0
23 Jan
Dikirim pada 23 Januari 2011 di Pengetahuan Agama (religion)
 
 
A.    Definisi Asbabun Nuzul
 
       Pengertian Asbabun Nuzul adalah:
“Semua yang disebabkan olehnya diturunkan suatu ayat atau beberapa ayat yang mengandung sebabnya, memberi jawaban terhadap sebabnya, atau menerangkan hukumnya, pada saat terjadiperistiwa itu.” [1]
       Fakta sejarah menunjukkan, bahwa turunnya ayat-ayat al-Qur’an itu ada dua macam, yaitu:
  1. Turunnya dengan didahului oleh suatu sebab.
  2. Turunnya tanpa didahului oleh suatu sebab.
Ad. 1. Ayat-ayat yang Turun dengan Didahului Suatu Sebab
       Dalam hal ini ayat-ayat tasyri’iyyah atau ayat-ayat hukum merupakan ayat-ayat yang pada umumnya mempunyai sebab turunnya. Jarang (sedikit) sekali ayat-ayat hukum yang turun tanpa suatu sebab. Dan sebab turunnya ayat itu adakalanya berupa peristiwa yang terjadi di masyarakat Islam dan adakalanya berupa pertanyaan dari kalangan Islam atau dari kalangan lainnya yang ditujukan kepada Nabi.
       Contoh ayat yang turun karena ada suatu peristiwa, ialah surat al-Baqarah ayat 221. Turunnya ayat tersebut adalah, karena ada peristiwa sebagai berikut: Nabi mengutus Murtsid al-Ghanawi ke Mekah untuk tugas mengeluarkan orang-orang Islam yang lemah. Setelah ia sampai di sana, iadirayu oleh seorang wanita musyrik yang cantik dan kaya, tetapi ia menolak, karena takut kepada Allah. Kemudian wanita tersebut datang lagi dan minta agar dikawini. Murtsid pada prinsipnya dapat menerimanya, tetapi dengan syarat setelah mendapat persetujuan dari Nabi. Setelah dia kembali ke Madinah, dia menerangkan kasus yang dihadapi dan minta izin kepada Nabi untuk menikah dengan wanita itu. Maka turunlah surat al-Baqarah ayat 221.
Ad. 2. Ayat-ayat yang Turun Tanpa Didahului Sesuatu Sebab
       Ayat-ayat semacam ini banyak terdapat di dalam al-Qur’an, sedang jumlahnya lebih banyak daripada ayat-ayat hukum yang mempunyai Asbabun Nuzul. Misalnya ayat-ayat yang mengisahkan hal-ihwal umat-umat terdahulu beserta para Nabinya, menerangkan peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lalu, atau menceritakan hal-hal yang ghaib, yang akan terjadi, atau menggambarkan keadaan hari Kiamat beserta nikmat surga dan siksaan neraka.
       Ayat-ayat demikian itu diturunkan oleh Allah bukan untuk memberi tanggapan terhadap suatu pertanyaan atau suatu peristiwa yang terjadi pada waktu itu, melainkan semata-mata untuk memberi petunjuk kepada manusia, agar menempuh jalan yang lurus. Allah menjadikan ayat-ayat ini mempunyai hubungan menurut konteks Qur’ani dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya.
       Namun demikian, ada juga ayat-ayat tentang kisah yang diturunkan karena ada sebab. Tetapi ayat semacam ini sedikit sekali. Misalnya turunnya surat Yusuf, seluruhnya adalah karena ada keinginan yang serius daripada sahabat yang disampaikan kepada Nabi, agar Nabi berkenan bercerita yang mengandung pelajaran dan peringatan. Surat Yusuf tersebut diturunkan oleh Allah secara lengkap (mulai ayat satu hingga akhir). Adapun sahabat yang menceritakan latar belakang turunnya ayat-ayat dari surat Yusuf itu, adalah Sa’ad bin Abu Waqqas.[2]
 
