0
Dikirim pada 24 Januari 2011 di Dakwah-Komunikasi



 

 

A.      PENGERTIAN DAKWAH

 

Secara etimologi kata dakwah sebagai bentuk masdar dari kata                                            yang artinya adalah memanggil, mengundang, mengajak, menyeru, mendorong dan memohon.[1]

 

Dengan demikian secara etimologi penertian dakwah itu merupakan suatu proses penyampaian (tabligh) pesan-pesan tertentu yang berupa ajakan atau seruan dengan tujuan agar orang lain memenuhi ajakan tersebut.

 

Secara terminologi, menurut Muhammad Nasir, dakwah adalah usaha menyerukan dan menyampaikan kepada perorangan manusia dan seluruh umat tentang pandangan dan tujuan hidup manusia di dunia ini yang meliputi amar ma’ruf nahi munkar, dengan berbagai macam media dan cara yang diperoleh akhlak dan membimbing pengalamannya dalam perikehidupan perseorangan, berumah tangga, bermasyarakat dan bernegara.[2]

 

Dakwah (amar ma’ruf nahi munkar) merupakan kewajiban bagi umat islam, hal ini tercantum dalam al-Quran :

Dan hendaklah ada diantaramu segolongan umat yang mengajak pada kebaikan dan memerintah yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran. Mereka adalah orang-orang yang bahagia. (QS.Ali Imran: 110)[3]

 

Hal ini sesuai dengan hadis nabi; “Barangsiapa yang melihat kemunkaran, maka ubahlah dengan tangannya (bila mampu). Bila tak mampu, maka ubahlah (berantaslah) dengan lidahnya, yaitu memberinya peringatan yang baik, boleh keras juga boleh lemah, asal melihat mana yang bermanfaat untuk agama). Apabila masih tidak mampu, maka cukup (benci) di hati. Dan itulah iman yang paling lemah.” (H.R.Muslim)[4]

 

 

 

B.      FILM

 

Film adalah gambar hidup, juga sering disebut movie (semula pelesetan untuk ‘berpindah gambar’). Film secara kolektif, sering disebut sinema. Gambar hidup adalah bentuk seni, bentuk populer dari hiburan, dan juga bisnis.

 

Film dihasilkan dengan rekaman dari orang dan benda (termasuk fantasi dan figur palsu) dengan kamera, dan/atau oleh animasi.[5]

 

Terdapat unsur-unsur dalam sebuah film,diantaranya:

1.       Title / judul

2.       Crident title, meliputi: produser, karyawan, artis, ucapan terima kasih, dll

3.       Tema film

4.       Intrik, yaitu usaha pemeranan film untuk mencapai tujuan

5.       Klimaks, yaitu benturan antar kepentingan

6.       Plot (alur cerita)

7.       Suspen atau keterangan, masalah yang masih terkatung-katung

8.       Milon / setting / latar belakang terjadinya peristiwa, masa / waktu, bagian kota, perlengkapan, aksesoris, dan fesyen yang disesuaikan

9.       Sinopsis, yaitu untuk memberi ringkasan atau gambaran dengan cepat kepada orang yang berkepentingan

10.   Trailer, yaitu bagian film yang menarik

11.   Character, yaitu karakteristik pelaku-pelakunya.

 

Jika sebuah film akan dibuat, maka ada struktur yang penting untuk dicermati, yaitu:

1.       Pembagian cerita (scene)

2.       Pembagian adegan (squene)

3.       Jenis pengambilan gambar (shoot)

4.       Pemilihan adegan pembuka (opening)

5.       Alur cerita dan contuinity

6.       Intrigue meliputi jealousy, pengkhianatan, rahasia bocor, tipu muslihat,dll

7.       Anti klimaks, penyelesaian masalah

8.       Ending, pemilihan adegan penutup.

 

Terdapat jenis-jenis film yang diklasifikasikan sebagai berikut;

1.    Drama, adalah suatu kejadian atau peristiwa hidup yang hebat, mengandung konflik pergolakan, clash atau benturan antara dua orang atau lebih. Sifat drama: romance, tragedy dan komedi

