Demikian juga hibah atau pemberian Utsman kepada siapa pun yang tiada beralasan, diambil Ali kembali.
Banyak pendukung-pendukung dan kerabat Ali yang menasehatinya supaya menangguhkan tindakan-tindakan radikal seperti itu, sampai keadaan stabil. Tetapi Ali kurang mengindahkan. Pertama-tama Ali mendapat tantangan dari keluarga Bani Umayyah. Mereka membulatkan tenaga dan bangunlah Muawiyah melancarkan pemberontakan memerangi Ali.[4]


B. Perang Jamal

Dinamakan perang jamal (unta) karena pada saat itu siti Aisyah isteri Rasulullah dan puteri Abu Bakar asShidiq ikut dalam perang ini dengan mengendarai unta. Peperangan ini dipicu karena pasukan Aisyah menuntut agar dilakukan balasan setimpal atas terbunuhnya Utsman.
Dalam perang jamal Thalhah dan Zubair menggabungkan diri dengan pasukan Aisyah. Sementara dari Yaman datang pula ke Makkah Ya’ali bin Umayyah – Gubernur angkatan Utsman – memberikan 600 keledai serta hartanya untuk disiapkan dalam menghimpun pasukan besar. Dari Basrah pun datang pula Abdullah bin Amir membawa harta yang banyak pula. Dan ditambah dengan keluarga Umayyah yang ada di Hejaz, mereka menggabungkan diri akan menuntut bela Utsman.
Ketika telah sampai ke daerah yang bernama Marbad, pasukan Aisyah telah mencapai 3.000 orang yang di dalamnya terdapat sekitar 1.000 orang Persia. Dari Basrah, banyak umat islam yang hendak ikut tergabung bersama pasukan ummul mu’minin.[5]
Ada faktor penting lain yang diperkirakan mendorong Aisyah mengikuti perang jamal, yaitu faktor Abdullah bin Zubair, putera saudara perempuannya bernama Asma. Abdullah bin Zubair ini diambil Aisyah dari Asma, dijadikan anak angkatnya, diasuh dan dididiknya di rumahya sendiri, karena Aisyah tiada dikaruniai anak. Oleh karena itu Aisyah biasa dipanggil Ummul Abdillah (ibunda Abdullah).
Abdullah mempunyai ambisi hendak menduduki kursi khalifah, tetapi keinginannya itu terhalang karena Ali. Maka dihasutnyalah Aisyah – bibinya – untuk menceburkan diri ke dalam peperangan melawan Ali, siapa tahu kalau Ali gugur, kesempatan akan terbuka baginya, karena tak da lagi orang yang akan menyainginya.
Dilihat secara umum, penduduk Basrah pecah dua, ada yang menyokong dan ada yang menantang. Antara kedua golongan ini terjadi perkelahian yang banyak memakan korban. Ratusan yang mati terutama dari golongan yang menantang Aisyah.
Kemudian Ali datang dengan balatentara yang banyak jumlahnya. Pertama-tama diusahakannya supaya Aisyah dan pengikut-pengikutnya mengurungkan maksud mereka. Dan kepada beberapa orang di antara mereka, diperingatkan Ali akan bai’ah dan sumpah seti yang telah diberikan mereka.
Nasehat Ali termakan oleh mereka. Diadakan perundingan yang hampir berhasil, kaum muslimin akan terhindar dari bahaya perang. Tetapi tanpa mendapat izin dari Ali, malah tidak setahunya, pengikut-pengikut Abdullah bin Saba’ memancing perkelahian dan dibalas oleh pengikut-pengikut Aisyah, maka terjadilah pertempuran antara dua golongan kaum muslimin, pengikut Ali dan pengikut Aisyah.
Pertempuran dalam perang ini terjadi sangat segit, sehingga Zubair melarikan diri. Dia dikejar oleh beberapa orang yang benci kepadanya, lalu dibunuh. Begitu juga Thalhah telah terbunuh pada permulaan perang ini. Akhirnya setelah unta yang ditunggangi ummul Mu’minin dapat dibunuh, maka berhentilah pertempuran dengan kemenangan di pihak Ali.[6]


