0



Hukum menikahi wanita hamil telah disinggung dalam surah Ath-Thalaq ayat 4 :
“Dan wanita-wanita hamil, waktu idahnya itu ialah sampai melahirkan kandungannya…” (QS. Ath-Thalaq: 4)

Ayat ini menjelaskan bahwa wanita hamil tidak boleh dinikahi oleh seorang laki-laki sampai wanita tersebut melahirkan, kecuali jika laki-laki tersebut adalah bekas suami yang menceraikannya (ruju’). Larangan ini dikarenakan wanita yang hamil itu masih menjadi hak suami yang menceraikannya.

Lalu bagaimana hukumnya jika wanita tersebut hamil dikarenakan berzina seperti yang banyak kita temukan pada remaja-remaja puteri zaman sekarang?

Maka para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Sebagian ulama mengatakan pernikahan dilaksanakan setalah wanita tersebut melahirkan. Jika dinikahkan pada saat masih mengandung, maka harus dinikahkan ulang setalah sang wanita malahirkan, karena tidak sah menikahi wanita hamil.

Sebagian ulama lagi berbeda pendapat dengan pendapat di atas dengan rujukan Komplikasi Hukum Islam, bab VIII, pasal 53, ayat 1 sampai 3:
1) Seorang wanita yang hamil diluar nikah, dapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya.
2) Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat 1 dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya.
3) Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anaknya yang dikandung lahir.

Terjadinya perbedaan pendapat di atas dikarenakan pada zaman Rasulullah tidak pernah ditemukannya wanita yang hamil karena berzina menikah. Yang ada hanya wanita yang dihukum rajam karena berzina, hukuman rajam itu pun dilaksanakan setelah wanita tersebut melahirkan bayinya. Namun ada kaidah ushul menyatakan: “Keluar dari perbedaan pendapat adalah langkah yang terbaik”.


Rasulullah Saw. Juga pernah bersabda:

“Seseorang tidak akan mencapai tingkat takwa sebelum dia meninggalkan apa saja yang tidak terang (yang masih diragu-ragukan) supaya dia menjauhi apa-apa yang jelas dosanya”. [1]
[1] Drs.K.H.Miftah Faridh, 150 Masalah Nikah dan Keluarga, Jakarta: Gema Insani Press, 1999, h. 19-21

Dikirim pada 24 Januari 2011 di Pengetahuan Agama (religion)



KESETARAAN GENDER


Gender dapat diartikan sebagai perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan perilaku. Secara umum, gender digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosial budaya. Hal ini berbeda dengan sex yang secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi. Jadi sex bersifat kodrati, dan gender bersifat non kodrati.[1]
Dalam islam telah dikenal kesetaraan gender dan keadilan-keadilan dalam porsi masalahnya masing-masing. Laki-laki dan wanita mempunyai kesempatan yang sama dalam mengapresiasi diri. Namun pada kenyataan yang terjadi banyak ketimpangan-ketimpangan yang terjadi dalam kehidupan sosial budaya. Mereka memanfaatkan hadis-hadis “misoginis” (yaitu hadis-hadis yang terkesan membenci atau menyudutkan perempuan) untuk kepentingan pribadi atau golongan. Mereka menjadikan hadis-hadis tersebut sebagai hujjah tanpa menelaah dan memahami sebab-sebab dan situasi kondisi hadis-hadis tersebut diturunkan.


A. Asal Penciptaan manusia?

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ وَمُوسَى بْنُ حِزَامٍ قَالَا حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ زَائِدَةَ عَنْ مَيْسَرَةَ الْأَشْجَعِيِّ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاء

Artinya :
Dari Abi Hurairah: Nabi bersabda: “berwasiatlah tentang perempuan, karena sesungguhnya mereka tercipta dari tulang, dan tulang yang paling bengkok adalah yang tertinggi. Jika engkau berusaha meluruskan berarti engkau merusaknya, jika dibiarkan maka akan tetap bengkok”.
Sahih bukhari, Kitab Ahadis al-Anbiya, bab Khalq Adam wa dzurriyatuh, no. 3084