2.    Realisme, adalah film yang mengandung relevansi dengan kehidupan keseharian

3.    Film sejarah, melukiskan kehidupan tokoh tersohor dan peristiwanya

4.    Film perang, menggambarkan peperangan atau situasi di dalamnya atau setelahnya

5.    Film futuristik, menggambarkan masa depan secara khayali

6.    Film anak, mengupas kehidupan anak-anak

7.    Cartoon, cerita bergambar yang mulanya lahir di media cetak. Yang diolah sebagai cerita bergambar, bukan saja sebagai story board melainkan gambar yang sanggup bergerak dengan teknik animation atau single stroke operation

8.    Adventure, film pertarungan, tergolong film klasik

9.    Crime story, pada umumnya mengandung sifat-sifat heroik.

10.Film seks, menampilkan erotisme

11.Film mister / horor, mengupas terjadinya fenomena supranatural yang menimbulkan rasa wonder, heran, takjub dan takut.[6]

 

 

C.      FILM ADALAH MEDIA DAKWAH YANG EFEKTIF

 

Pada masa kehidupan Nabi Muhammad saw, media yang paling banyak digunakan adalah media audiatif; yakni menyampaikan dakwah dengan lisan. Namun tidak boleh dilupakan bahwa sikap dan perilaku Nabi juga merupakan media dakwah secara visual yaitu dapat dilihat dan ditiru oleh objek dakwah. Sejarah dakwah kemudian mencatat bukan hanya perkembangan materi dan objek dakwah, melainkan juga mencari media-media dakwah yang efektif. Ada berupa media visual, audiatif, audio visual, bukukoran, koran,radio, televisi, drama dan sebagainya.[7] Termasuk juga internet dan film.

 

Film hadir dalam bentuk penglihatan dan pendengaran. Melalui pendengaran dan penglihatan inilah, film memberikan pengalaman-pengalaman baru kepada para penonton. Pengalaman itu menyampaikan berbagai nuansa perasaan dan pemikiran kepada penonton. Selanjutnya, film sebagai media komunikasi dapat berfungsi pula sebagai media dakwah, yaitu media untuk mengajak kepada kebenaran dan kembali menginjakkan kaki di jalan Allah. Film juga tidak terkesan menggurui. Film mempunyai kelebihan bermain pada sisi emosional, ia mempunyai pengaruh yang lebih tajam untuk memainkan emosi pemirsa. Berbeda dengan buku yang memerlukan daya fikir aktif, penonton film cukup bersikap pasif. Hal ini dikarenakan film adalah sajian siap untuk dinikmati.

 

Film dengan latar kebudayaan dan misi teologi Islam sangat diharapkan. Sekalipun tentunya, bukan hanya sekedar representasi kehidupan muslim, akan tetapi bisa jadi film-film yang mengajak dunia untuk memahami, menghormati, menepis citra buruk dan selanjutnya, mengundang simpatik, mendorong untuk mengambil tindakan berbuat baik, lebih-lebih mengikuti jejak teologinya.

 

Bagi dunia muslim khususnya, yang memiliki karakteristik budaya tersendiri yang dalam beberapa aspek berbeda dengan budaya lain—untuk memperkenalkan diri sebagai sebuah entitas budaya kepada dunia lain di luar dunia muslim—film akan menjadi semakin penting sebagai media yang dapat menyampaikan gambaran mengenai budaya muslim, paling tidak untuk menghindari benturan dengan budaya dan peradaban lain. Dan film dapat dijadikan sebagai duta.[8]






[1] Siti muriah, Metodologi Dakwah Kontemporer, Cet.I, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000), h.1



[2] Ibid., h.3



[3] Departemen Agama, Al-Quran



[4] Abu Zakariya Yahya bin Syarif An-Nawawi, Terjemah Riyadhush Sholihin, Jilid.I, (Surabaya: Al-Hidayah, 1997), h.269



[5] www.wikipedia.com



[6] Aep Kusnawan et. al., Komunikas dan Penyiaran Islam, (Bandung: Benang Merah, tt), h.100-101



[7] Wafyah dan Awaludin Pimay, Sejarah Dakwah, Cet.I, (Semarang: RaSAIL, 2005), h.13



[8] Aep Kusnawan et. al., Op.Cit., 96




Dikirim pada 24 Januari 2011 di Dakwah-Komunikasi
comments powered by Disqus
Profile

>>> Username : Rayhania >>> Nickname : IU >>> My name : Ayu ريحاني Thamreen >>> Fullname : سري ايو ريحانية بنت محمد حسني تمرين More About me

Page
Archive
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 199.784 kali


connect with ABATASA