C. Perang Shiffin

Perang Shiffin adalah peperangan antara Ali dan Muawiyah. Muawiyah adalah anak Abu Sufyan paman Utsman. Pemuka Bani Umayyah yang amat disegani dan dipatuhi oleh laskarnya.
Dengan memperhatikan selintas lalu, akibatnya yang kelihatan ialah Ali menang, tetapi jika diperhatikan dengan teliti kelihatanlah bahwa perang jamal ini akibatnya sangat besar dan amat dalam dari yang kelihatan semula.
Ribuan tentara Ali telah gugur. Hal ini telah melemahkan tentara Ali. Selanjutnya, pendukung-pendukung Aisyah yang terdiri dari kebanyakan dari penduduk Makkah, Madinah dan Basrah, ditambah dengan sahabat-sahabat Aisyah sendiri, telah gugur pula sebesar jumlah tersebut.
Banyaknya kaum muslimin yang gugur, menimbulkan dendam dan kusumat terhadap Ali. Jika ditilik pula laskar Ali, kebanyakan dari mereka belum pernah sebelumnya berkenalan dengan Ali, dan belum pernah berhutang budi kepada Ali, jadi hubungan yang akrab tidak ada. Untuk merangkul mereka, Ali tidak memiliki kekayaan yang cukup untuk menarik pahlawan-pahlawan dan orang-orang yang menyambung nyawa. Sekiranya kekayaan itu ada, Ali tidaklah akan gampang saja mengeluarkan harta kekayaan Tuhan itu, jika tidak pada tempatnya.
Sementara kekuasaan Muawiyah telah berurat akar di Syam. Sebagai seorang politikus ulung dia dapat mempergunakan kesempatan. Dia tahu betul bahwa jalan yang paling dekat untuk memikat hati manusia ialah: pemberian dan tipu muslihat.
Negeri Syam adalah negeri yang kaya raya, dan rakyatnya makmur. Semenjak mereka masuk islam, bahkan semenjak sebelaum daerah itu dimasuki islam, penduduknya belum pernah merasakan pemerintah yang selama dan semakmur yang dijalankan Muawiyah.
Amr bin Ash juga menggabungkan diri dengan Muawiyah dan dia pun masih keluarga Umayyah juga. Banyak lagi orang-orang terkemuka dan suku-suku arab yang terang-terangan memihak Muawiyah. Sementara itu, Muawiyah sudah sejak lama dapat membentuk tentara yang disiplin di Syam.[7]
Perang jamal mengakibatkan gugurnya ribuan tentara Ali, berarti dia kehilangan tenaga yang baik. Sementara itu Muawiyah memperkuat laskarnya dengan membagi-bagi uang kepada merak dan pengikutnya, sehingga ikatan kesatuan mereka menjadi kuat.
Mereka dapat dihasut Muawiyah menantang pembunuh-pembunuh Utsman. Baju gamis Utsman yang berlumuran darah dibentangkan Muawiyah di mimbar masjid. Berapa buah anak jari tangan isteri Utsman yang telah terpotong waktu dia menghambat pukulan-pukulan kaum pemberontak atas suaminya, ikut pula digantungkan Muawiyah pada baju gamis Utsman itu.[8]
Penduduk Syam menolak memberikan jabatan khalifah kepada Ali, karena hal itu menurut mereka berarti menyerahkan jabatan itu kepada Bani Hasyim untuk selamanya. Mereka berpendapat bahwa jabatan khalifah itu hak kaum muslimin. Dan mereka memihak kepada Muawiyah karena kehidupan mereka bertambah baik dan makmur dibawah pemerintahannya.
Dalam keadaan demikian, Ali maju dengan tentaranya ke Syam. Kedatangan Ali disambut oleh laskar Muawiyah. Kedua laskar bertemu di sebuah tempat dekat sungai Furat. Ali sudah berkali-kali meminta Muawiyah membai’ahnya dan bersatu dengannya, tapi Muawiyah tidak mendengarkan.[9]
Pertempuran terjadi di antara kedua laskar. Ali dengan keberaniannya dapat membangkitkan semangat dan kekuatan laskarnya, sehingga kemenangan sudah membayang baginya. Muawiyah yang sudah cemas, buru-buru memanggil Amr bin Ash. Dalam kondisi yang betul-betul kritis tersebut, Amr bin Ash mengusulkan mengangkat al-Quran tinggi-tinggi sebagai pertanda mengajak mengajak laskar lawan untuk melakukan tahkim kepada kitabullah.[10]
Laskar Ali menyambut dan mendukung rencana tahkim kepada al-Quran tersebut dan mendinginkan semangat untuk berperang. Akan tetapi berbeda halnya dengan Amirul mu’minin, beliau tetap bersikeras memberikan semangat kepada pasukannya agar tetap berperang dan dan tidak menghiraukan seruan musuh. Ali memberikan peringatan kepada laskarnya akan tipu-daya yang yang dilakukan Amr bin Ash. Tetapi seruan Ali tidak mendapat perhatian, malahan mereka memaksa Ali supaya mengumumkan bahwa perang dihentikan. Ali terpaksa mengikuti.