Penjelasan :
Hadis yang menyatakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk, atau perempuan bagaikan tulang rusuk dari segi sanadnya bernilai shahih, namun ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama dan sarjana menyangkut matannya, khususnya matan yang menyatakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk. Di antara mereka ada yang menerima dan ada yang menolak. Pada kelompok yang menerima, ada dua pendapat : yang pertama mengartikannya secara tekstual, bahkan digunakan untuk menafsirkan QS.an-Nisa’ (4) ayat 1 tentang penciptaan manusia, sehingga menurut mereka Hawwa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Sementara yang kedua mengartikan hadis tersebut secara metaforis, bahwa kaum laki-laki harus berlaku baik dan bijaksana dalam menghadapi perempuan.
Sementara kelompok yang menolak hadis itu berargumen bahwa hadis tersebut harus ditolak karena isinya tidak sesuai dengan ayat-ayat al-Quran.
Hadis tersebut, walaupun sanad-nya shahih, tetapi memiliki matan yang berbeda-beda dan sulit untuk ditentukan mana matan yang benar. Namun demikian apabila ditempatkan dalam konteksnya secara tepat dan dipahami secara utuh dari keseluruhan matan yang ada- tidak hanya parsial kalimat perkalimat atau matan permatan, maka hadis-hadis tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan penciptaan awal perempuan. Hadis-hadis itu berisi pesan Nabi kepada kaum laki-laki waktu itu untuk berlaku baik kepada isteri-isteri mereka atau kepada kaum perempuan secara umum. Pesan Nabi tersebut salah satu manifestasi dari semangat ajaran Islam yang hendak menempatkan laki-laki dan perempuan secara sejajar.[2]


B. Kepemimpinana Wanita

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ حَدَّثَنَا عَوْفٌ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ لَقَدْ نَفَعَنِي اللَّهُ بِكَلِمَةٍ سَمِعْتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَّامَ الْجَمَلِ بَعْدَ مَا كِدْتُ أَنْ أَلْحَقَ بِأَصْحَابِ الْجَمَلِ فَأُقَاتِلَ مَعَهُمْ قَالَ لَمَّا بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ أَهْلَ فَارِسَ قَدْ مَلَّكُوا عَلَيْهِمْ بِنْتَ كِسْرَى قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً

Artinya :
Dari Bakrah diriwayatkan bahwa ketika Nabi mendengar bahwasanya Kaisar Persia diganti dengan perempuan maka Nabi bersabda: “Tidak akan sukses suatu kaum yang dipimpin oleh perempuan”
Sahih Bukhari Kitab al-Maghazim, bab kitab al-Nabi ila kisra wa Qaishar no 4073