 
B.     Pengetahuan Sahabat tentang Asbabun Nuzul
 
       Sahabat Nabi merupakan suatu generasi umat yang dapat menyaksikan turunnya ayat-ayat al-Qur’an. Tetapi, walaupun demikian, tiada seorang sahabat pun yang bisa menyaksikan turunnya semua ayat al-Qur’an beserta Asbabun Nuzul. Hal ini wajar, karena ayat-ayat al-qur’an itu diturunkan secara berangsur-angsur dalam waktu kurang-lebih 23 tahun, sedang tempat-tempat dan peristiwa-peristiwanya berbeda-beda. Demikian pula, tidak semua dan tidak selalu ayat-ayat itu turun dengan didahului oleh suatu sebab. Karena itu, ucapan beberapa sahabat yang disertai sumpah yang bisa memberi kesan seolah-olah mereka mengetahui semua yang turun beserta Asbabun Nuzulnya, maka hendaklah kita memahaminya tidak secara harfiyah (letterlijk).[3]
 
 
C.    Pentingnya Ilmu Asbabun Nuzul
 
       Ilmu Asbabun Nuzul itu besar sekali manfaatnya bagi setiap orang yang hendak menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an, karena ilmu ini dapat membantu seseorang agar dapat memahami ayat al-Qur’an secara tepat dan sekaligus dapat menghindarkan dia dari salah pengertian.
       Mengenai ilmu Asbabun Nuzul ini, al-Wahidi (wafat tahun 427 H.) berkata:
“Tidak mungkin mengetahui tafsirnya ayat, tanpa mengetahui kisah dan keterangan turunnya.”
       Ibnu Taimiyah (wafat tahun 726 H.) menegaskan:
“Mengetahui sebab turunnya ayat dapat menolong untuk memahami ayat, karena sesungguhnya mengerti sebabnya dapat menghasilkan pengetahuan tentang akibatnya.”
       Ibnu Daqiqil ‘id (wafat tahun 702 H.) menegaskan pula:
“Mengetahui sebab turunnya ayat, adalah jalan yang kuat dalam memahami maksud-maksud al-Qur’an.”
       Demikianlah kepentingan Ilmu Asbabun Nuzul menurut pandangan para ulama. Karena itu, tidak mengherankan bahwa di kalangan ulama al-Muhaqqiqun sampai mengharamkan seorang yang berani menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an tanpa mengetahui Asbabun Nuzul.
       Fakta sejarah menunjukkan, bahwa tidak mengetahui sebab turunnya ayat dapat menjerumuskan kita ke dalam kesalahan yang besar dalam memahami al-Qur’an.[4]
 
 
D.    Nilai Riwayat-riwayat tentang Asbabun Nuzul
 
       Keterangan-keterangan dan riwayat-riwayat tentang Asbabun Nuzul itu tidak semua bernilai sahih (benar), seperti halnya riwayat-riwayat hadits. Karena itu, perlu dilakukan penelitian yang seksama terhadap keterangan-keterangan (riwayat-riwayat) tentang Asbabun Nuzul, baik tentang sanad-sanadnya (perawi-perawi) maupun matan-matannya (isi keterangannya).
       Sehubungan dengan hal tersebut, al-Suyuti telah mengkritik beberapa kitab yang membahas Asbabun Nuzul. Misalnya kitab Asbabun Nuzul karangan al-Wahidi (wafat tahun 724 H.) dan kitab Ikhtisar Asbabun Nuzul karangan al-Ja’bari (wafat tahun 732 H.), karena dipandang memuat riwayat-riwayat yang tidak sahih. Kemudian al-Suyuti sendiri menyusun sebuah kitab yang khusus membahas Asbabun Nuzul dalam kitabnya, Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul. Kitab ini dicetak di Bulaq pada tahun 1280 H., di Hamisy (tepi) Tafsir al-Jalalain.
       Keterangan-keterangan (riwayat-riwayat) tentang Asbabun Nuzul yang dipandang tidak sahih itu, disebabkan tidak sesuai dengan fakta sejarah, tidak rasional (logis), atau terdapat hal-hal yang berlebih-lebihan (luar biasa) yang bersifat sensasional, atau peristiwa-peristiwa yang langka terjadinya.[5]


    [1] Prof.Drs.H.Masjfuk Zuhdi, Pengantar Ulumul Qur-an, Surabaya: Karya Abditama, 1997, h.36
    [2] Ibid., h.36-39
    [3] Ibid., h.40
    [4] Ibid., h.41-42

    [5] Ibid., h.44-45 



Dikirim pada 23 Januari 2011 di Pengetahuan Agama (religion)
comments powered by Disqus
Profile

>>> Username : Rayhania >>> Nickname : IU >>> My name : Ayu ريحاني Thamreen >>> Fullname : سري ايو ريحانية بنت محمد حسني تمرين More About me

Page
Archive
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 68.943 kali


connect with ABATASA