D. Tahkim

Kedua laskar memutuskan untuk memilih dua orang pelaku perdamaian (hakamain) dari kedua belah pihak. Muawiyah menugaskan Amr bin Ash sebagai perwakilan perdamaian dari pihaknya. Sedangkan dari pihak Ali ditunjuklah Abdullah bin Abbas,hanya saja kaum Khawarij dan penduduk Yaman menolak, mereka malah meminta Abu Musa al-Asy’ari untuk menjadi perwakilan perdamaian. Ali terpaksa menerima hal ini karena Abu Musa al-Asy’ari dipilih oleh suara terbanyak.
Kedua perwakilan ini berkumpul pada bulan Ramadhan. Sesungguhnya tidak terdapat keseimbangan dalam pertahkiman ini. Mereka bersepakat untuk menanggalkan pemimpin kedua belah pihak, yakni Ali dan Muawiyah. Maka tampillah Abu Musa al-Asy’ari dan Amr bin Ash untuk mengumumkan hasil tahkim mereka ke hadapan khalayak. Amr bin Ash mempersilakan Abu Musa al-Asy’ari untuk maju terlebih dahulu. Maka majulah Abu Musa mengumumkan bahwa dia telah menurunkan Ali dari jabatannya. Tetapi setelah itu, Amr bin Ash maju mengumumkan bahwa dia setuju memperhentikan Ali, kemudian diumumkannya bahwa dia menetapkan Muawiyah.
Peristiwa tahkim menimbulkan perpecahan pada laskar Ali. Kaum Khawarij mulailah memberontak dan meninggalkan Ali, dengan alasan Ali menerima tahkim, padahal kebanyakan kaum khawarij tadinya memaksa Ali supaya menerima tahkim. Mereka bukan tidak mengakui bahwa mereka tadinya mendesak Ali supaya menerima tahkim. Tetapi mereka masih menyalahkan Ali, kata mereka : “Kami telah salah, tetapi mengapa engkau ikut pekataan kami, padahal engkau tahu bahwa kami salah. Sebagai seorang khalifah, harus mempunyai pandangan yang jauh, melebihi pandangan kami, dan pandangan yang lebih tepat dari pendapat kami.” [11]
Kaum Khawarij tidak hanya meninggalkan Ali, malahan mereka juga melakukan berbagai pemberontakan dan pelanggaran di Irak.
Ali masih berusaha mengembalikan mereka kepada kebenaran dengan berbagai cara, tapi tidak berhasil. Akhirnya Ali mengambil keputusan memerangi mereka. Walaupun diperangi, namun mereka tidak dapat dihancurkan. Karena kalau Ali dapat menghancurkan mereka pada satu waktu atau tempat, lantas di wktu atau di tempat lain timbul lgi laskar mereka yang baru. Demikian seterusnya. Maka merosotlah kekuatan dan kekuasaan Ali.
Sementara di Syam kekuasaan dan kekuatan Muawiyah semakin kuat, ditambah lagi Sa’ad bin Abi Waqas dan Abdullah bin Umar juga menggabungkan diri dengan Muawiyah.