Penjelasan :
Dilihat dari sisi sanad, hadis tentang larangan kepemimpinan politik perempuan dapat dinilai shahih. Tapi meskipun hadis larangan kepemimpinan politik perempuan dapat dinilai shahi, ternyata masih berpeluang untuk didiskusikan. Di kalangan ulama, terdapat para ulama yang tidak sepakat terhadap pemakaian hadis tersebut bertalian dengan masalah perempuan dan politik. Tetapi banyak juga yang menggunakan hadis tersebut sebagai argumen untuk menggusur perempuan dari proses pengambilan keputusan. Jika ditelaah lebih lanjut, maka hadis tersebut mengandung pengertian bayan al-waqi’ atau pengungkapan fakta realitas yang berkembang pada saat itu, dan tidak dimaksudkan sebagai sebuah ketentuan syariat bahwa syarat pemimpin harus laki-laki.[3]
Hadis tersebut dipahami sebagai isyarat bahwa perempuan tidak boleh
dijadikan pemimpin dalam urusan pemerintahan atau politik. Oleh
karenanya banyak ulama yang menyatakan seorang perempuan tidak sah
menjadi khalifah/imam. Para ulama tersebut menanggapi hadis ini
sebagai ketentuan yang bersifat baku-universal, tanpa melihat
aspek-aspek yang terkait dengan hadis, seperti kapasitas diri Nabi SAW
ketika mengucapkan hadis, suasana yang melatarbelakangi munculnya hadis,
setting sosial yang melingkupi sebuah hadis. Padahal, segi-segi yang
berkaitan dengan diri Nabi SAW dan suasana yang melatarbelakangi atau
menyebabkan terjadinya hadis mempunyai kedudukan penting dalam pemahaman
hadis secara utuh.
Dari segi seting sosial dapat dikuak bahwa menurut tradisi yang
berlangung di Persia sebelum itu, jabatan kepala negara (raja) dipegang
oleh kaum laki-laki. Sedang yang terjadi pada tahun 9 H. tersebut
menyalahi tradisi itu, sebab yang diangkat sebagai raja bukan laki-laki
lagi, melainkan perempuan. Pada waktu itu, derajat kaum perempuan di
mata masyarakat berada di bawah lelaki. Perempuan sama sekali tidak
dipercaya untuk ikut serta mengurus kepentingan masyarakat umum,
terlebih lagi dalam masalah kenegaraan. Hanya laki-laki lah yang
dipandang mampu mengelola kepentingan masyarakat dan negara.
Keadaan seperti ini tidak hanya terjadi di Persia saja, tetapi juga di
seluruh Jazirah Arab. Dalam kondisi kerajaan Persia dan setting sosial
seperti itulah, wajar Nabi SAW yang memiliki kearifan tinggi,
melontarkan hadis bahwa bangsa yang menyerahkan masalah-masalah
(kenegaraan dan kemasyarakatan) kepada perempuan tidak akan
sejahtera/sukses. Bagaimana mungkin akan sukses jika orang yang memimpin
itu adalah orang yang sama sekali tidak dihargai oleh masyarakat yang
dipimpinnya. Salah satu syarat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin
adalah kewibawaan, sedang perempuan pada saat itu sama sekali tidak
memiliki kewibawaan untuk menjadi pemimpin. Andaikata seorang perempuan
telah memiliki kualifikasi dan dihormati oleh masyarakat, mungkin Nabi
SAW yang sangat bijaksana akan menyatakan kebolehan kepemimpinan politik
perempuan.
Jadi, memaksakan hadis yang berbentuk ikhbar (informatif/berita) ke
dalam masalah syariah terutama masalah kepemimpinan politik perempuan
adalah tindakan yang kurang bijaksana dan kurang kritis serta tidak
proporsional.
Selain itu, jika hadis tersebut dipahami sebagai pesan dan ketentuan
dari Nabi SAW yang mutlak mengenai syarat seorang pemimpin, maka akan
terasa janggal, karena peristiwa sebagaimana yang ditunjukkan hadis
tersebut tidak terjadi di dunia Islam (baca: negara Arab Islam),
sehingga tidak mungkin Nabi SAW menyatakan ketentuan suatu syarat bagi
pemimpin negara Muslim dengan menunjuk fakta yang terjadi di negara non
Muslim (baca: Persia yang belum Muslim). Kalau hadis ini dipaksakan
sebagai syarat bagi kepemimpinan politik, termasuk di negara non Muslim,
maka selain tidak rasional (karena Nabi SAW ikut campur dalam urusan
politik negara non Muslim) juga tidak faktual. Artinya penetapan syarat
pemimpin harus laki-laki, maka bagaimana dengan negara Islam saat ini
yang sebagian ada yang dipimpin oleh perempuan, namun tetap sukses
(seperti Pakistan, Turki, Indonesia dan lainnya). Berarti sabda Nabi SAW
ini jelas bertentangan dengan fakta yang ada. Bahkan dalam al-Qur`an pun
dijumpai kisah tentang adanya seorang perempuan yang memimpin negara dan
meraih sukses besar, yaitu Ratu Bilqis di negeri Sabaâ.[4]

[1] Hamim ilyas, Perempuan Tertindas?, (Yogyakarta : eLSAQ Press, 2003), h.12
[2] Ibid., h.51-52
[3] Ibid.., 287-288
[4] http://www.acehinstitute.org/