E. Akhir Riwayat Ali

Pada tahun 40H, tiga orang Khawarij yaitu Abdurrahman bin Muljam, Barak bin Abdillah at-Tamimy dan Amr bin Bakr at-Tamimy, berkomplot untuk membunuh Ali, Muawiyah dan Amr bin Ash. Karena menurut tiga orang Khawarij ini ketiga pemimpin inilah yang menyebabkan banyaknya pertikaian, perselisihan dan peperangan.
Maka Abdurrahman bin Muljam berangkat ke Kufah untuk membunuh Ali. Dia berhasil membunuh Ali dengan pedangnya pada saat Ali sedang memanggil orang untuk sholat. Orang-orang yang sholat di masjid itu dapat menangkap ibnu muljam, yang kemudian setelah Ali berpulang ke rahmatullah dia dibunuh.
Adapun Barak dapat menikam Muawiyah, tetapi tidak sampai membawanya mati. Sedangkan Amr bin Bark telah menantikan Amr bin Ash keluar untuk sholat subuh, tetapi beliau tidak keluar, karena kesehatannya terganggu.[12]
Dengan berpulangnya Ali ke rahmatullah habislah masa pemerintahan al Khulafaur Rasyidin.
[1] Prof.Dr.syed Hussain Mohammad Jafri, Moralitas Politik Islam, Cet.I, (Jakarta: Pustaka Zahra, 2003), h.16
[3] Hilmi Ali Sy’ban, ‘Ali bin Abu Thalib, Cet.I, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2004), h.32
[4] Prof.Dr.A.Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jilid I, Cet.V, (Jakarta: Pustaka Al husna, 1987), h.283-284
[5] Hilmi Ali Sy’ban, Op.Cit., , h.50
[6] Prof.Dr.A.Syalabi, Op.Cit., , h.292
[7] Ibid., h.300
[8] Ibid.
[9] Ibid.
[10] Hilmi Ali Sy’ban, Op.Cit., , h.73
[11] Prof.Dr.A.Syalabi, Op.Cit,. h.304
[12] Ibid., h.307

Dikirim pada 24 Januari 2011 di Sejarah (history)


BAB I
Pendahuluan


Islam memuat tigadimensi dasar yang harus dimiliki setiap muslim, yaitu iman, islam dan ihsan. Para ulama yang berjasa mempertahankan kesucian agama islam juga dapat digolongkan dalam tiga kelompok besar. Kelompok pertama bertugas memelihara dan mempertahankan kedudukan dasar-dasar iman. Kelompok kedua bertugas menjaga kedudukan islam dan pokok-pokok ajarannya. Sedangkan yang ketiga adalah kelompok penjaga kedudukan ihsan.
Makalah ini mencoba membahas kelompok ketiga, yang biasa dikenal sebagai para sufi, dengan ajaran tasawufnya. Khususnya ajaran sufi perempuan Rabi’ah al-Adawiyah tentang Cinta Illahi.
Ciri utama para sufi ialah usahanya yang gigih untuk mencapai puncak makrifat, hingga pada “pertemuan” dengan Allah. Untuk tujuan itu timbullah berbagai usaha merintis jalan untuk mencapainya. Pada mulanya zahid Hasan Basri menempuh zuhud dengan jalan khauf. Kemudian oleh Rabi’ah al-Adawiyah, khauf ditingkatkan pada cinta Illahi yang banyak mewarnai para sufi di zaman-zaman selanjutnya.
Cinta yang tumbuh karena cerahnya mata batin dalam melihat kemakhlukan diri, serta kesadaran akan kasih sayang Allah yang selalu dirasakan tak pernah berhenti membelai dirinya. Begitu dalam cinta tersebut sehingga kadang merasa mampu bersatu dengan Tuhan. Rabi’ah sendiri menolak lamaran karena tidak mau membagi cintanya kepada selain Allah, sehingga dia disebut Perawan Suci dari Basrah.