Dikirim pada 23 Januari 2011 di Pengetahuan Agama (religion)



A. Definisi dan syaratnya

Definisi Muslahah Mursalah
Maslahah mursalah menurut bahasa terdiri atas dua kata yaitu maslahah dan mursalah. Maslahah yang berarti mendatangkan suatu kebaikan. Sedangan mursalah yang berarti dipergunakan. Jadi dapat disimpulkan ”maslahah mursalah” yang berarti suatu kebaikan (Maslahah) yang tidak disinggung-singgung, syarak untuk mengerjakannya atau meninggalkannya, kalau dikerjakan akan membawa manfaat atau menghindari keburukan.[1]
Sedangkan menurut istilah ulama ushul ada beberapa ta’rif yang diberikan diantaranya :
Imam ar-Razi mena’rifkan sebagai berikut :
”maslahah ialah, perbuatan yang bermanfaat yang telah diperintahkan oleh Musyarri’ (Allah) kepada hambanya tentang pemeliharaan hambanya, jiawanya, akalnya, keturunannya dan harta bendanya.” [2]
Imam al-Gazhali
”pemeliharaan terhadap tujuan syarak yang berhubungan dengan makhluk ada lima yaitu pemeliharaan pada agama diri sendiri, pemeliharaan akal, keturunan dan pemeliharaan harta mereka.” [3]
menurut Muhammad Hasbi Ash-Shiddiq :
“memelihara tujuan syara’ dengan jalan menolak segala sesuatu yang merusakkkan makhluk.” [4]

Syarat- syarat Muslahah Mursalah
Golongan yang mengakui Kehujjahanya maslahah mursalah dalam pembentukan Hukum (islam) telajh mensyaratkan sejumlah syarat tertentu yang harus dipenuhi sehingga meslahah tidak bercampur dengan hawa nafsu, tujuan N dan keinginan yang merusakan manusia dan agama sehingga seseorang tidak menjadikan keinginan sebagai ilhamnya dan menjadikan syawatnya sebagai syari’atnya.
Syarat – syarat itu adalah sebagai berikut :
Adanya penyesuaian antara maslahat yang dipanadang sebagai sumber dalil yang berdiri sendiri dengan tujuan – tujuan syari’at Maqsida as-syari’ah). Dengan adanya persyaratan ini berarti maslahat tidak boleh mengasikan sumber dalil yang lain, atau bertentangan dengan dalil yang qat’iy. Akan tetapi harus sesuai dengan maslahat mursalat yang memang ingin diwujudkan oleh syari’. Misalnya, jenis maslahat itu tidak asing meskipun tidak diperkuat dengan adanya dalilb khas.
Maslahat itu harus masuk akal ( Fartionable) mempunyai sifat – sifat yang sesuai dengan pemikiran yang rasional, dimana yang seandainya diajukan kepada yang kelompok rasional akan tetapi diterima.
Penggunaan dalil maslahat ini adalah dalam rangka hilangkan kesulitan mesti terjadi (raf’u haraj lazim ), dalam pengertian, seandainya maslahat yang dapat diterima akal itu tidak diambil, niscaya manusia akan mengalami kesulitan.[5]
Syarat – syarat di atas adalah syarat – syarat yang masuk akal yang dapat mencegah penggunaan sumber dalil ini ( maslahat mursalah) tercabut dari akalnya ( menyimpang dari essensinya )serta mencegah dari menjadikan nash – nash tunduk kepada hukum – hukum yang dipengaruhi hawa nafsu dan syawat dengan maslahat mursalah.


B. MACAM – MACAM MASLAHAT

Ulama ushul membagi maslahah pada 3 bagian :
1. Maslahah Dzaruriyah.
Adalah perkara – perkara menjadi tempat tegaknya kehudupan manusia, dan bila ditingalkan maka akan rusaklah kehidupan, menjelajah kerusakan, timbullah fitnah dan kehancuran yang hebat.
Perkara – perkara ini dapat sdikembalikan kepada lima perkara, yang merupakan perkara pokok yang harus dikembalikan kepada lima perkara, yang merupakan perkara, yaitu : agama, jiwa akal keturunan, dan harta.[6]
2. Maslahah Hajjiyah
Adalah semua bentuk perbuatan dan tinadakan yang tidak terkait dengan dasar yang lain 9 yang ada pada meslahah Dzaruriah ) yang dibutuhkan oleh masyarakat tetap juga terwujud tetapi dapat menghindarkan kesulitan dan menghilangkan kesempitan.
Hajjiyah ini tidak rusak dan terancam tetapi hanya menimbulkan kepicikan dan kesempitan. Ini berlaku dalam lapangan ibadah, adat, Muamalat, dan bidang jinayat.[7]
3. Maslahah Tahsiniyah
Adalah merupakan semua layak dan pantas yang diberikan oleh adat kebiasaan yang baik dan dicakup oleh mesfasinul akhlak.
Tahsiniyah juga masuk dalam lapangan ibadah, adat, muamalah dan liqubat. Lapangan ibadah misalnya, kewajiban bersucidan najis, menutup aurat, meakai pakaian yang baik – baik ketika akan shalat mendekatkan diri kepada Allah melalui amalan – amalan sunnah, seperti shalat, puasa sunnah, bersedakah dan lain – lain.[8]


C. Kehujahan Maslahah Mursalah

Dalam Kehujjahan maslahah mursalah, terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama ushul diantaranya :
1. Maslahah mursalah tidak dapat menjadihujjah / dalil menurut ulama – ulama syafi’iyah ulama – ulama Hanafiyyah, dan sebagai ulama malikiyah, seperti Ibnu Hajib dan Ahli zahir.
2. Maslahakh mursalah dapat menjadi hujjah / dalil menurut sebagian ulama syafi’i, tetapi harus memenuhi syarat – syarat yang sudah ditentukan oleh ulama ushul. Jumhur Hanafiyyah dan syafi’iyyah mensyaratkan tentang maslahah ini, hendaknya simasukkkan dibawah qiyas, yaitu bila terhadap hukum Ashl yang dapat diqiyaskan kepadanya dan juga terhadap ilat mudhabit ( tepat ) sehingga dalam hubungan hukum itu terdapat tempat untuk melearisir kemaslahatan.
3. Iman Al – Qarafi berkata tentang maslahah mursalah ” sesungguhnya Berhujjah dengan maslahah mursalah deilakukan oleh semua mazhab, karna mereka melakukan qiyas dan mereka membedakan antara satu denghan yang lainnya karena adanya ketentuan – ketentuan hukum yang mengikat.[9]


[1] Drs.M.Rizal Qosim, Pengamalan Fikih 3, Solo: PT.Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2006, h.78
[2] Drs.Chaerul Anwar, Ushul Fiqih I untuk Fakultas Syariah Komponen MKDK, Bandung: Pustaka Setia, 1998, h.136
[3] Op.Cit., h.79
[4] Op.Cit., h.137
[5] Prof.M.Abu Zahrah, Ushul Fiqih, Jakarta: PT.Pustaka Firdaus, 1994, h.427-428
[6] Ibid., h.138
[7] Ibid., h.140
[8] Ibid., h.141
[9] Ibid., h.142-143