BAB II
Pembahasan


A. Sejarah Singkat Rabi’ah al-Adawiyah

Nama lengkap Rabi’ah adalah Rabi’ah bin Ismail al-Adawiyah al-Bashriyah al-Qaisiyah. Ia diperkirakan lahir pada tahun 95 H / 713 M atau 99 H / 717 M di suatu perkampungan dekat kota Basrah (Irak) dan wafat di kota itu pada tahun 185 H / 801 M. ia dilahirkan sebagai putri keempat dari keluarga yang sangat miskin. Itulah sebabnya orang tuanya menamakan Rabi’ah. Kedua orang tuanya meninggal ketika ia masih kecil. Konon pada saat terjadinya bencana perang di Basrah, ia dilarikan penjahat dan dijual kepada keluarga Atik dari suku Qais Banu Adwah. Dari sini ia dikenal dengan al-Qaisiyah atau al-Adawiyah. Pada keluarga ini ia bekerja keras, namun kemudian ia dibebaskan karena tuannya melihat cahaya yang memancar di atas kepala Rabi’ah dan menerangi seluruh ruangan rumah pada saat ia sedang beribadah.
Setelah dimerdekakan tuannya, Rabi’ah hidup menyendiri menjalani kehidupan sebagai zahidah dan sufiah. Ia menjalani sisa hidupnya hanya dengan ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah sebagai kekasihnya. Ia memperbanyak tobat dan menjauhi hidup duniawi. Ia hidup dalam kemiskinan dan menolak segala bantuan materi yang diberikan oleh orang lain kepadanya. Bahkan dalam doanya, ia tidak meminta hal-hal yang bersifat materi dari Tuhan.[1]
Rabi’ah al-Adawiyah telah dewasa dalam tapaan, dan tidak pernah berpikir berumah tangga. Bahkan akhirnya memilih hidup zuhud, menyendiri, beribadah kepada Allah. Ia tidak pernah menikah, karena ia tidak ingin perjalanannya menuju Tuhan mendapat rintangan. Perkawinan, baginya adalah rintangan. Ia pernah memanjatkan doa : “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari segala perkara yang menyibukkanku untuk menyembah-Mu. Dan dari segala penghalang yang merenggangkan hubunganku dengan-Mu.”
Di antar mereka yang mencoba membujuknya untuk menikah adalah Abdul Wajid bin Zaid, yang termasyur dalam kezuhudan dan kesucian hidupnya, seorang ahli ilmu agama, seorang khatib, dan penganjur hidup menyepi bagi siapa saja yang mencari jalan kepada Tuhan. Rabi’ah menolak lamarannya dan berkata : “Hai orang yang sangat bernafsu, carilah wanita lain yang juga sangat bernafsu sebagaimana dirimu. Apakah kau melihat ada tanda birahi dalam diriku?”
Muhammad bin Sulaiman al-Hasyimi, Amir Abbasiyah untuk Basrah pada saat itu, juga pernah melamar Rabi’ah. Setelah mendiskusikannya dengan para pejabat di Basrah, dia menawarkan mas kawin seratus ribu dinar dan menulis surat kepada Rabi’ah bahwa dia memiliki gaji sepuluh ribu dinar tiap bulan dan semua itu akan dilimpahkan kepada Rabi’ah. Tetapi Rabi’ah membalas surat itu dengan : “Hal itu tidaklah menyenangkanku, kamu akan menjadi budakku dan semua yang kau miliki akan menjadi milikku, atau kamu akan memalingkan aku dari Tuhan dalam sebuah pertemuan abadi.”
Versi lain lamaran tersebut mengatakan bahwa Amir mengumumkan kepada masyarakat Basrah, meminta mereka untuk mencarikan seorang isteri baginya. Mereka sepakat memilih Rabi’ah. Dan ketika ia menulis surat kepada Rabi’ah, mengutarakan keinginannya, jawaban Rabi’ah :