Dikirim pada 23 Januari 2011 di Pengetahuan Agama (religion)
23 Jan



A. Definisi Asbabun Nuzul

Pengertian Asbabun Nuzul adalah:
“Semua yang disebabkan olehnya diturunkan suatu ayat atau beberapa ayat yang mengandung sebabnya, memberi jawaban terhadap sebabnya, atau menerangkan hukumnya, pada saat terjadiperistiwa itu.” [1]
Fakta sejarah menunjukkan, bahwa turunnya ayat-ayat al-Qur’an itu ada dua macam, yaitu:
Turunnya dengan didahului oleh suatu sebab.
Turunnya tanpa didahului oleh suatu sebab.
Ad. 1. Ayat-ayat yang Turun dengan Didahului Suatu Sebab
Dalam hal ini ayat-ayat tasyri’iyyah atau ayat-ayat hukum merupakan ayat-ayat yang pada umumnya mempunyai sebab turunnya. Jarang (sedikit) sekali ayat-ayat hukum yang turun tanpa suatu sebab. Dan sebab turunnya ayat itu adakalanya berupa peristiwa yang terjadi di masyarakat Islam dan adakalanya berupa pertanyaan dari kalangan Islam atau dari kalangan lainnya yang ditujukan kepada Nabi.
Contoh ayat yang turun karena ada suatu peristiwa, ialah surat al-Baqarah ayat 221. Turunnya ayat tersebut adalah, karena ada peristiwa sebagai berikut: Nabi mengutus Murtsid al-Ghanawi ke Mekah untuk tugas mengeluarkan orang-orang Islam yang lemah. Setelah ia sampai di sana, iadirayu oleh seorang wanita musyrik yang cantik dan kaya, tetapi ia menolak, karena takut kepada Allah. Kemudian wanita tersebut datang lagi dan minta agar dikawini. Murtsid pada prinsipnya dapat menerimanya, tetapi dengan syarat setelah mendapat persetujuan dari Nabi. Setelah dia kembali ke Madinah, dia menerangkan kasus yang dihadapi dan minta izin kepada Nabi untuk menikah dengan wanita itu. Maka turunlah surat al-Baqarah ayat 221.
Ad. 2. Ayat-ayat yang Turun Tanpa Didahului Sesuatu Sebab
Ayat-ayat semacam ini banyak terdapat di dalam al-Qur’an, sedang jumlahnya lebih banyak daripada ayat-ayat hukum yang mempunyai Asbabun Nuzul. Misalnya ayat-ayat yang mengisahkan hal-ihwal umat-umat terdahulu beserta para Nabinya, menerangkan peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lalu, atau menceritakan hal-hal yang ghaib, yang akan terjadi, atau menggambarkan keadaan hari Kiamat beserta nikmat surga dan siksaan neraka.
Ayat-ayat demikian itu diturunkan oleh Allah bukan untuk memberi tanggapan terhadap suatu pertanyaan atau suatu peristiwa yang terjadi pada waktu itu, melainkan semata-mata untuk memberi petunjuk kepada manusia, agar menempuh jalan yang lurus. Allah menjadikan ayat-ayat ini mempunyai hubungan menurut konteks Qur’ani dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya.
Namun demikian, ada juga ayat-ayat tentang kisah yang diturunkan karena ada sebab. Tetapi ayat semacam ini sedikit sekali. Misalnya turunnya surat Yusuf, seluruhnya adalah karena ada keinginan yang serius daripada sahabat yang disampaikan kepada Nabi, agar Nabi berkenan bercerita yang mengandung pelajaran dan peringatan. Surat Yusuf tersebut diturunkan oleh Allah secara lengkap (mulai ayat satu hingga akhir). Adapun sahabat yang menceritakan latar belakang turunnya ayat-ayat dari surat Yusuf itu, adalah Sa’ad bin Abu Waqqas.[2]


B. Pengetahuan Sahabat tentang Asbabun Nuzul

Sahabat Nabi merupakan suatu generasi umat yang dapat menyaksikan turunnya ayat-ayat al-Qur’an. Tetapi, walaupun demikian, tiada seorang sahabat pun yang bisa menyaksikan turunnya semua ayat al-Qur’an beserta Asbabun Nuzul. Hal ini wajar, karena ayat-ayat al-qur’an itu diturunkan secara berangsur-angsur dalam waktu kurang-lebih 23 tahun, sedang tempat-tempat dan peristiwa-peristiwanya berbeda-beda. Demikian pula, tidak semua dan tidak selalu ayat-ayat itu turun dengan didahului oleh suatu sebab. Karena itu, ucapan beberapa sahabat yang disertai sumpah yang bisa memberi kesan seolah-olah mereka mengetahui semua yang turun beserta Asbabun Nuzulnya, maka hendaklah kita memahaminya tidak secara harfiyah (letterlijk).[3]