“Sesungguhnya zuhud kepada dunia memberikan ketenangan, sedangkan terlalu mendambakan dunia menimbulkan keprihatinan dan kesedihan. Karena itu persiapkanlah dirimu dan dahulukanlah tempatmu kembali. Hendaklah engkau mengurus dirimu sendiri. Dan janganlah engkau andalkan orang lain mengurus kepentinganmu, karena mereka akan membagi-bagikan warisanmu. Lakukanlah puasa sebanyak-banyaknya, dan jadikanlah kematian sebagai hari besarmu.
Mengenai aku sendiri, walaupun Allah telah melimpahkan kekayaan sebanyak yang telah dilimpahkan-Nya kepadamu, atau berlipat ganda dari itu, aku sama sekali tidak akan berbahagia meninggalkan zikir kepada Allah, walaupun hanya sekejap.”[2]

Kisah lain menceritakan Hasan Basri yang dalam sebuah majelis sufi, mendesak Rabi’ah agar memilih seorang di antara para sufi sebagai suami. Rabi’ah memberikan jawaban : “Ya, baiklah. Siapa yang pandai di antara kalian, yang memungkinkan aku akan menikah dengannya?” Para sufi sepakat menjawab : “Hasan Basri.” Lalu Rabi’ah mengajukan empat pertanyaan : pertama, apakah hakim dunia akan bertanya saat aku mati? Adakah aku saat meninggal dunia dalam keadaan muslim ataukah kafir? Kedua, kapan aku masuk dalam kubur, dan jika Munkar-Nakir menanyaiku, mampukah aku menjawab mereka? Ketiga, kapan manusia dikumpulkan pada hari kebangkitan dan buku-buku dibagikan? Berapa yang menerima buku dengan tangan kanan dan berapa dengan tangan kiri? Keempat, kapan umat manusia dikumpulkan pada hari pengadilan, berapa yang masuk surga dan berapa yang ke neraka, di antara kedua kelompok itu, kelompok manakah aku?” Hasan Basri tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut karena hanya Allah yang mengetahuinya. Kemudian Rai’ah berkata : “Karena aku mempunyai empat pertanyaan yang merupakan keprihatinan pribadiku, bagaiman aku akan menemukan seorang suami yang tidak dapat menjadi tempat bersandar?”
Berbagai sumber menyebutkan bahwa Rabi’ah wafat pada tahun 185 H / 801 M. sedangkan tempat wafat dan makamnya tidak diketahui secara pasti. Ada yang menyebutkan ia dikuburkan di Jerussalem (al-Quds al-Syarif) di atas sebuah bukit. Tetapi sumber yang lebih kuat menyebutkan bahwa Rabi’ah wafat di Basrah, daerah Syam (Syiria).[3]


B. Pemikiran-Pemikirannya

Rabi’ah al-Adawiyah, dalam perkembangan mistisisme dalam Islam tercatat sebagai peletak dasar tasawuf berdasarkan cinta kepada Allah. Hal ini karena generasi sebelumnya merintis aliran asketisme dalam Islam berdasarkan rasa takut (khauf) dan pengharapan kepada Allah (raja’). Rabi’ah pula yang pertama-tama mengajukan pengertian rasa tulus ikhlas dengan cinta yang berdasarkan permintaan ganti dari Allah.
Sebagian besar para sufi menjadikan cinta sebagai ajaran pokok dalam tasawuf. Cinta adalah jalan sufi atau keadaan rohani yang tinggi dan yang penting dalam hubungan manusia dan Tuhan. Para sufi mutakhir (sufi-filosof) sangat didominasi perasaan cinta Illahi, yang mereka ungkapkan dalam bentuk puisi maupun prosa secara filosofis. Cinta inilah yang mengantarkan mereka kepada penyaksian dalam kesatuan secara intuitif.
Dalam Islam, ajaran cinta kepada Allah bukan hal baru, karena sejak semula Rasulullah memang telah mengajarkan ajaran cinta tersebut. Dalam dunia tasawuf pun sejak masa awal asketisme (zuhud), cikal bakal tasawuf, cinta merupakan salah satu langkah yang harus ditempuh oleh seorang zahid. Hasan Basri, zahid sebelum Rabi’ah, juga pernah bicara tentang cinta. Ia mengatakan :

“Barangsiapa mengenal Rabbnya maka dia akan mencintai-Nya, dan barangsiapa mengenal dunia maka dia bersikap zuhud. Bagaimana dapat digambarkan orang mencintai dirinya sendiri dan tidak mencintai Rabbnya, yang menciptakan keberadaan dirinya?”

Tetapi dalam kenyataannya, kepada Rabi’ah lah dirujukkan pemakaian kata cinta dalam kalangan para sufi. Sejak Rabi’ah, cinta kepada Allah menjadi perbincangan utama kaum sufi. Sebelumnya yang menjadi perbincangan utama adalah khauf (rasa takut) dan raja’ (pengharapan).
Hasan Basri telah merintis aliran asketisme dalam Islam berdasarkan rasa takut dan harap, dan Rabi’ah merintis jalan cinta kepada Allah.[4]
Untuk memperjelas pengertian al-Hubb yang diajukan Rabi’ah, yaitu Hubb al-Hawa dan Hubb anta ahl lahu, perhatikanlah tafsiran beberapa tokoh berikut. Abu Thalib al-Maliky dalam Qud al-Qulub—sebagaimana dijelaskan Badawi—memberikan penafsiran bahwa makna Hubb al-Hawa adalah rasa cinta yang timbul dari nikmat-nikmat dan kebaikan yang diberikan Allah. Adapun yang dimaksud nikmat-nikmat adalah nikmat-nikmat materiel, tidak sprituil, karenanya hubb di sini bersifat hubb indrawi. Walaupun demikian, hubb al-hawa yang diajukan Rabi’ah ini tidak berubah-ubah, tidak bertambah dan berkurang karena bertambah dan berkurangnya nikmat. Hal ini karena Rabi’ah tidak memandang nikmat itu sendiri, tetapi sesuatu yang ada dibalik nikmat tersebut. Adapun al-hubb anta ahl lahu adalah cinta yang tidak didorong kesenangan indrawi, tetapi didorong Dzat yang dicintai. Cinta yang kedua ini tidak mengharapkan balasan apa-apa. Kewajiban-kewajiban yang dijalankan Rabi’ah timbul karena perasaan cinta kepada Dzat yang dicintai. Rabiah mengungkapkan hal ini dalam sebuah syair berikut :

“Aku mencintai-Mu dengan dua cinta,
Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu.
Cinta karena diriku adalah keadaan senantiasa mengingatkan-Mu,
Cinta karena diri-Mu adalah keadaanku mengungkapkan tabir sehingga Engkau kulihat.
Baik ini maupun untuk itu, pujian bukanlah bagiku.
Bagi-Mu pujian untuk kesemuanya.”

Sementara itu, Al-Ghazali memberikan ulasan tentang syair Rabi’ah sebagai berikut,

“Mungkin yang dimaksud oleh Rabi’ah dengan cinta karena dirirnya adalah cinta kepada Allah karena kebaikan dan karunia-Nya di udnia ini. Sedangkan cinta kepada-Nya adalah karena Ia layak dicintai keindahan dan keagungan-Nya yang tersingkap kepadanya. Cinta yang keduua merupakan cinta yang paling luhur dan mendalam serta merupakan kelezatan melihat keindahan Tuhan. Hal ini seperti disabdakan dalam hadits qudsi, “Bagi hamba-hamba-Ku yang saleh Aku menyiapkan apa yang tidak terlihat mata, tidak didengar telinga, dan tidak terbersit di kalbu manusia.”