C. Pentingnya Ilmu Asbabun Nuzul

Ilmu Asbabun Nuzul itu besar sekali manfaatnya bagi setiap orang yang hendak menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an, karena ilmu ini dapat membantu seseorang agar dapat memahami ayat al-Qur’an secara tepat dan sekaligus dapat menghindarkan dia dari salah pengertian.
Mengenai ilmu Asbabun Nuzul ini, al-Wahidi (wafat tahun 427 H.) berkata:
“Tidak mungkin mengetahui tafsirnya ayat, tanpa mengetahui kisah dan keterangan turunnya.”
Ibnu Taimiyah (wafat tahun 726 H.) menegaskan:
“Mengetahui sebab turunnya ayat dapat menolong untuk memahami ayat, karena sesungguhnya mengerti sebabnya dapat menghasilkan pengetahuan tentang akibatnya.”
Ibnu Daqiqil ‘id (wafat tahun 702 H.) menegaskan pula:
“Mengetahui sebab turunnya ayat, adalah jalan yang kuat dalam memahami maksud-maksud al-Qur’an.”
Demikianlah kepentingan Ilmu Asbabun Nuzul menurut pandangan para ulama. Karena itu, tidak mengherankan bahwa di kalangan ulama al-Muhaqqiqun sampai mengharamkan seorang yang berani menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an tanpa mengetahui Asbabun Nuzul.
Fakta sejarah menunjukkan, bahwa tidak mengetahui sebab turunnya ayat dapat menjerumuskan kita ke dalam kesalahan yang besar dalam memahami al-Qur’an.[4]


D. Nilai Riwayat-riwayat tentang Asbabun Nuzul

Keterangan-keterangan dan riwayat-riwayat tentang Asbabun Nuzul itu tidak semua bernilai sahih (benar), seperti halnya riwayat-riwayat hadits. Karena itu, perlu dilakukan penelitian yang seksama terhadap keterangan-keterangan (riwayat-riwayat) tentang Asbabun Nuzul, baik tentang sanad-sanadnya (perawi-perawi) maupun matan-matannya (isi keterangannya).
Sehubungan dengan hal tersebut, al-Suyuti telah mengkritik beberapa kitab yang membahas Asbabun Nuzul. Misalnya kitab Asbabun Nuzul karangan al-Wahidi (wafat tahun 724 H.) dan kitab Ikhtisar Asbabun Nuzul karangan al-Ja’bari (wafat tahun 732 H.), karena dipandang memuat riwayat-riwayat yang tidak sahih. Kemudian al-Suyuti sendiri menyusun sebuah kitab yang khusus membahas Asbabun Nuzul dalam kitabnya, Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul. Kitab ini dicetak di Bulaq pada tahun 1280 H., di Hamisy (tepi) Tafsir al-Jalalain.
Keterangan-keterangan (riwayat-riwayat) tentang Asbabun Nuzul yang dipandang tidak sahih itu, disebabkan tidak sesuai dengan fakta sejarah, tidak rasional (logis), atau terdapat hal-hal yang berlebih-lebihan (luar biasa) yang bersifat sensasional, atau peristiwa-peristiwa yang langka terjadinya.[5]
[1] Prof.Drs.H.Masjfuk Zuhdi, Pengantar Ulumul Qur-an, Surabaya: Karya Abditama, 1997, h.36
[2] Ibid., h.36-39
[3] Ibid., h.40
[4] Ibid., h.41-42
[5] Ibid., h.44-45

Dikirim pada 23 Januari 2011 di Pengetahuan Agama (religion)
Awal « 1 2 » Akhir
Profile

>>> Username : Rayhania >>> Nickname : IU >>> My name : Ayu ريحاني Thamreen >>> Fullname : سري ايو ريحانية بنت محمد حسني تمرين More About me

Page
Archive
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 199.795 kali


connect with ABATASA