Cinta Rabi’ah kepada Allah begitu mendalam dan memenuhi seluruh relung hatinya, sehingga membuatnya hadir bersama Tuhan. Hal ini seperti terungkap dalam syairnya :

“Kujadikan Kau teman berbincang dalam kalbu.
Tubuhku pun biar berbincang dengan temanku.
Dengan temanku tubuhku bercengkrama selalu.
Dalam kalbu terpancar selalu kekasih cintaku.”

Dalam kesempatan bermunajat, Rabi’ah kerapkali menyampaikan,

“Wahai Tuhanku, tenggelamkan aku dalam mencintai-Mu, sehingga tidak ada yang menyibukkan aku selain diri-Mu. Ya Tuhan, bintang di langit telah telah gemerlapan, mata telah bertiduran,pintu-pintu istana telah dikunci dan tiap pecinta telah menyendiri dengan yang dicintai, dan inilah aku berada di hadirat-Mu.”[5]





BAB III
Kesimpulan


Dari pemabahasan tentang Rabi’ah al-Adawiyah di atas, saya menarik kesimpulan bahwa Rabi’ah al-Adawiyah seorang sufiah yang merentas jalan berbeda dibanding kebanyakan orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah pada masanya. Sebelumnya para sufi mendekatkan diri dengan jalan khauf wa raja’, yaitu rasa takut dan pengharapan kepada Allah. Namun Rabi’ah mengenalkan dan mengajukan jalan lain yaitu mahabbah (cinta Illahi), sehingga beribadah atau mengabdi kepada Tuhan secara tulus ikhlas tanpa rasa terpaksa. Bukan karena merasa takut pada neraka atau karena mengharap surga, karena bagi Rabi’ah beribadah seperti ini berarti beribadah dengan pamrih kepada Allah.

Hal tersebut telah disinggung Rabi’ah dalam sebuah syair :

“Aku mengabdi kepada Tuhan
bukan karena takut neraka….
Bukan pula karena mengharap masuk surga….
Tetapi aku mengabdi, karena cintaku pada-Nya

Ya Allah, jika aku menyembah-Mu,
karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya
Dan jika aku menyembah-Mu,
karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya
Tetapi, jika aku menyembah-Mu,
demi Engkau semata, janganlah Engkau enggan
memperlihatkan keindahan wajah-Mu
yang abadi padaku”[6]


DAFTAR PUSTAKA


Anwar, Rosihon, Ilmu Tasawuf, Cet.III, Bandung : Pustaka Setia, 2006

MS, Asfari dan Sukatno CR, Otto, Cet.I, Mahabbah Cinta Rabi’ah al-Adawiyah, Jogjakarta : Bentang Budaya, 1997
[1] Dr.Rosihin Anwar, Ilmu Tasawuf, Cet.III, (Bandung : Pustaka Setia, 2006), h.119-120
[2] Asfari MS. Dan Otto Sukatno CR., Mahabbah Cinta Rabi’ah al-Adawiyah, Cet.I, (Jogjakarta : Bentang Budaya, 1997), h.22-24
[3] Ibid., h.28-29
[4] Ibid., h.30-32
[5] Op.Cit., h.121-122
[6] Op.Cit., h.119

Dikirim pada 24 Januari 2011 di Sejarah (history)
Awal « 1 » Akhir
Profile

>>> Username : Rayhania >>> Nickname : IU >>> My name : Ayu ريحاني Thamreen >>> Fullname : سري ايو ريحانية بنت محمد حسني تمرين More About me

Page
Archive
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 199.783 kali


connect with ABATASA